Gema sirine polisi yang asli kini benar-benar mengepung gang ruko. Cahaya biru dan merah berputar-putar, memantul di dinding-dinding gang yang kusam. Iptu Yanto turun dari mobil patroli dengan langkah tegap, senjatanya masih di dalam sarung, namun wajahnya menunjukkan ketegasan yang tak bisa dibantah. Ia melihat Bento yang masih bersimpuh di depan pintu ruko, meracau tentang hantu dan dermaga, sementara tangannya menutupi telinga rapat-rapat.
"Angkat tangan, Bento! Kamu ditahan atas dugaan pembunuhan berencana dan keterlibatan organisasi ilegal!" teriak Iptu Yanto.
Petugas kepolisian segera meringkus Bento yang sudah tidak melawan lagi. Pria yang tadinya begitu perkasa itu kini tampak seperti cangkang kosong yang hancur. Saat Bento diseret masuk ke mobil tahanan, Iptu Yanto melangkah masuk ke dalam ruko kami yang sudah berantakan. Ia menatapku dan Karsih dengan tatapan yang sulit diartikan—antara curiga, bingung, dan sedikit rasa hormat.
"Mamet, Karsih. Kalian berdua aman sekarang," ucap Iptu Yanto pelan. Matanya kemudian tertuju pada koper hitam yang tergeletak di meja kerja Karsih. "Jadi, ini benda yang membuat seluruh Jakarta Selatan gempar semalaman?"
Aku mengangguk lemah. "Iya, Pak. Itu koper milik... almarhum Don Carlo."
Iptu Yanto memakai sarung tangan karet putih. Ia mendekati koper itu dengan sangat hati-hati. Meskipun gembok kuningan di luar sudah terbuka, koper itu tetap terlihat misterius. Seolah-olah benda itu menyimpan beban sejarah yang berat.
"Boleh saya buka?" tanya Yanto, lebih sebagai formalitas daripada permintaan izin.
"Silakan, Pak. Kami juga ingin tahu apa sebenarnya yang kami pertaruhkan nyawa untuk ini," jawabku sambil merangkul bahu Karsih.
Don Carlo muncul di sudut ruangan, sosoknya sangat samar, hampir transparan sempurna. Ia menatap koper itu dengan tatapan yang sangat melankolis. Ujang juga ikut mengintip dari balik tumpukan kabel audio, matanya bulat penuh rasa penasaran.
Iptu Yanto menarik napas panjang, lalu membuka penutup kulit kaku koper itu secara paksa.
Semua orang di ruangan itu menahan napas. Kami mengharapkan kilauan emas, tumpukan uang dollar yang diikat rapi, atau mungkin daftar rahasia aset properti bernilai triliunan. Namun, saat koper itu terbuka sepenuhnya, keheningan panjang menyergap ruangan.
Di dalam koper itu tidak ada uang. Tidak ada perhiasan.
Yang ada hanyalah tumpukan kertas-kertas tua yang ujungnya sudah menguning. Ada ratusan foto yang diikat dengan karet gelang yang hampir getas. Iptu Yanto mengambil satu ikat foto dan membukanya di atas meja.
"Ini... ini foto seorang anak perempuan?" gumam Iptu Yanto bingung.