Keheningan yang ditinggalkan Iptu Yanto terasa jauh lebih berat daripada kebisingan sirine polisi tadi. Di atas meja kayu yang retak, hanya tersisa beberapa lembar foto yang sempat terjatuh dari koper sebelum dibawa pergi sebagai barang bukti. Aku memungut salah satu foto itu: seorang gadis muda dengan toga wisuda, tersenyum cerah di depan sebuah gedung universitas negeri di Jakarta.
Don Carlo mendekat. Sosoknya kini tampak lebih nyata daripada sebelumnya, namun auranya sangat menyedihkan. Ia menatap foto itu dengan tatapan yang bisa menghancurkan hati siapa pun yang melihatnya.
"Dia mengajar di Panti itu Met," bisik Don Carlo. Suaranya serak, penuh dengan kebanggaan sekaligus kepedihan yang mendalam. "Dia guru Matematika. Dia sangat pintar, persis seperti Saya. Dia mencintai angka, tapi bukan angka untuk menghitung keuntungan haram seperti saya."
Tiba-tiba, sesuatu yang mengerikan terjadi. Dari lubang mata transparan Don Carlo, mengalir cairan kental berwarna merah pekat. Arwah sang Maestro menangis, dan itu adalah air mata darah. Cairan itu tidak jatuh ke lantai, melainkan menguap menjadi asap tipis sebelum menyentuh tanah, menciptakan aroma karat besi yang tajam di udara ruko.
Don Carlo jatuh berlutut di tengah ruko. "Saya membiayai sekolahnya lewat tangan ketiga, Met. Dia tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya. Dia hanya tahu ayahnya adalah seorang pelaut yang hilang di samudera. Saya terlalu takut untuk mendekat. Saya takut dosa-dosa saya akan menular kepadanya jika saya menyentuh rambutnya."
"Don, tenang, Don..." aku mencoba menenangkannya, meski tanganku hanya menembus udara dingin saat mencoba menyentuh bahunya.
"Bagaimana bisa saya tenang?!" raung Don Carlo, air mata darahnya semakin deras. "Bento tahu tentang dia! Selama lima tahun ini, alasan saya tidak bisa melawan balik dengan maksimal adalah karena Bento mengancam akan mengirimkan orang untuk 'mengajar' putri saya jika saya muncul kembali sebagai hantu yang mengganggu bisnisnya!"
Aku dan Karsih tertegun. Jadi itu alasan sebenarnya Don Carlo sering tampak linglung dan tidak berdaya saat Bento muncul? Dia bukan hanya pikun karena trauma kematian, tapi dia ditekan oleh rasa takut yang paling primitif: keselamatan anaknya.