Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #34

33. Taring yang Terluka

Aku bisa merasakan sisa adrenalin yang masih berdesir di ujung jari-jariku saat motor Corolla tua ini kubawa membelah kemacetan Jakarta. Karsih memeluk pinggangku erat, diam seribu bahasa. Di sampingku, Don Carlo melayang dengan wajah yang tak lagi pikun, melainkan tegang dan waspada.

"Met," suara Don Carlo terdengar berat di telingaku, "Bento tidak akan membiarkan ini berakhir di tangan polisi. Aku tahu cara dia berpikir. Dia merasa kerdil setelah dikelabui oleh koper itu. Dan orang seperti Bento... lebih baik membakar seluruh kota daripada merasa malu."

Benar saja. Pikiranku langsung melayang ke ruang interogasi yang baru saja kutinggalkan di markas Polres. Melalui penglihatan batin yang dipicu oleh resonansi Don Carlo, aku bisa melihat apa yang sedang terjadi di sana sekarang.

Bento duduk di seberang Iptu Yanto. Aku bisa melihat urat-urat di pelipisnya menonjol, seolah siap meledak. Di depannya, foto-foto masa kecil Kaela Carlvenna Soffia dan surat-surat cinta Don Carlo berserakan.

"Hanya ini?" suara Bento terdengar seperti gesekan pisau di atas batu asah. "Hanya sampah kertas ini?!"

"Ini adalah bukti bahwa Don Carlo punya hati, Bento. Sesuatu yang tidak kamu miliki," jawab Iptu Yanto dengan nada meremehkan.

BRAKK!

Bento menghantam meja besi itu hingga borgol di tangannya berdenting nyaring. "Hati tidak bisa membayar hutang! Hati tidak bisa menggerakkan organisasi! Dia sudah mempermainkanku selama lima tahun! Dan dukun kampung itu... Mamet... dia membantu orang mati untuk meludahi mukaku!"

Aku bergidik saat "melihat" tatapan Bento di dalam sel sementara itu. Matanya merah, bukan hanya karena sisa semprotan merica Karsih, tapi karena kebencian murni. Dia tidak terlihat seperti orang yang sedang kalah. Dia terlihat seperti predator yang sedang menghitung detik untuk menerjang.

"Kalian pikir tembok ini bisa menahanku?" desis Bento kepada Yanto. "Saya punya orang-orang di setiap sudut kota ini yang berhutang nyawa padaku. Mamet tidak akan sempat menikmati uang receh dari koper itu. Saya akan memastikan dia melihat adiknya mati perlahan sebelum saya kirim dia menemui Carlo di neraka."

Tiba-tiba, penglihatanku terputus. Aku kembali ke realita jalanan Jakarta yang bising. Aku hampir saja menabrak sebuah angkot yang berhenti mendadak.

"Mas! Fokus!" teriak Karsih sambil memukul bahuku.

"Maaf, Sih. Mas cuma... Mas ngerasa Bento nggak bakal diam," kataku dengan napas memburu.

Don Carlo mendarat di atas jok motor di depanku, wajahnya memucat—sesuatu yang jarang terjadi pada hantu. "Dia sudah bergerak, Met. Dia menggunakan koneksi lama yang tidak terendus polisi. Ada kode yang dia kirimkan lewat pengacaranya tadi. Perintahnya jelas: Hancurkan Ruko No. 13 dan semua yang ada di dalamnya."

Jantungku berdegup kencang. Bento murka bukan hanya karena hartanya tidak ada, tapi karena ego dan harga dirinya hancur berantakan. Baginya, aku adalah simbol kekalahannya yang paling memalukan—seorang dukun gadungan yang berhasil menjatuhkan tangan kanan Maestro Sektor Tujuh.

Lihat selengkapnya