Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #35

34. Frekuensi di Balik Layar

Ketukan di pintu besi ruko itu terasa seperti dentuman palu di atas peti mati. Aku berdiri membeku di tengah kegelapan, mengganggam keris panjang yang terasa dingin. Di sudut ruangan Karsih masih berkutat dengan laptop barunya, cahaya biru di layar memantul di kacamata tebalnya, memberikan kesan magis yang janggal.

"Mas, mereka sudah mulai merusak kunci pintu depan," bisik Karsih. Suaranya tidak segemetar tadi. Ada nada dingin yang muncul, nada yang baru kusadari ada pada adikku.

"Karsih, dengerin Mas. Begitu mereka masuk, kamu lari ke lantai dua, kunci pintu balkon, jangan turun sampai Mas panggil!." Perintahku dengan suara tertahan.

Karsih tidak bergerak. Ia malah memutar laptopnya ke arahku. "Mas, jangan sok jadi pahlawan dulu. Lihat ini!."

Aku mendekat dan mataku terbelalak melihat apa yang ada di layar. Sebuah antar muka perangkat lunak yang rumit menampilkan gelombang suara hijau yang naik turun secara real-time. Di sampingnya, ada sebuah peta digital dengan titik merah yang berkedit di depan lokasi ruko kami.

"Ini apa, Sih?"

"Penyadap frekuensi radio GSM, Mas. Aku pasang alat itu di HP Bento waktu dia pertama kali datang ke sini dan pamer kekayaan di depan kita," jawab Karsih datar. "Aku memodifikasi pemancar audio di meja kerjaku supaya bisa menangkap sinyal terenkripsi dari HP-nya setiap kali dia ada di radius satu kilometer. Salama ini, aku tahu semua rencana dia."

Aku menatap adikku seolah-oleh adalah orang asing. Selama ini aku mengira dialah yang harus kulindungi, gadis kecil yang hanya tahu cara membetulkan speaker. Ternyata, di balik sifat pendiamnnya, dia telah membangun jaringan laba-laba digital yang menjerat salah satu mafia paling berbahaya di Jakarta setelah Don Carlo dan Don Mario.

"Kamu menyadap Bento? Sejak kapan?"

"Sejak dia mengancam mau potong jari Mas kalau Koper nya belum ketemu," Karsih menekan sebuah tombol. "Dan bukan cuma itu. Setiap rekaman pembicaraan dia, setiap koordinat yang dia kunjungi, otomatis terkirim ke server pribadi yang aku bagikan aksesnya ke email rahasia Iptu Yanto."

Don Carlo, yang melayang di dekat langit-langit, menunduk menatap Karsih dengan tatapan kagum. "Gadis ini... dia memiliki mata dan telinga di tempat yang tidak bisa di jangkau oleh arwah sekalipun."

"Jadi Pak Yanto tahu kita di sini?Dia tahu Bento akan datang?" tanyaku penuh harap.

Lihat selengkapnya