Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #36

35. Simfoni Neraka di Ruko No. 13

Begitu lampu padam, kegelapan di dalam ruko terasa lebih pekat dari malam yang paling buta. Bento mendengus, suara kokangan pistolnya terdengar tajam di tengah sunyi yang janggal. "Trik murahan, Mamet! Kamu pikir kegelapan bisa menyelamatkanmu?"

Aku tidak menjawab. Aku menahan napas, berjongkok di balik meja kayu jati yang sudah kupasangi lapisan plat besi di baliknya. Di atas sana, di lantai dua, aku tahu Karsih sedang menekan tombol pertama.

HUMMMMMM...

Sebuah suara frekuensi rendah—infrasound—mulai berdenyut. Suara itu tidak terdengar oleh telinga, tapi bisa dirasakan oleh organ dalam. Aku melihat tangan Bento yang memegang pistol mulai sedikit gemetar. Itulah efek frekuensi 19Hz: kecemasan murni yang dipicu secara biologis.

"Apa... apa ini? Kenapa dadaku sesak?" geram salah satu anak buah Bento yang berdiri di dekat pintu.

"Diam! Itu cuma mesin!" teriak Bento, meski suaranya mulai naik satu oktav.

Tiba-tiba, mesin asap di empat sudut ruangan menyemburkan uap tebal yang sudah kucampur dengan bubuk belerang dan es kering. Asap itu bergulung-gulung, menciptakan layar putih yang menggantung di udara.

Karsih menyalakan proyektor laser. Detik berikutnya, dinding ruko seolah menghilang. Proyeksi video 3D yang sudah kami siapkan memunculkan gambaran air laut yang hitam dan bergolak di sekeliling kami. Visual ini begitu nyata berkat asap yang bergerak, membuat siapa pun yang berdiri di tengah ruko merasa seolah mereka sedang tenggelam di tengah dermaga Sunda Kelapa.

"Bento..."

Suara itu bukan dari speaker. Itu adalah suara Don Carlo yang murni, namun diperkeras oleh sistem audio Karsih hingga terdengar seperti suara dari dasar sumur yang sangat dalam.

Don Carlo memadat di tengah kepulan asap. Berbeda dengan biasanya, kali ini dia membiarkan wujudnya terlihat sangat mengerikan. Wajahnya pucat pasi dengan luka tembak di punggung yang mengeluarkan cahaya biru pucat. Mata putihnya menatap Bento dengan dingin.

"SETAN! TEMBAK DIA!" Bento berteriak histeris.

DOR! DOR! DOR!

Kilatan api dari moncong senjata Bento menerangi ruko sesaat. Peluru-peluru itu menembus asap, menembus bayangan Don Carlo, dan menghantam dinding beton. Don Carlo tidak bergeming. Ia melayang mendekat, melewati peluru-peluru itu seolah mereka hanyalah debu.

"Peluru tidak bisa membunuh orang yang sudah kau khianati, Bento," ucap Don Carlo. Di belakangnya, Karsih memutar audio suara ombak yang menghantam beton dan teriakan putus asa yang berlapis-lapis.

Ujang ikut beraksi. Dia melesat di antara kaki anak buah Bento dengan kecepatan tinggi, menyebarkan lendir boba gaibnya yang luar biasa licin. Dalam kegelapan yang diselingi lampu strobe (lampu kedip cepat) yang dinyalakan Karsih, kedua anak buah Bento kehilangan keseimbangan.

"Lantai ini... lantainya mencair!" teriak salah satu dari mereka saat ia terpeleset dan jatuh terjengkang.

Karsih mengubah visual proyektor. Sekarang, dinding ruko tampak seperti tangan-tangan hitam panjang yang keluar dari dalam lumpur, berusaha menggapai kaki mereka. Ini adalah trik optik yang digabung dengan halusinasi akibat belerang yang mereka hirup.

"Tolong! Tanganku ditarik!" salah satu anak buah Bento melepaskan senjatanya, merangkak membabi buta menuju pintu yang entah kenapa terasa sangat jauh.

Bento berdiri sendirian di tengah ruangan. Ia adalah pria yang keras, tapi logikanya mulai runtuh. Ia melihat Don Carlo yang kini membesar, sosoknya memenuhi langit-langit ruko, menatapnya dengan mulut yang terbuka lebar mengeluarkan asap hitam.

"Mamet! Hentikan ini! Aku tahu ini semua trikmu!" Bento berteriak, tapi matanya berputar liar mencari pintu keluar yang kini tertutup oleh proyeksi dinding bata yang kokoh.

Lihat selengkapnya