Aku berdiri di ambang pintu ruko yang berantakan, napasku masih menderu seperti mesin tua yang dipaksa bekerja melampaui batas. Di tanganku, keris hiasan itu terasa licin karena keringat dingin. Aku melihat ke arah jalan raya, di mana siluet Bento tampak makin menjauh, berlari limbung seolah-olah sedang dikejar oleh pasukan malaikat maut. Suara teriakannya yang histeris masih menggantung di udara malam Jakarta yang pengap, bercampur dengan aroma sulfur dan sirup yang tadi kami semprotkan.
"Mas... kita berhasil?" Suara Karsih terdengar dari arah tangga. Dia turun perlahan, wajahnya pucat tapi matanya berkilat puas sambil mendekap laptopnya.
"Kayaknya begitu, Sih," jawabku lirih. Aku menoleh ke samping. Don Carlo berdiri di sana, menatap pintu ruko yang terbuka lebar. Sosoknya kini tampak lebih padat, lebih tenang, seolah beban lima tahun kematiannya baru saja terangkat. Di bawah kaki kami, Ujang masih sibuk menjilati sisa boba yang berceceran di lantai, tidak sadar bahwa dia baru saja membantu meruntuhkan salah satu dinasti kriminal terbesar di kota ini.
"Don," panggilku dalam hati. "Dia lari ke arah polisi."
"Dia mencari tempat yang paling terang, Met," sahut Don Carlo tanpa menoleh. "Orang yang hatinya gelap akan selalu ketakutan pada bayangannya sendiri saat lampu dinyalakan. Dan malam ini, kita menyalakan lampu paling terang di dalam kepalanya."
Melalui hubungan batin yang masih terjalin karena energi Don Carlo yang tersisa, aku bisa "melihat" apa yang terjadi beberapa blok dari sini. Pandanganku seolah terbagi; satu kakiku di ruko, tapi jiwaku mengikuti langkah Bento yang malang.
Bento sampai di perempatan besar. Cahaya biru dan merah dari mobil patroli Iptu Yanto memantul di aspal yang basah. Bagi orang normal, itu adalah tanda peringatan. Bagi Bento, itu adalah cahaya penyelamat dari neraka yang baru saja ia rasakan di ruko kami.
"Tolong! Tolong saya!" raung Bento. Dia jatuh terjembap tepat di depan moncong mobil polisi yang baru saja berhenti.
Iptu Yanto turun dengan sigap, senjatanya terhunus. "Bento! Angkat tangan! Jangan bergerak!"
Namun, yang kulihat melalui mata batin adalah sesuatu yang memilukan sekaligus mengerikan. Bento tidak mengangkat tangan. Dia malah merangkak maju, memeluk sepatu lars Iptu Yanto dengan sisa tenaga yang ada. Wajahnya yang dulu angkuh kini penuh ingus dan air mata, tercoreng cairan merah amis yang dikiranya darah abadi.
"Pak Polisi... borgol saya sekarang! Masukkan saya ke sel yang paling dalam!" Bento menjerit, suaranya pecah seperti kaca yang diinjak. "Dia ada di sana! Carlo ada di belakang saya! Dia membawa mendoan beracun! Dia bilang saya harus makan dosanya selamanya!"
Iptu Yanto tertegun. Aku bisa merasakan kebingungannya. Dia sudah mengejar Bento bertahun-tahun, tapi dia tidak pernah membayangkan pria ini akan menyerahkan diri dalam kondisi sehancur ini.
"Bento? Kamu bicara apa?" Yanto bertanya, suaranya sedikit melunak karena heran.