Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jendela ruko No. 13 yang kini terasa begitu sunyi. Tidak ada lagi getaran frekuensi rendah, tidak ada lagi bau belerang yang mencekik, dan yang paling terasa adalah hilangnya hawa kemarahan yang biasanya menyelimuti ruangan ini. Aku duduk di depan meja jati tuaku, menatap koper hitam yang sudah dibersihkan dari debu pemakaman.
Don Carlo berdiri di sudut ruangan. Sosoknya kini sangat tipis, hampir seperti kabut yang diterpa cahaya. Wajahnya tidak lagi mengerikan seperti saat ia menghantui Bento semalam; ia kembali menjadi sosok pria berwibawa dengan tatapan mata yang dalam dan teduh.
"Mamet," suaranya terdengar seperti bisikan angin di atas permukaan laut. "Tugasmu hampir selesai. Kamu telah meruntuhkan tembok ketakutan yang dibangun Bento selama lima tahun. Sekarang, tiba saatnya kamu meruntuhkan tembok kerinduan yang memisahkan aku dengan putriku."
Aku menunduk, tanganku mengusap permukaan koper. "Don, saya masih tidak menyangka. Seorang penipu seperti saya... bisa sampai di titik ini."
"Kamu bukan penipu malam itu, Met. Kamu adalah tangan kanan keadilan," Don Carlo mendekat, lalu menunjuk ke arah laci kedua meja kerjaku. "Ingat apa yang kukatakan semalam? Buka bagian bawah laci itu. Sekarang."
Aku menarik laci itu hingga lepas dari relnya. Di bagian dasar kayu yang tersembunyi, aku menemukan sebuah amplop kecil yang ditempel dengan selotip hitam. Di dalamnya, ada sebuah kunci perak kuno dengan ukiran jangkar kecil dan selembar kertas berisi deretan angka koordinat serta kode unik: 12-08-45-07.
"Itu adalah kunci Safe Deposit Box di Bank Pusat," bisik Don Carlo. "Bento mengira harta asliku ada di koper itu. Dia salah. Koper itu berisi hartaku yang paling berharga sebagai manusia, tapi kunci di tanganmu adalah hartaku yang paling berharga sebagai pengusaha. Di dalamnya ada emas batangan dan sertifikat tanah yang sah. Ambillah, Met. Itu upahmu. Gunakan untuk melunasi hutangmu dan pastikan Karsih menjadi teknisi audio terbaik di negeri ini."
Aku tertegun, lidahku kelu. Nilainya pasti sangat fantastis, jauh melampaui hutang pinjol yang selama ini mencekik leherku. Namun, sebelum aku sempat memprotes, Don Carlo mengangkat tangannya.
"Syaratnya hanya satu: sampaikan koper itu kepada Maria. Jangan biarkan ada satu pun surat yang hilang. Biarkan dia tahu siapa ayahnya yang sebenarnya."
Aku dan Karsih berangkat pagi itu juga. Koper hitam itu aku ikat erat di jok belakang motor Corolla-ku. Karsih memeluk pinggangku, tas punggungnya berisi laptop yang kini sudah tidak digunakan untuk menyadap, melainkan untuk mencatat alamat yang diberikan Don Carlo.
"Mas, aku deg-degan," bisik Karsih di tengah bisingnya jalanan Jakarta. "Gimana kalau dia nggak percaya sama kita? Kita ini dukun, Mas. Dukun gadungan lagi."
"Kita bawa bukti, Sih. Bukan cuma omongan," jawabku mantap, meski hatiku sendiri berdegup kencang.
Di atas kami, Don Carlo dan Ujang melayang mengikuti laju motor. Ujang tampak ceria, sesekali ia hinggap di pundak Karsih atau mencoba menangkap asap knalpot mobil. Don Carlo lebih banyak diam, matanya menatap ke depan, menembus deretan gedung tinggi, seolah jiwanya sudah melesat lebih dulu menuju tempat putrinya berada.
Kami sampai di sebuah perumahan asri di pinggiran Jakarta Timur. Alamat itu membawa kami ke sebuah rumah mungil dengan cat putih bersih dan taman bunga yang terawat di depannya. Di pagar rumah itu tertulis sebuah papan kayu kecil: "Kaela Carlvenna Soffia, S.Pd – Guru Matematika".
Aku turun dari motor dengan kaki yang terasa berat. Aku mengambil koper itu, menarik napas panjang, dan melangkah menuju pagar. Seorang wanita muda keluar dari pintu rumah. Ia mengenakan kemeja rapi, rambutnya diikat satu, dan wajahnya... Ya Tuhan, ia adalah cerminan sempurna dari foto bayi yang ada di dalam koper, hanya saja sekarang ia telah tumbuh menjadi wanita yang anggun dan berwibawa.