Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #39

38. Pelunasan di Atas Tanah Merah

Matahari pagi di Jakarta biasanya terasa seperti ancaman bagi orang-orang seperti aku—penanda bahwa bunga pinjaman akan naik, bahwa debt collector akan mulai mengirim pesan teror, dan bahwa aku harus kembali memutar otak untuk menipu orang demi sesuap nasi. Namun, pagi ini berbeda. Cahaya yang masuk melalui celah pintu ruko No. 13 terasa hangat, hampir seperti sapaan kawan lama.

Di atas meja jati yang biasanya penuh dengan kemenyan dan minyak wangi palsu, kini hanya ada sebuah laptop milik Karsih dan kunci perak kuno pemberian Don Carlo. Semalam, setelah kembali dari rumah Kaela Soffia, aku hampir tidak bisa tidur. Bayangan tangis haru Kaela dan cahaya perpisahan Don Carlo masih membekas di kelopak mataku.

"Mas, sudah siap?" suara Karsih memecah lamunanku. Dia sudah rapi, mengenakan kemeja yang paling bersih yang dia miliki.

"Siap, Sih. Ayo kita selesaikan rantai setan ini," jawabku mantap.

Hal pertama yang kami lakukan bukanlah pergi ke bank, melainkan duduk di depan laptop. Karsih membuka sebuah folder khusus yang dia beri nama "Daftar Hutang Mas Mamet". Di sana, terderet belasan aplikasi pinjaman online dengan bunga yang mencekik leher. Totalnya? Cukup untuk membeli sebuah mobil bekas yang masih layak jalan. Selain itu, ada satu catatan tebal bertinta merah: Tunggakan Semesteran Karsih. Selama bertahun-tahun, angka-angka ini adalah hantu yang lebih nyata daripada Don Carlo atau Ujang.

Aku mengeluarkan handphone-ku. Jantungku berdegup kencang saat aku membuka aplikasi perbankan. Saldo di sana, hasil dari pencairan sebagian emas di safe deposit box Don Carlo kemarin sore, terlihat begitu tidak nyata. Ada begitu banyak angka nol di sana.

"Satu per satu ya, Mas," bisik Karsih.

Aku menekan tombol pelunasan pada aplikasi pertama. Klik. Muncul notifikasi: "Selamat! Pinjaman Anda Telah Lunas".

Aku merasa satu beban seberat batu bata terangkat dari pundakku. Kami lanjut ke aplikasi kedua, ketiga, hingga yang kesepuluh. Setiap kali pesan "Lunas" itu muncul, aku merasa nafasku menjadi lebih panjang. Aku tidak perlu lagi mematikan telepon saat ada nomor tidak dikenal yang masuk. Aku tidak perlu lagi bersembunyi di balik lemari ruko saat ada orang berbadan besar mencariku.

"Selesai, Mas," kata Karsih dengan mata berkaca-kaca. "Mas Mamet sekarang... bebas."

Aku menyandarkan punggungku ke kursi, menutup wajah dengan kedua tangan. Aku menangis. Bukan tangis kesedihan, tapi tangis seorang pria yang baru saja keluar dari penjara tanpa jeruji besi yang selama ini mengurung hidupnya.

Lihat selengkapnya