Sore itu, ruko No. 13 terasa sangat tenang. Tidak ada lagi kepulan asap mesin yang menyengat, tidak ada lagi dentuman frekuensi rendah dari speaker-speaker Karsih yang memekakkan telinga. Aku duduk di sofa tua yang kulitnya sudah pecah-pecah, menikmati secangkir kopi hitam tanpa gula. Karsih sedang di kampus, menyelesaikan urusan administrasi setelah pelunasan tunggakannya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, hatiku terasa ringan, seolah-olah beban gravitasi Jakarta tidak lagi menarikku ke bawah.
Namun, di tengah kedamaian itu, udara di ruangan tiba-tiba berubah. Suhu turun beberapa derajat, dan aroma mawar kering yang samar mulai tercium—aroma yang kini sangat kukenali.
Aku menoleh ke arah meja praktik. Di sana, di bawah cahaya sore yang menerobos celah ventilasi, sosok itu muncul kembali. Don Carlo berdiri dengan setelan jas hitam yang rapi, tanpa noda darah, tanpa luka tembak di punggungnya. Wajahnya terlihat jauh lebih muda, seolah-olah semua beban dosa dan penderitaannya telah dicuci bersih oleh air mata putrinya tadi pagi.
"Don?" suaraku tercekat. "Saya pikir Anda sudah... Anda tahu, pergi ke tempat yang seharusnya."
Don Carlo tersenyum tipis. "Seorang kapten tidak akan meninggalkan kapal tanpa memastikan awaknya benar-benar selamat, Met. Aku hanya kembali untuk satu hal terakhir."
Ia melayang mendekat, duduk di kursi kayu di depanku. Meski ia hantu, kehadirannya terasa sangat nyata, sangat manusiawi. Tidak ada lagi aura intimidasi sang Maestro Sektor Tujuh. Yang ada hanyalah seorang pria tua yang merindukan kedamaian.
"Aku sudah melihat Kaela dari kejauhan sore ini,," katanya dengan suara yang lembut. "Dia sedang membaca ulang surat-surat itu di taman belakang rumahnya. Dia menangis, tapi itu bukan tangis kesedihan yang menghancurkan. Itu adalah tangis kelegaan. Terima kasih, Mamet. Kamu telah melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh uang atau kekuasaan."
Aku menunduk, menatap cangkir kopiku. "Saya hanya menyampaikan apa yang memang milik dia, Don. Lagipula, kunci deposit box itu... itu terlalu banyak untuk saya."
"Uang itu hanyalah benda mati, Met," sela Don Carlo. "Tapi keberanianmu menghadapi Bento, kesetiaanmu pada adikmu, dan ketulusanmu menolong orang mati... itu adalah kekayaan yang tidak bisa dicairkan di bank manapun. Simpanlah. Itu bukan sekadar upah, itu adalah modal untuk menjadi manusia yang lebih baik."
Aku terdiam cukup lama. Ada rasa sesak yang aneh di dadaku. Selama berminggu-minggu ini, Don Carlo telah menjadi lebih dari sekadar "klien" gaib. Dia adalah mentor, pelindung, dan mungkin, satu-satunya orang (atau hantu) yang benar-benar mengenali siapa aku di balik kedok dukun gadungan ini.
"Don," tanyaku lirih. "Ke mana Anda akan pergi setelah ini?"
Don Carlo menatap langit-langit ruko, pandangannya seolah menembus beton dan awan. "Ada sebuah dermaga, Met. Di sana tidak ada pasang surut, tidak ada pengkhianatan, dan tidak ada lagi suara peluru. Istriku sudah menunggu di sana sejak lama. Dia mungkin akan memarahiku karena aku terlambat lima tahun, tapi aku yakin dia sudah menyiapkan kopi yang lebih enak dari kopimu ini."
Tiba-tiba, ekspresi Don Carlo berubah menjadi sendu. Ia menatap tangannya yang transparan. "Satu-satunya penyesalanku adalah... aku menghabiskan hidupku membangun kerajaan di atas pasir. Aku mengira kekuatan adalah cara untuk melindungi orang yang kucintai, padahal kekuatan itulah yang justru menjauhkan mereka dariku. Jangan ulangi kesalahanku, Mamet."