Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #41

41. Pelabuhan Terakhir di Ruko No.13

Jakarta Selatan - Satu Minggu Kemudian.

Jakarta sore ini masih tetap sama: gerah, bising, dan penuh dengan kepulan asap knalpot yang menyesakkan paru-paru. Namun, di depan ruko No. 13, pemandangannya telah berubah total. Papan nama kayu yang dulu bertuliskan "Biro Spiritual Cayaha dengan cat yang mengelupas, kini telah berganti menjadi papan akrilik elegan dengan lampu LED minimalis: "M&K: Biro Konsultasi & Solusi Spiritual Terpadu."

Aku berdiri di balik meja jati yang dulu menjadi saksi bisu kebohonganku. Meja itu kini bersih, dipoles mengkilap, tanpa ada lagi minyak wangi palsu atau kemenyan murahan. Di depanku, sebuah monitor layar lebar menampilkan jadwal janji temu.

"Mas Mamet, jangan melamun terus. Antrean sudah sampai ke tikungan warung mendoan, lho," suara Karsih memecah lamunanku.

Aku menoleh ke arah meja manajer di sudut ruangan. Adikku itu tampak sangat profesional dengan kacamata barunya dan kemeja rapi. Di depannya ada dua laptop; satu untuk mengerjakan tugas akhir kuliah Teknik Komputernya, dan satu lagi untuk mengelola database klien kami—baik yang masih bernapas maupun yang sudah jadi asap.

"Sih, kamu lihat nggak di luar?" tanyaku sambil menunjuk ke arah jendela kaca besar yang kini kami pasang di depan ruko.

"Lihat apa, Mas?"

"Antrean itu. Ada yang pakai baju belanda, ada yang kepalanya miring, ada yang baunya melati banget. Ternyata lebih capek ngurusin hantu yang minta tolong daripada dikejar-kejar penagih pinjol," keluhku sambil menyandarkan punggung ke kursi empuk yang baru kubeli dari uang warisan Don Carlo.

Karsih tertawa, suara tawa yang kini terdengar lepas tanpa beban. "Ya salah Mas sendiri. Siapa suruh pasang testimoni dari Don Carlo di dunia bawah? Sekarang semua arwah se-Jakarta tahu kalau di sini ada dukun yang nggak cuma jago akting, tapi punya hati."

Aku terdiam, menatap punggung Karsih. Melihatnya bisa kuliah dengan tenang, tanpa harus takut didatangi penagih hutang, adalah kemenangan terbesar dalam hidupku. Pikiranku mendadak melayang jauh ke masa lalu, ke sebuah rumah kontrakan sempit di gang sempit yang lebih kumuh dari ruko ini.

Aku teringat Ibu. Sosok wanita yang punggungnya selalu terlihat basah oleh keringat karena mengucek cucian orang. Ibu adalah pahlawan yang tidak pernah memakai jubah, hanya daster yang sudah tipis warnanya. Ayah meninggalkan kami saat aku baru berusia tujuh tahun dan Karsih masih merangkak. Dia pergi begitu saja, membawa semua sisa uang tabungan dan meninggalkan kami dengan tumpukan janji palsu.

"Sih," panggilku lirih. "Kamu ingat nggak waktu kita kecil, kalau hujan bocor, Ibu selalu bilang itu 'musik dari langit' supaya kita nggak takut?"

Lihat selengkapnya