Salah Sambung Arwah

slya
Chapter #42

EPILOG : Frekuensi yang Tak Terhapus

Malam telah larut di Jakarta, namun di dalam Ruko No. 13, cahaya biru dari tiga monitor komputer masih memancar kuat, menerangi wajah Karsih yang tampak serius. Sejak lulus sebagai Sarjana Ilmu Komputer dengan predikat cum laude, adikku tidak lagi hanya sekadar memperbaiki speaker rusak. Di tangannya, teknologi telah menjadi mikroskop untuk melihat dunia yang bagi orang lain adalah kegelapan total.

Aku duduk di kursi kebesaranku, menyesap kopi yang sudah dingin. Di dinding belakangku, sebuah peta Jakarta tertempel, namun bukan peta biasa. Ada titik-titik koordinat yang ditandai dengan lampu LED kecil—masing-masing mewakili "zona anomali" yang berhasil dideteksi oleh perangkat lunak buatan Karsih.

"Mas Mamet, lihat ini," bisik Karsih tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Aku mendekat. Di layar monitor, sebuah gelombang audio yang sangat ganjil bergerak naik turun secara tidak teratur. Itu bukan suara manusia, bukan pula suara angin.

"Ini adalah rekaman dari pemakaman Jeruk Purut tadi sore. Aku memasang sensor elektromagnetik baru di sana," Karsih menjelaskan sambil memperbesar grafik frekuensinya. "Ada pola yang berulang setiap 3,14 detik. Ini bukan sekadar energi sisa, Mas. Ini adalah kode."

Aku mengerutkan kening. "Kode? Kamu pikir hantu-hantu itu mulai belajar kriptografi?"

"Bukan hantu biasa, Mas," suara Karsih merendah. "Ingat apa yang dikatakan Don Carlo sebelum pergi? Bahwa ada dermaga tanpa tepi? Mas, gelombang ini... frekuensinya persis dengan sinyal radio lama yang digunakan kapal-kapal besar tahun 40-an. Dan sinyal ini tidak berasal dari bawah tanah, tapi terpantul dari atmosfer."

Tiba-tiba, lampu di ruko berkedip-kedip. Ujang, yang biasanya sedang asyik bermain boba di pojok ruangan, mendadak melesat ke arahku dengan wajah pucat—eh, maksudku lebih pucat dari biasanya.

"Mas Mamet! Ada orang di depan! Tapi dia nggak ada napasnya, tapi juga nggak ada tembus pandangnya!" seru Ujang sambil bersembunyi di balik jaket kulitku.

Aku dan Karsih saling pandang. Deskripsi Ujang sangat membingungkan. Aku berjalan menuju pintu kaca ruko, menyibakkan gorden sedikit. Di bawah lampu jalan yang remang-remang, berdiri seorang pria mengenakan setelan jas hujan parit (trench coat) berwarna kelabu. Topinya menutupi sebagian wajahnya, namun yang membuat bulu kudukku berdiri adalah bayangannya di aspal.

Bayangannya tidak diam. Bayangan itu bergerak-gerak sendiri seolah sedang mencari sesuatu di tanah, padahal pria itu berdiri mematung.

Aku membuka pintu. "Maaf, Biro Konsultasi sudah tutup. Silakan datang besok pagi jam sembilan."

Lihat selengkapnya