Salah Waktu

Jennar_
Chapter #1

BAB 1


Peraturan dan etika dasar pengajar di SMK itu baru saja diperbaharui. Sebelum Wira—seorang guru muda yang mengajar di sana meninggalkan ruang guru, dan melanjutkan kegiatan rapat osis di ruangan yang berbeda.

Ia sempat menoleh pada papan peraturan yang tertempel di dinding. Ia membaca tiap poinnya, dan tepat pada poin yang bertuliskan “Dilarang menjalin hubungan romantis antara murid dan pengajar” Wira menyeringai. Peraturan aneh, mana ada guru yang mau pacaran sama murid, kecuali guru itu pedofil. Gumamnya, kemudian membawa langkahnya menuju ruang Osis untuk rapat agenda tahunan bersama para anggotanya.

Ruang Osis yang semula riuh pun hening seketika, suara sepatu yang beradu dengan lantai terdengar menggema di koridor sekolah, langkahnya berderap tegas, mencerminkan dirinya sebagai seorang pengajar yang terkenal dingin, perfeksionis dan bermulut pedas. 

Tanpa perlu menginterupsi para muridnya untuk tenang, sorot matanya seolah sudah bisa mewakilkan itu.

“Selamat siang semua,” sapa Wira, selaku pembina osis. Ia melangkah menuju meja paling depan, dan mendudukan dirinya di sana “Sudah tahu kenapa saya meminta semua anggota berkumpul?” tanyanya pada anggota osis yang berada di hadapannya.

Atensi semua murid tertuju padanya. “Tidak” jawabnya serentak.

“Dalam waktu dekat ini, sekolah akan mengadakan acara pelepasan kelulusan Kakak-kakak kelas kalian, jadi mulai dari sekarang kita akan melakukan perencanaan dan pembagian tugas.” Ia mengambil sebuah spidol dalam laci meja guru, kemudian mendekat pada papan tulis, menuliskan beberapa persiapan yang harus dilakukan. Mulai dari tempat yang akan digunakan, peralatan, dana, undangan dan masih banyak lagi.

Spidol itu kembali ia simpan di mejanya, dan menjelaskan setiap poin yang sudah di tulisnya.

“kita akan buat tim panitia untuk acara tersebut, boleh acungkan tangan siapa yang siap jadi ketua panitia?” tuturnya

“Ilham, aja Pak.” Seorang murid membuka suara.

Wira menggeleng. “Gak bisa, Ilham sudah jadi ketua Osis, gak bisa menjabat dua jabatan sekaligus, ganti yang lain.” Wira menyapu pandangan di hadapannya, matanya menelisik setiap murid. “Agus, kamu cocok jadi ketua panitia.”

“Hah ! Aku Pak?” Agus menunjuk dadanya sendiri.

“Iya, Kamu,” pungkasnya. Kemudian Wira melanjutkan, “Untuk anggotanya, biar Agus sendiri yang memilih. ingat! Orang yang dipilih harus sesuai dengan kebutuhan, dan orang yang terpilih harus benar-benar menjalankan tugasnya.”

“Baik, Pak,” jawab serentak para anggota Osis.

Suasana kembali menghangat, ruangan itu kini dipenuhi percakapan para siswa yang menolak dan meminta untuk bergabung di kepanitiaan acara perpisahan dan kelulusan itu.

Lihat selengkapnya