Hari itu, Arga sedang menikmati sisa libur kerjanya. Tidak ada agenda besar, ia hanya bersantai di teras rumah peninggalan orang tuanya yang sudah lama tiada. Rumah itu sederhana, sangat sederhana. Bahkan dindingnya masih berupa anyaman bambu yang sudah mulai kusam dimakan usia, namun Arga tidak pernah merasa malu. Baginya, rumah itu adalah benteng ketenangannya. Ia bisa hidup damai dengan apa yang ia punya, tanpa perlu menuntut lebih dari keadaan ekonominya.
Sambil bersandar, jempolnya lincah berselancar di layar ponsel, menjelajahi rimba media sosial. Sesekali ia melihat foto teman-temannya yang sedang pamer jalan-jalan di tempat mewah atau makan di restoran mahal. Ada sedikit desir iri, namun Arga cepat-cepat menepisnya.
Namun, ketenangannya terusik ketika sebuah iklan muncul di sela-sela videonya. Sebuah iklan Saldo Kilat yang belakangan ini sedang viral. Awalnya, Arga hanya mengabaikannya, tapi algoritma ponsel seolah tahu celah rasa penasarannya. Iklan itu muncul lagi, dan lagi.
"Wah, saldo kilat bunga rendah? Syarat cuma KTP dan langsung cair?" gumam Arga pelan.
Ia mulai menyimak isi iklan itu dengan antusias. Pikirannya mulai bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin mereka bisa percaya begitu saja pada orang yang mau menggunakan jasa saldo kilat, padahal tidak pernah bertemu muka? Hanya modal foto ponsel, uang bisa berpindah tangan?”
Ketidakpercayaan itu perlahan berubah menjadi rasa penasaran yang menggelitik. Arga masih merasa aman, ia pikir ia hanya ingin tahu. Namun, ia tidak sadar bahwa satu klik kecil pada iklan itu, adalah langkah pertama menuju lubang yang mungkin tak akan pernah bisa ia tutup lagi.