Hari libur yang singkat itu Arga gunakan untuk bermalas-malasan seharian. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sepenuhnya, agar setidaknya saat hari Senin tiba, ia tidak merasa seperti rongsokan yang dipaksa bekerja. Namun, istirahat fisik ternyata tidak menjamin istirahat pikiran.
Setelah makan siang sederhana dengan lauk seadanya, Arga kembali tergeletak di atas balai-balai bambunya. Secara refleks, jempolnya membuka aplikasi media sosial. Di sanalah, "monster" sesungguhnya bersembunyi.
Sebuah postingan muncul di urutan teratas feed-nya. Jantung Arga seolah berhenti berdetak sesaat. Itu Herni. Wanita yang pernah mengisi hari-harinya, orang yang sempat ia yakini sebagai pelabuhan terakhir dalam hidupnya. Hubungan mereka kandas bukan karena orang ketiga, setidaknya itu yang Arga tahu. Mereka berakhir karena Arga tidak sanggup mengimbangi gaya hidup Herni. Bukan karena Arga pelit, tapi karena dinding bambu rumahnya adalah saksi bisu bahwa untuk sekadar makan enak setiap hari saja ia harus memutar otak, apalagi untuk membelikan tas bermerek atau makan di restoran mewah setiap akhir pekan.
Di postingan itu, Herni tampak sedang menikmati indahnya pantai. Ia berpose imut bersama teman-temannya, mengenakan kacamata hitam mahal dan gaun pantai yang berkibar tertiup angin. Kulitnya tampak lebih cerah, senyumnya lebih lepas, seolah beban hidupnya ikut luruh bersama ombak.
"Semenjak putus, Herni malah makin cantik saja. Aku jadi semakin sulit untuk melupakannya," gumam Arga lirih. Ada rasa perih yang menusuk ulu hatinya. "Apa dia sudah punya pacar baru ya? Cowok yang lebih bisa diandalkan daripada aku?"