Masa di mana anak-anak lapang tersenyum, sedih, tertawa, marah, menangis, berteriak bahagia tanpa beban, adalah potret nilai sempurna untuk orang dewasa di sekitarnya. Ketika mereka terkurung oleh keadaan, mengharuskan jadi orang lain lalu keluar dari dunia anak yang sungguhlah luas, patutnya orang dewasa yang perlu disangsikan penilaian logika dan situasi jiwanya. Benarkah sudah tenteram jiwa itu hingga tiada aman terasa bagi anak-anak untuk jadi diri sendiri? Mengapa logika berbelok cari jalan pintas menuntut anak-anak menerima stereotip dan persepsi tertentu?
...
Di dalam rumah Saloma yang diisi 2 orang dewasa dan 6 anak-anak, setiap hari pertengkaran-pertengkaran kecil bagai lagu wajib. Hal-hal kecil seperti rebutan remote TV, tidak mau mencuci piring, tidak sengaja terkena bola plastik, mengambil pulpen atau pensil diam-diam dan berbagai topik lainnya mewarnai pertengkaran. Otomatis ibu Saloma pun hampir setiap hari akan mengomel, melerai dan kadang-kadang mengayunkan sendal, handuk atau apapun yang bisa ia raih untuk dilempar ke arah anak yang pancing amarah.
Anehnya, entah mengapa hanya Saloma saja, anak perempuan satu-satunya, punya topik berbeda ketika diomeli. Wanita dewasa yang melahirkan Saloma itu selalu membawa-bawa ‘perempuan’ dalam omelannya.
“Di rumah ini ada anak boru tapi malas kali kerja," tuduhan klise dengan logat Batak kental terlontar tiap kewalahan membereskan pekerjaan domestik rumah.
"Kukandung kau sembilan bulan, kulahirkan sampai bertaruh nyawa, tapi kok kayak nggak bersyukur kau, Saloma. Kalau kulihat anak boru orang si April sana. Walaupun masih kelas 4 SD tapi udah beres dia menyuci baju sama piring tiap hari. Rumah pun bersih dipel. Tanpa disuruh, loh, itu. Beruntung kalilah mamaknya itu melahirkan anak boru yang baiknya minta ampun.”
...
Di lain hari dengan konsep yang sama tapi objek yang berbeda. “Cobalah kau lihat si Rulas. Lihat dulu sana ke samping, cepat. Lihat rumahnya bersih, rapi, nggak ada debu sedikit pun di lantai, sampek bisa kau jilat saking bersihnya."