Saloma

myht
Chapter #4

Suddenly Mute

“Kasihan Saloma kecil,” Saloma bermonolog pada pantulan dirinya di cermin sembari menunjuk dinding kamar kost. Ada foto Saloma kecil menempel di situ.

“Hampir setiap hari sembunyi di goa. Takut-takut Monster datang. Mata berlaser merah selalu sukses tundukkan Saloma. Semburan racun kata-kata kasar berkali-kali sentak batin. Auman demi auman berisik pekak jadinya telinga. Dorong Saloma membela diri, menantang agar Monster tidak semakin mengaum. Frustasi telah habiskan dayanya tuk bisa bertahan dengar auman lagi dan lagi."

"Saloma kecil benar-benar butuh bantuan jernihkan lagi telinga riuh, kepala yang penuh dengan kalimat-kalimat kotor, teriakan, bentakan dan auman."

“Saloma kecil adalah kecil, belum tahu tentang dunia maka tidak haruslah sempurna. Tidak semestinya mendengar ‘auman’ setiap hari. Terpaksa habiskan umur muda dengan ketakutan, khawatir, dan tidak berdaya tanpa pemahaman. Dia disalahpahami. Selalu. Malah dituntut memahami."

"Tak ada jalan keluar lain selain berlindung di goa, berusaha tidak terbawa suasana apa pun guna selamatkan hati yang luka.” Saloma hembuskan nafas berat, mengingat sesak perjuangan Saloma kecil bertahan hari demi hari.

...

“Monster dan 5 pengikutnya berhasil hancurkan Saloma kecil," lanjutnya lagi. "Mengabaikan sebegitu dalam bertahun-tahun hingga hati tawar. 5 pengikut monster itu cari aman sendiri. Membiarkan bertarung sendiri melawan Monster. Oh, iya, mereka 'kan pengikut Monster, berharap bala bantuan pun akan sia-sia. Sudah gitu, mereka juga dilarang berbicara kepada Saloma kecil. Lau, bagaimana mau meminta tolongnya?”

“Kenapa dilarang?”Saloma dalam cermin akhirnya angkat bicara.

Bukannya takut, Saloma berpikir sebentar sebelum menjawab. Ada ragu di dalam percik mata apakah Saloma dalam cermin dapat dipercaya? Pantulannya itu apakah sudah cukup kuat agar bisa rangkul kenyataan pahit masa kecilnya?

Berat hati akhirnya ia berkata, “Jadi, sebenarnya dulu Monster pernah menyuruh 5 pengikut mendiamkan Saloma kecil. Waktu itu masih kelas 6 SD, dia bertengkar dengan salah satu pengikut Monster yang paling bontot, Helder. Mereka bertengkar dan kejar-kejaran sampai ke dapur di mana Monster sedang memasak makan malam. Lalu .…” Ia berhenti, memicing ragu akan pantulannya di cermin.

“Lalu?” tanya pantulan itu tak sabar.

“Begini … kamu yakin sudah kuat mendengar awal mula 'hening' ini terjadi?”

“Sudah menderita sejauh ini tentu saja pasti kuat. Apa pun nanti dampaknya atasi nanti saja. Segeralah cerita.”

“Baiklah." Saloma melipat kaki bersila sempurna.

...


Lalu … Saloma kecil tidak tahu Monster sedang menghadapi masalah apa saat itu, karena sepertinya setiap hari selalu saja murung dan marah. Namun, kali itu ia benar-benar kesal karena Helder menyikut perutnya saat berusaha menghindari cubitan Saloma. Hampir jatuh bumbu yang sedang dipegangnya.

Monster yang saat itu sedang mengaduk makanan di wajan pun marah lalu berteriak, "Ribut kalilah kalian ini." Saloma menirukan persis cara dan logat bicara Monster. Tak lupa sambil berkacak pinggang.

"Nggak kalian lihat aku lagi sibuk masak, hah? Kau Saloma, udah besar tapi kenapa nggak mau ngalah sama adeknya? Memang nggak ada kutengok inisiatifmu bantu-bantu apa kek di sini. Dari pada ribut-ribut terus. Perempuan tapi nggak malu membiarkan mamaknya kerja sendirian."

"Anak boru apalah berkelahi terus sama adeknya. Nggak si Helder, Werbar, Bilond, Nonam, malah sama abangmu yang paling besar pun, si Benven, berantam semua samamu. Malulah harusnya, kau perempuan, loh. Semua abang-abangmu, adek-adekmu, laki-laki semua tapi kau lawan."

Lihat selengkapnya