Patah semangat pertama Saloma sebenarnya terjadi ketika kakak perempuan tirinya, Mona, pindah ke rumah nenek mereka di Sibolga. Mona anak perempuan dari istri pertama ayahnya. Ibu Mona meninggal karena gagal ginjal. Lantaran masih sekolah ia tetap tinggal di rumah. Sementara Daola, kakak laki-laki Mona, sejak awal memang sekolah di Sibolga.
Semua berawal dari kabar meninggalnya oppung doli Saloma. Saloma masih sangat kecil, masih belum sekolah saat itu. Suara dari ponsel nokia 5110 biru dengan anthena khasnya terjatuh dari pegangan ayahnya kala mendengar kabar duka. Menekan-nekan sesak dada, dan hampir saja ambruk.
Beberapa detik kemudian gelegar suara tangis penuhi ruang tamu. Saloma terpaku di tempat melihat sang ayah menangis kencang sambil meratap.
Ia pun ikut menangis. Bukan karena kehilangan, tapi karena terguncang oleh kenyataan. Ayah yang selalu berbicara lembut memanjakannya ternyata bisa menangis histeris, persis di depan mata.
...
Tak menunggu lama, setelah tangis mereda, Ibu Saloma segera menyiapkan pakaian ayahnya untuk berangkat hari itu juga. Mona dari kamarnya menangis tersedu-sedu sambil mengucapkan, “Ikkon dohot do au. Ikkon do dohot au. Oppungku naburju na lagu (Harus ikut aku. Harus ikut aku. Oppungku yang baik.)”
Sedangkan Saloma terduduk lemas di lantai sudut kamar. Batinnya gelisah melihat Mona memasukkan pakaian ke dalam tas besar. Ada sesak menghimpit dada, terkenang jelas sampai dewasa.
Saat ini, saat sudah dewasa ini, barulah ia paham arti gelisahnya.
Itu adalah rasa sedih karena harus berpisah dari seseorang. Sesak terjadi saat tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menyaksikan seseorang itu pergi. Benar-benar tidak tahu harus berbuat apa untuk menahannya agar tidak pergi.