Saloma

myht
Chapter #6

Every Girl's First Love

Hidup Saloma remaja masih berjalan dengan baik karena ayahnya. Begitu juga kehidupan sekolahnya. Saat SMP, rangkingnya tidak pernah keluar dari tiga besar. Seharusnya itu akan membuat orang tua mana pun bahagia dan bangga ketika mengambil rapor anaknya ke sekolah.

“Memangnya kita pernah diapresiasi oleh si Monster dan Bapak?” tanya Saloma dewasa memotong narasi suara-suara di kepala, kepada foto Saloma remaja di atas meja.

Lama tak ada jawaban, ia memukul-mukul kepala dengan penggaris plastik.

Beberapa menit kemudian, foto itu bergerak mengalihkan wajah pada Saloma. “Bapak cuma pernah sekali mengambil rapor kita …” ucapnya bernada sedih.

Saloma meletakkan penggaris sambil tersenyum senang. Akhirnya ada yang bisa diajak berbicara lagi.

Ia mengarahkan seluruh badan pada foto dan berkata, “Iya, itu juga waktu kelas 1 SMP. Saat itu kita mengecewakan Bapak karena wali kelas mengatakan begini.” Saloma berdehem sebelum menirukan gaya berbicara wali kelasnya, “Saloma ini sebenarnya layak sekali jadi juara dua atau tiga, Pak. Masalahnya hanya di absensi saja makanya jadi juara empat. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin memberi nilai terbaik. Tapi, sekali pun pintar dalam pelajaran, absensi tetap jadi salah satu faktor utama penilaian juga.

“Aktingmu bagus sekali.”

“Ahahaha …. Terima kasih. Kira-kira begitulah ucapan beliau. Di perjalanan pulang, Bapak tidak menjudge walau di antara semua anaknya, sejak SD, hanya kita yang tidak pernah masuk rangking tiga besar. Malah, Bapak mengajak kita makan ke warung mie ayam Moel.”

“Wah, mie ayam kesukaan Bapak.”

“Makanya, mulai dari situlah kita bertekad harus masuk rangking tiga paling maksimal. Supaya tidak lagi mengecewakan satu-satunya manusia yang masih menganggap kita manusia.”

“Hampir tiap hari belajar di benteng sampai larut malam.

“Iya. Tapi setelahnya, Bapak tidak pernah lagi mengambil rapor. Alasannya sibuk.”

“Maklumlah, dia mencari nafkah dan mengurus adat istiadat ke sana ke mari.”

“Padahal, kita berturut-turut tiga kali rangking dua. Trus, semester berikutnya turun jadi rangking tiga, dua kali berturut-turut sampai lulus SMP. Tahu kenapa turun drastis?”

“Tahu.”

“Tahu ….” Foto mengulang jawaban Saloma dengan nada mengejek. “Tahu tapi pasti tidak bisa menjelaskan dengan rinci, kan?” ejeknya lagi.

Saloma terdiam. Ranking-ranking itu membuatnya trauma.

“Biar aku saja yang jelaskan! Rangking kita menurun drastis karena ternyata tak ada gunanya masuk rangking kalau Bapak, pahlawan kita, tidak bisa jadi saksi yang mengambil trophy hadiah ke depan kelas. Namun, kita tetap bertahan dengan harapan bisa saja semester berikutnya ada keajaiban. Makanya, bisa tetap bertahan di tiga besar meski semangat sudah terseok-seok."

“Aku lupa apakah kita waktu itu memberitahukan Bapak. Dia pahlawan kita, harusnya pasti tahu dan mengapresiasi.”

Lihat selengkapnya