Saloma terlahir dari keluarga kristen protestan. Mulai kecil sudah diajarkan beribadah setiap hari Minggu ke Gereja. Ayah dan ibunya sangat rajin beribadah dan bergabung dengan grup koor gereja.
Sekali dalam beberapa bulan rumah keluarga Saloma jadi tempat beribadah malam yang disebut partangiangan. Acara ibadah yang diadakan pada malam hari. Dimulai dengan menyanyikan lagu-lagu dari buku ende bersama, membaca Alkitab secara responsoria, mendengarkan khotbah pendeta, mengumpulkan kolekte, dan diakhiri dengan makan hidangan camilan malam sambil mengobrol ringan.
Hampir sama dengan ibadah di Gereja. Bedanya, tempat ibadah di rumah warga sesuai jadwal/giliran yang sudah ditentukan. Susunan acara juga lebih ringkas dan peserta lebih sedikit menurut wilayah tempat tinggal masing-masing.
...
Jika giliran rumah keluarga Saloma yang jadi tempat partangiangan, maka mau tidak mau sore harinya sofa, meja dan barang-barang di ruang tamu akan dipindahkan terlebih dahulu ke ruang tengah rumah. Lantai disapu dan pel bersih. Begitu juga dengan lemari, lukisan dan bunga pajangan serta dinding-dinding akan dibersihkan juga.
Ibu Saloma akan sibuk memesan camilan murah jika sedang tidak ada uang atau sedang malas memasak makanan porsi banyak. Ayah Saloma sibuk mengoordinasi anak-anak untuk merapikan barang-barang.
Di awal peperangan, Saloma masih ikut membantu membereskan rumah atau membantu memasak makanan. Monster akan membuka pintu bicara dengan menyuruh ini itu.
Terutama saat partangiangan berlangsung. Di matanya, aura monster ibunya sekejap hilang. Berubah jadi manusia paling lembut, pemalu dan berbahasa halus. Sorot mata tidak lagi mengeluarkan laser merah tajam. Malah pernah tangan Saloma di-elus-elus lembut kala mengantuk mendengar khotbah pendeta.
Walau baginya itu janggal, tapi setidaknya ada jeda istirahat tubuh dan pikiran dari ketakutan juga was-was diri.
...
Komplek Gereja yang persis di belakang rumah, jadi tempat bermain Saloma kecil dan anak-anak yang lain. Biasanya mereka memanjat pohon yang ada di halaman gereja, duduk di dahan sambil ngemil kerupuk jangek atau es lilin kacang hijau.
Di dalam komplek yang luas ada dua bangunan gereja berdiri. Satu bangunan besar, tembok semen dan berhias pohon cemara gemuk di kiri dan kanan. Ada menara lonceng tinggi sekali di sebelah kiri menempel dengan bangunan utama. Di sana biasanya ibadah gereja khusus muda-mudi berbahasa Indonesia dan dewasa berbahasa Batak diadakan.
Satu lagi ada di depan sebelah kiri gereja besar dekat dengan tembok pembatas. Tembok itu persis di seberang halaman belakang rumah Saloma. Hanya dipisahkan jalan setapak. Bangunannya berdinding kayu, berlantai semen dan isinya tidak se-lengkap gereja besar.
Di gereja kayu itulah ibadah anak kecil atau Sekolah Minggu diadakan.
...
Biasanya anak-anak yang tadinya beribadah di gereja kayu, ketika sudah memasuki SMP, akan pindah beribadah ke gereja besar. Biasanya juga sudah bisa bergabung dengan Perkumpulan Remaja. Ketika sudah masuk SMA, sudah dibaptis atau naik sidi, maka sudah bisa bergabung ke Perkumpulan Muda Mudi.
Kala beribadah di gereja kayu hidup Saloma masih bahagia dan senang. Belum ada peperangan batin. Beribadah di sana adalah salah satu kenangan bahagia masa kecilnya.
Begitu perang berkobar, belum sempat pindah ke gereja besar, ia pun jarang beribadah. Juga, total berhenti bermain ke komplek gereja, sebab biasanya ke sana bersama saudara-saudaranya.
Setelah peperangan, waktunya banyak dihabiskan di dalam benteng pertahanan.
...
Memasuki SMP, Saloma mau tidak mau harus beribadah lagi. Di pelajaran agama sekolah ada satu kewajiban mengisi Buku Kebaktian yang harus ditanda tangan Pendeta atau Penatua, plus stempel gereja.
“Waktu itu aku bingung karena tidak punya teman ke gereja lagi. Kau sendiri sering menolak kalau ku ajak. Bapak-mu kebetulan salah satu petugas stempel di kantor gereja, jadi kau bisa lolos walau tidak ibadah.”
“Betul. Kadang kau juga ku bantu supaya dapat stempel juga.”
"Iya, trus kita tidak perlu gereja lagi, deh."
Saloma dan temannya Martina, tetangga masa kecil di belakang rumahnya, tertawa ringan mengingat kenakalan kecil mereka.
“Tapi aku penasaran kenapa semenjak kita naik kelas enam SD, kau tidak pernah kelihatan beribadah lagi? Biasanya pagi-pagi sudah teriak-teriak mengajak ke gereja bersama. Bermain ke lapangan gereja juga sama. Beberapa kali aku menarik tanganmu supaya keluar dari kamarmu tetap saja yang ada malah kena marah habis-habisan. Pernah juga mendorongku keluar. Waktu itu kau jadi sangat aneh dan asing.”
“Banyak hal yang terjadilah pokoknya.”
“Kenapa tidak cerita?”
“Kau tidak ingat pernah mengejek banteng karena aku gampang marah?”
“Saudara-saudaramu duluan yang mengejek begitu. Kami cuma ikut-ikutan.”
“Iya, tapi bahkan di kelas pun kau mengejek begitu. Teman-teman kelas lain yang jarang bermain denganku di luar sekolah jadi ikut-ikutan memanggil banteng juga.”
“Sebenarnya kalau boleh jujur itu kan normal saling mengejek antar teman.”
“Kau tidak tahu apa yang terjadi makanya tidak normal bagiku.”
“Jadi karena itu tidak mau cerita? Sekali pun kita sudah sering patung-an beli kerupuk jangek?”
“Iya.”