“Sal, nambah nasinya. Masih banyak ini,” logat jawa Anjanie medok sekali kala menyodorkan nasi pada Saloma. Ia kasihan melihatnya duduk dalam damai memakan nasi berkuah sop bening dan satu paha ayam di sudut dekat televisi.
Saloma mengangguk sambil nyengir saja. Walau sebenarnya di dalam hati sangat ingin menambah kuah gulai, paha atas dan kentang yang ada di baskom gulai ayam. Namun, terlalu malu rasanya untuk meminta. Tidak enakan juga karena tadi tidak banyak membantu memasak. Hanya membantu mengiris bawang dan membelikan minyak goreng ke warung.
...
Sepulang dari praktek kelompok mengajar ke salah satu SMA di dekat kampus, ia dan 5 teman kelompoknya yang lain, bancakan di rumah Anjanie. Dari antara mereka, hanya dengan Anjanielah dia dekat maka mau ikut ke rumahnya. Kalau tidak, ia lebih suka kembali ke kosan, tidur sambil mendengarkan lagu sampai malam, bangun dan mandi lalu tidur lagi.
Meski sudah tiga tahun keluar dari sarang Monster, berada di pulau yang jauh dari mereka, entah kenapa Saloma masih betah berlama-lama di dalam kamar. Padahal tidak ada marabahaya dan auman-auman Monster di kosan. Alarm dalam kepala pun sudah lama off.
Padahal dulu ketika masih di rumah, begitu suara kaki Monster terdengar, alarm dalam kepalanya berbunyi kencang. Membangunkan was-was, mendengar baik-baik suara-suara dari luar benteng untuk mengetahui apa yang sedang Monster dan pengikutnya lakukan. Begitu auman lengkingan dan nada marah terdengar, ia akan segera menutup telinga dengan tangan, dan dengan bantal jika masih tak mempan.
...
“Ada yang masih mau bumbu gulainya nggak, guys?” Tanya Roba sambil mengangkat wadah plastik tempat ayam gulai.
Saloma melihat sebentar wadah itu lalu menggelengkan kepala seperti yang dilakukan teman-temannya yang lain dan lanjut makan. Dalam setiap kunyahan, ada sesal tak terbahasakan mengapa bukannya mengangguk saja.
Alhasil, terpaksa harus pura-pura menikmati nasi pucat yang semakin pucat disiram kuah sop ayam. Sangat tidak menggugah selera. Nasi pun hanya sedikit. Padahal bisa dua atau tiga centong lagi muat ke piring, dan akan lebih banyak lagi muat ke dalam perut.
Roba pun menuangkan seluruh kuah gulai ke atas nasi yang juga baru ditambah. Seluruhnya dia tuang, tertangkap dari sudut mata Saloma. Shania dan Kamala menggodanya rakus, tapi ia tidak perduli. Malah semakin buas mengaduk-aduk nasi dan gulai.
...
“Lagi diet, Sal?” Tanya Irapanusa yang duduk di samping Saloma tiba-tiba.
“Enggak.” Jawab Saloma sigap.
“Mau diet apa lagi udah kurus gitu, Ra.” Kamala menimpali.
“Tapi nasimu dikit banget. Pucat lagi.”
“Lagi nggak selera makan. Tadi makan banyak lupis sama cenil di sekolah.”
Mereka semua ber O serentak.
Begitulah caranya menghindari pertanyaan yang sangat tidak nyaman itu.
Setelahnya Saloma semakin berpura-pura tidak selera makan dengan hanya menjumput sedikit nasi dan ayam. Sebentar-sebentar berhenti, meletakkan piring ke atas tikar plastik, dan melambatkan kunyahan sambil menonton TV. Agar teman-temannya semakin yakin dia benar-benar sedang tidak selera makan.
Pembicaraan mereka pun beralih membahas guru-guru yang sanagt jutek dan acuh tak acuh. Roba menimpali sesekali dengan mulut masih mengunyah. Saloma di sudut tikar menahan jijik melihat kunyahan makanan masih menempel di langit-langit mulut dan giginya setiap kali berbicara.
“Sungguh sangat disayangkan bumbu gulai yang sangat menggoda itu jadi terlihat menjijikkan di mulut Roba,” pikir Saloma.
...
Tak pelak membuat Saloma jadi semakin tidak sabar pulang ke kos untuk menetralkan diri dan mengisi perut yang tawar akibat nasi pucat. Ia membayangkan akan memasak tiga atau empat stok mie instan. Lalu, memasak nasi sebanyak biasanya. Membeli gorengan, jajanan kecil-kecil seperti biskuat coklat, basreng sachet kecil pedas, kerupuk kulit empat atau lima buah, wafer Superstar, Malkist coklat, Malkist abon, Choki-choki, kerupuk Borobudur tiga atau empat bungkus, mie Kremes Enak dan jajanan lainnya di warung madura terdekat.
Semua makanan itu biasanya pasti habis dalam satu waktu makan, hampir setiap hari, tiga kali sehari. Caranya diselang-selingi dengan nasi, lauk, jajanan, mie, nasi lagi, lauk lalu jajanan, terakhir ditutup dengan air putih atau teh pahit hangat.
Saloma bukan penggemar minuman manis. Makanan yang sudah dikunyah akan terasa lebih nikmat jika ditutup dengan teh pahit atau air putih saja. Itu adalah minuman kesukaannya.