Saloma

myht
Chapter #12

Boru

Ada lubang gelap berdiameter lumayan besar muncul di lantai kamar Saloma.

Sehabis membersihkan diri dari kamar mandi, ia terkejut dan hampir saja jatuh ke dalam lubang yang tepat berada di depan pintu kamar mandi. Handuk di kepala jatuh ke dalam lubang itu. Dalam se-persekian detik sudah tak terlihat lagi. Ditelan pekatnya gelap. Ia berdiri gemetar, titik-titik air masih membasahi tubuh yang tidak berbalut kain sehelai pun.

Saloma mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar mencari apakah ada orang lain yang sengaja membuat lubang itu. Namun yang berbeda dari kamarnya hanyalah tas kerja ter-onggok di sudut kasur.

Ada sepatu pantofel terjatuh dari rak sepatu yang ditutupi bukit pakaian kotor. Sayup-sayup lagu The Architect – Dooms Day masih terdengar. Sengaja diputar mode ulang sebelum mandi sebab mewakili suasana hati saat itu.

...

Ia me-mijit-mijit kening yang mulai pusing. Mungkin lelah yang munculkan halusinasi. Hari ini di kantor memang sangat runyam. Beberapa hari setelah libur Idul Fitri, banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Teman-temannya yang muslim banyak yang masih cuti, dan dengan senang hati Saloma membantu pekerjaan di sana-sini. Toh, dia juga tidak ke mana-mana. Tempat hiburan banyak yang masih tutup. Kalau pun ada yang buka, pasti masih ramai sekali. Lagian, isi dompet pun sudah menipis dalam sekejap setelah gaji-an.

  “Halo .…” Saloma berlutut dan berteriak ke dalam lubang.

Ia bungkukkan badan agar bisa melihat jelas, tapi hanya gelap pekat di sana.

“Haloooo,” teriaknya lagi.

Lutut Saloma terasa perih saat hendak bangkit dari lantai yang masih basah. Tak disangka-sangka, ia limbung dan akhirnya terjungkal masuk ke lubang.

Aaaaaa …” teriaknya menggapai-gapai angin. Matanya menutup rapat. Jantung berdegup kencang seperti mimpi terjatuh dari ketinggian yang pernah ia alami beberapa kali. Mimpi yang seringkali buatnya terbangun dengan nafas ter-engah-engah dan cemas.

...

Sudah beberapa menit Saloma berteriak menggapai-gapai. Namun tidak ada yang terasa menyentuh punggung, entah itu lantai, batu, duri, lava panas, atau apa pun yang jadi dasar lubang.

Tidak tahu harus berbuat apa, matanya terbuka perlahan-lahan. Ternyata, tampaklah ia sudah berdiri di antara dinding-dinding cermin. Lantai tempatnya berdiri begitu gelap pekat hingga telapak kaki tidak merasakan apa pun. Pantas saja dari atas tidak terlihat apa-apa, lantai juga dinding-dinding saling menyerap dan memantulkan gelap itu satu sama lain.

Dari pantulan cermin, begitu sadar belum berpakaian, Saloma berusaha menutupi tubuhnya dengan tangan.

Tak lama kemudian sebuah titik putih muncul di belakangnya. Berpendar-pendar di kejauhan. Ia menoleh ke belakang, ke segala arah, lalu panik mundur menabrak dinding karena tak menemukan apa-apa. Semua hanya dinding-dinding cermin memantulkan titik berpendar yang sama.

Titik itu semakin besar di tiap pendarnya Membentuk pigura besar mengelilingi kanvas putih yang sama besar. Kanva berubah berkedap-kedip seperti hendak memberitahukan sesuatu. Tak butuh waktu lama, sadarlah ia bahwa kedap-kedip itu adalah sandi morse. Sandi yang pernah ia pelajari di ekskul Pramuka SMA.

Mendekat! Ada pesan untukmu.

Begitulah pesan morse itu.

Saloma berjalan pelan, takut-takut menabrak dinding. Berjalan ke arah kanvas di depan. Ajaib! tidak ada lagi dinding yang menghalangi. Kepercayaan dirinya muncul kuat, melangkah kemana pun ia mau, berlari mengejar kanvas itu ke segala arah. Hangat dan bahagia menjalar di dalam dada, ditemani angin sepoi-sepoi. Dinding-dinding berubah perlahan menampilkan lapangan hijau luas dengan banyak pohon di pinggir mengelilingi.

Semakin kencanglah kakinya berlari. Kanvas itu seolah tidak bisa didekati. Selalu menjauh meski sekuat tenaga mengejarnya. Ia seperti gunung di kejauhan yang seolah dekat namun tak tergapai walau sudah seluruh jalan raya dilewati.

...

Bruk!

Wajah Saloma tiba-tiba menabrak dinding angin. Dalam sekejap dinding-dinding kembali jadi cermin gelap menampakkan ia terduduk memegangi hidung yang berdarah.

Lihat selengkapnya