Saloma

myht
Chapter #9

Happy Birthday

“Selamat ulang tahun, Saloma. Wish you all the best.”

HBD, Sal. Makasih martabaknya.”

Py besdey, Saaaaallll,” Roura menutup ucapan selamat ulang tahun dari teman-teman satu divisi Saloma dengan pelukan. Sarly dan Kenneth pun ikut memeluk. Martabak Red Velvet  dari martabak Pizza Orins masih ter-onggok di tangan mereka.

“Makasih juga udah traktir minumannya, guys. Padahal cukup gue aja kali yang beli.”

“Ish ... sejak kapan dalam adat dan istiadat divisi kita yang traktir cuma yang ulang tahun aja?” ucap Sarly melepas pelukan.

Kenneth sambil mengunyah makanan menimpali Sarly, “Udah nggak usah merasa nggak enak, Sal. Lo kebiasan, deh, nggak enakan mulu. Udah ulang tahun yang ke empat lo di sini, masih aja nggak enak-an.”

“Iya, ish. Pokoknya makan-makan di Shabusen nanti pake uang kas kita seperti biasa.”

“Tapi gue mau tetap tambahilah, Ra. Buat upgrade menu, jadi bisa bebas pesan menu apa aja.”

“Naaah … kalau itu, sih, nggak apa-apa. Ntar minuman gue yang upgrade.

“Setujuuuuu. Parkir dari gue, deh.”

“Saloma upgrade makanan, Roura upgrade minuman, Kenneth bayar parkir. Hmm … gue … makannya aja kali yah ahahahaha.

“Dasar bocah bontot,” Kenneth me-ngusap-usap rambut Sarly kencang. Saloma dan Roura ikut mengelitiki dan menahan agar dia tidak lari. Seketika ruang divisi marketing menjadi ricuh. Untung saja ruangan itu kedap suara. Keributan mereka tidak sampai mengganggu karyawan-karyawan lain.

...

“Itulah kira-kira harapan agar teman-teman kantorku lakukan di ulang tahunku yang ke 29 tahun lalu,” ucap Saloma dengan suara berbisik sedih pada lilin ulang tahun berbentuk angka 3 dan 0. Di atas kue tart putih berhias buah-buahan, lilin berwarna merah itu tampak kontras.

“Tapi yang ada malah tagihan makan di Shabusen. Nominal-nya gila sampai harus bayar pakai satu kartu debit dan dua kartu kredit."

Angin dingin datang berembus dari jendela, mengayun gorden menerawang merah muda berbordir putih di atas dan bawah. Sampailah hembusan meniup lilin-lilin. Membuat api tiba-tiba membesar. Sebesar telapak tangan, dan samar-samar terbentuk wajah manusia.

Saloma tidak terkejut juga tidak berbuat apa-apa. Api itu memang berasal dari kekuatan pikirannya sendiri.

“Ckckck. Pasti sedih, sih, kalau punya teman seperti itu," ucap api itu kemudian. Pendar cahaya memantul-mantul di dinding kamar, sedikit demi sedikit membesar.

Saloma menarik-hembuskan nafas berat. Menatap dinding di sana ada pantulan siluetnya duduk menghadap api lilin. “Bukan hanya sedih, tapi juga marah. Mereka memanfaatkan niatku dengan sengaja memesan makanan mahal dan minuman alkohol yang tidak ada di daftar yang sudah kami siapkan.”

“Tahun-tahun sebelumnya juga begitu?”

“Tidak. Itu pertama kalinya. Tahun-tahun sebelumnya hanya membelikan martabak pizza lewat online food. Uangku sebagian besar habis membantu kuliah Bilond dan Werber. Belum lagi harus mengirim uang bulanan Monster. Sekali-sekali Helder juga ku beri uang saku. Kasihan dia. Tangan kanannya belum pulih dari kecelakaan. Sampai terpaksa putus sekolah.”

“Mengapa kau yang menanggung semua? Abangmu si Benven kemana? Kau kan tahanan perang. Penghuni benteng di goa Monster. Mengapa sudah keluar pun masih terikat pada mereka?”

“Kau kira mudah keluar dari rasa bersalah?"

"Meskipun rasa bersalah itu adalah bagian dari doktrin Monster?”

Saloma mengangguk. "Kalau tidak mengirim uang, aku merasa bersalah. Tidak bisa ku jelaskan dengan pasti alasannya. Mungkin karena aku tahu keadaan ekonomi mereka di kampung."

"Atau karena doktrin Monster tentang balas budi melahirkan dan membesarkan mungkin?"

"Mungkin."

“Memang susah kalau urusannya rasa bersalah. Makanya aku semakin membesar. Lihat, aku punya sayap. Pernah melihat api bersayap?”

“Tidak pernah, tapi aku suka api bersayap. Api yang bisa menelan semua yang tak bisa ku kendalikan dengan sayap-sayapnya.”

“Aku juga suka kau. Orang yang dulu mengandalkanku kala bentengmu masih dingin dan gelap. Lalu, bagaimana kelanjutan ulang tahun itu? Ada kadonya?”

Lihat selengkapnya