Saloma

myht
Chapter #14

Getting Worse

13 Agustus 2024

Ada kalanya kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik senyum orang lain. Kita tidak tahu apa yang telah seseorang itu hadapi hingga bisa tersenyum di hadapanmu. Detik berganti menit, berganti jadi jam, hari, minggu, bulan, tahun, begitu seterusnya. Hanya dari detik saja bisa jadi beribu-ribu abad. Hanya dari percikan sedikit saja, bisa sebabkan banyak luka, berderet-deret hingga membesar. Gelap bisa berasal dari terang, atau terang bisa saja berasal dari gelap. Kala setitik muncul, langsung terlihat jelas. Jika dibiarkan saja, maka akan saling menguasai. Gelombang pun terbentuk, tak kuasa ubah kembali ke awal.

Habis nangis jadi sok puitis.

Telingaku lama-lama bisa tuli ini kalau dengar lagu kencang-kencang terus.

 …

“Kemarin api mengatakan sesuatu yang sangat aneh ….”

Satu menit.

Dua menit.

Sampai tiga puluh menit tidak ada yang bergerak menyahut ucapan Saloma. Kemarin-kemarin begitu melemparkan satu kalimat, cermin, foto, dan lain-lain tiba-tiba akan bergerak hidup dan balas menjawab. Kali ini, kamarnya hening saja.

Saloma menyentuh dada ternyata teratur detaknya. Hening telinga. Sukma menggantung saja tanpa berpijak. Mungkin karena kemarin api sudah membakar semua. Sebab, habis kendali atas hatinya sendiri setelah itu.

“Jadi, dia bilang apa betul air jernih yang ada di ember bapak murni air jernih atau hanya tampak jernih? Maka kukatakan saja saat ini, awalnya aku yakin murni jernih, lalu Monster pernah mengucapkan sesuatu yang buatku jadi ragu kemudian.”

Suara air menetes terdengar ritmis dari kamar mandi. Ia segera bangkit dari tempat tidur dan berlari ke sana, berharap ada teman bicara. Namun, hanya ada tetesan air dari pakaian basah di jemuran kecil.

...

Saloma berdecak kesal. Ditendangnya kotak donat J. Co yang tergeletak di lantai hingga terpental bergelantung di teralis jendela kamar.

“Pada kemana, sih, semua? Percuma kalian banyak kalau tidak ada satu pun yang bisa diajak bicara. Apa kalian sekarang berubah jadi sama dengan manusia-manusia di luar sana, yang menutup telinga dan empati pada kisah hidup orang lain? Atau kalian semua mau kubuang saja?”

“Coba saja kalau berani.”

Ia tersentak. Kotak donat yang ditendang barusan bergerak hidup dan bersuara.

“Mana berani kau membuangku dan teman-teman yang lain. Siapa nanti yang akan jadi temanmu berbicara kalau kami semua lenyap dari kamar ini?”

“Makanya, setidaknya salah satu dari kalian sahutlah jika aku berbicara.”

“Kau tega membuang kami? Bagaimana kalau suatu saat nanti butuh atau rindu salah satu dari kami?”

“Itulah maksudnya. Maka sahutlah jika aku berbicara. Jangan diam seperti tadi. Kan, memang itu salah satu kegunaan kalian. Menemani berbicara. Paham?”

“Ah tapi kau malah semakin menambah jumlah kami. Apa tidak terlalu ramai nantinya?”

“Cerewet. Padahal hanya kotak bekas donat saja tapi cerewet.”

...

Saat tengah asyik berdebat, tiba-tiba bantal usang yang teronggok di sudut kamar ikut bergerak hidup. “Berbicaralah padaku, Saloma. Biarkan kotak bekas donat itu. Dia tidak memahami perasaanmu," ucapnya tersenyum lembut.

“Akhirnya," balas Saloma, lalu naik ke tempat tidur, dan duduk bersila menghadap bantal.

“Senang melihatmu ceria kembali. Meskipun bentukku aneh, tak mampu lagi membuat kepalamu nyaman, aku akan tetap berusaha memahami isinya saja.”

“Karena itulah aku membelimu dengan harga mahal dulu.”

“Terima kasih sudah memilihku. Jadi, apa hubungan antara air jernih dengan ucapan Monster?”

“Jadi seperti yang kalian tahu tahun lalu aku kan pulang kampung.”

“Ya, kau lama sekali tidak muncul. Beberapa orang sempat mengetuk pintu beberapa kali. Katanya kamarmu bau,” sahut kotak donat.

“Bau? Ish … padahal sudah ku peringatkan jangan urusi wilayah pribadi orang lain. Hidung mereka saja yang tidak kompeten. Pakai parfum makanya biar bau busuk hatinya hilang.”

“Teriakkan dengan kencang, Sal. Biar mereka dengar.” Kotak donat membakar sumbu emosi Saloma.

“Sudahlah. Kenapa jadi berputar-putar? Ayo, Saloma, ceritakan intinya. Jangan takut dan gelisah. Sejauh ini sudah banyak trauma kau hadapi bersama kami. Yang ini juga pasti bisa.” Suara lembut bantal tenangkan kembali suasana.

“Jadi … aku pulang bulan Juni … tahun lalu. Itu kan block leave, artinya harus diambil cutinya. Trus .…” Saloma terdiam malah asik menggosok-gosok tangan kiri gelisah.

Lihat selengkapnya