Saloma

myht
Chapter #30

Echo of the Monster

23 Oktober 2023

Dua hari lagi Lalina ulang tahun

Aku habis beli sepatu Adidas kesukaannya

Trus mau bikin kolase foto-fotonya waktu kecil juga

Tapi besok ajalah, capek habis keliling-keliling belanja tadi

***

Beberapa hari setelah kehilangan masa damai, Saloma masih bisa membujuk diri untuk tetap bangun pagi. Namun spark yang sempat pompa tenaga melakukan banyak hal dalam waktu yang singkat, kini sirna. Berbagai sisi kontrakannya kembali berantakan. Lantai disapu seadanya saja. Pakaian kotor dan bersih kembali menumpuk, beberapa tergeletak di sana-sini.

Mandi tidak lagi terasa nikmat. Malah beberapa kali ia hanya mandi saat berangkat kerja saja. Tidur dengan pakaian kerja, kadang masih memakai sepatu dan tas ranselnya. Sesekali tengah malam ia terbangun untuk menaburkan bubuk kopi lalu memantau hal lainnya di dalam kamar berpintu. Lalu, kembali tidur seperti tidak bernafsu lagi untuk hidup.

Kadang ia makan berlebihan sampai hampir muntah. Kadang hanya sarapan saja. TV dan musik ponsel dihidupkannya bersamaan untuk mengisi tawar hari. Seperti membujuk hati agar tidak sepi padahal kepalanya selalu penuh dan ribut. Hampa dan riuh terjadi sekaligus dan suara TV juga musik itu adalah alat agar menyeimbangkannya. Sebab, sungguh sulit jika memilih untuk menenteramkan riuh.

Hampir semuanya, segala sisi dan masa, sangat kontras dengan hari sebelumnya itu. Hari di mana spidometer bisa bicara.

Satu-satunya arah jalan kakinya saat itu adalah, membeli kado ulang tahun untuk keponakannya.

 

24 Oktober 2023

(1 hari sebelum ulang tahun Lalina, keponakan Saloma)


“Kemana sih perginya?!”

 Saloma mengacak-acak isi lemari dengan hati panas, berbisik kencang penuh amarah. Melempar pakaian mulai dari yang masih terbungkus plastik sampai yang sudah berjamur, karena tidak pernah dipakai lagi dan mengendap di laci paling bawah lemari.

“Kemanaaaa?!!” teriaknya lagi dalam bisik kencang. Gigi gemeretak, urat-urat leher mengeras dan kepalanya pusing menahan tekanan emosi. Di pukul-pukulnya udara sampai membungkuk. Mulutnya terbuka lebar berteriak tanpa suara. Air liur menetes bersamaan dengan air mata.

Kembali ia buka laci-laci kecil lemari mencari laptopnya. Meskipun tak mungkin menemukan laptop keluaran lama yang tebal dan lebar itu di sana. Laptop berusia 7 tahun yang tiap kali dihidupkan akan terdengar suara berisik bagaikan suara mesin mobil yang digas terus-menerus. Laptop yang hanya bertahan tak sampai 1 menit jika tidak sambil dicharging.

Laptop yang dulu dibelikan oleh Benven di semester 6, setelah mengemis-ngemis terlebih dahulu. Di satu sisi betapa hatinya bersyukur mendapatkan laptop itu. Tapi, di satu sisi lain ia benci sekali kalau ingat cara mendapatkannya itu. Sampai-sampai terucap dalam hati Saloma, memang nggak tahu diri kali kau Benven. Padahal waktu kau masih kuliah, uang asuransi kematian Bapak dikirim samamu sebagian buat beli laptopmu. Kami nggak kebagian sedikit pun. Namun ia tahankan saja dalam hati, sebab memang seperti itulah cara Saloma selesaikan permasalahan dalam hidupnya.

 Lelah mengacak-acak baju, ia duduk sebentar mengambil nafas. Samar-samar bayangan ia terakhir menonton drama sampai jam tiga dini hari di dalam kamar berpintu pun muncul. Tak menunggu lama ia berlari ke sana.

Sempat ragu sejenak melihat tinggi dan gemuknya tumpukan sampah, akhirnya Saloma nekat juga mengacak-acaknya.

“Aw!!!” teriaknya tak berapa lama kemudian.

Belum sampai setengah tumpukan berkurang, beberapa ekor kelabang merayap keluar. Secepat kilat Saloma berlari menjauh dari tumpukan.

“Ck! Ish!” decaknya kesal.

Kalau tidak di lemari, laptop itu pasti ada di meja kayu lesehan, yang tertutup oleh tumpukan. Tak ada tempat penyimpanan lain lagi. Sementara, ia sangat membutuhkan file foto keponakannya yang ada dalam laptop untuk tambahan kado ulang tahun.

Sebenarnya bisa saja cukup hanya sepatu Adidas yang sudah ia beli dan bungkus dengan kertas kado. Namun, mengetahui bahwa laptopnya tak kunjung ketemu, membuat hatinya panas. Susah payah mencari ke sana – ke mari, mengapa tak ada hasilnya? Telah begitu banyak tenaga keluar, mengapa tak muncul jua? Begitula kira-kira motivasi Saloma, hingga membuat darahnya mendidih.

Lihat selengkapnya