Saloma

myht
Chapter #16

The Elephant's Pawoo

02 September 2023

I don’t owe you an apology for not being perfect,

because the daughter you want is shaped by your closed-minded ways.

I, on the other hand, am free with my thoughts,

guided by the silence only my heart understands.


I don’t think anyone can fix this anymore.

No hand can mend the fractures between us now,

No words can bridge the silence that’s grown.


To explain to you that this body holds a soul

is like chasing shadows in the dark,

because you believe giving birth was enough,

while I kept searching for a mother in the silence you left behind.


Now, I choose to live with only myself,

as I have, silently and slowly, since the day Dad passed away

***


Sudah setengah jam Saloma terbangun dan menatap langit-langit kamar dengan mata sembab. Handphone di lantai berdering beberapa kali. Nama pemilik kost tertulis di layar.

Tadi pagi, sekitar jam 09.15, tetangga bergerombol mengetuk pintu kamarnya. Sebagian lagi melongok dari jendela. Saloma tak dapat berkelit. Kondisi kamarnya akhirnya harus terekspos.

Sore kemarinnya, grup kost geger. Tetangga persis di samping kanan kamarnya, Refalina, mengeluh sudah beberapa minggu mencium bau busuk. Penghuni-penghuni lain juga ikut berbondong-bondong mengeluhkan hal yang sama. Akhirnya pemilik kost berinisiatif memeriksa kamar satu persatu. Sebab sudah berkali-kali dibersihkan, bau busuk tetap ada.

Saloma yang ketar-ketir membaca isi grup, secepat kilat membersihkan sampah dan berbagai-bagai benda yang ada di kamarnya. Lantai kamar tidur dan kamar mandi disikat bersih dengan larutan pembersih lantai buatan China. Barang ampuh yang memang selalu ada di lemari. Persiapan jika situasi dadakan persis seperti yang sedang dialaminya muncul.

Tumpukan sampah ia masukkan ke dalam goni plastik sedang. Sudah pasti kurang efektif. Kecoa, kelabang dan semut keluar memencar begitu sampah-sampah diangkat. Ia berteriak ketakutan dan akhirnya terduduk lemah menyerah di sudut kamar.

Isi kepala berputar-putar, jantung berdegup kencang, hingga nafas tersenggal-senggal. Lalu pingsan sebab tak kuasa lagi menahan gumpalan panik.

...

Saat itulah suara gajah tiba-tiba membangunkannya. Kamar tampak remang-remang dan sunyi. Suasana terasa ganjil. Seolah ada deging di telinga, tapi semuanya hening. Seperti penuh namun sebenarnya banyak ruang kosong.

Anehnya, kamar itu begitu bersih, rapi dan sejuk. Persis seperti hari pertama masuk, semua tertata rapi di tempatnya masing-masing.

Suara detak jam dinding lirih terdengar. Makin lama makin kencang. Saloma mengikuti arah suara dan menemukan jam dinding bulat besar menempel di dinding batas kamar mandi. Jam itu berwarna putih di dalam dengan lingkaran hitam di pinggir permukaan. Jarum-jarumnya tajam terbuat dari Katana.

Ia mengernyitkan dahi. Bukan, bukan karena Katana. Tapi, karena angka di jam besar itu sulit dibaca. Seakan-akan ada angka di sana, namun mustahil diterjemahkan. Terlihat kosong tapi sesungguhnya tidak. Seperti terukir namun tidak berwujud.

Saloma pun terduduk saja, menunggu tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Lihat selengkapnya