Saloma

myht
Chapter #23

Kiko and the Time Between

Ragu, takut, dan menganggap masih ada waktu, sering kali jadi alasan untuk diam membiarkan kesempatan lewat begitu saja. Tidak segera bertindak, tidak langsung bergerak menolong, atau menunda sampai batas tertentu. Apalagi, ketika berhadapan dengan momen singkat yang menuntut keputusan cepat.

Saat itu mungkin masih bisa membela diri bahwa nanti masih bisa diperbaiki. Namun ketika semua pembelaan hangus oleh penyesalan, beban pun semakin berat. Kala gagal menanggungnya, momen-momen itu pun berputar ulang di kepala. Pertanyaan besar menghimpit dada, apa yang akan terjadi jika saja segera bertindak agar momen itu tidak terlewatkan? Menerka-nerka tanpa batas sampai pusing sendiri.

Tapi, semua sudah terjadi. Penyesalan berakhir menjadi luka yang sulit sembuh. Sebab tahu betul bahwa saat kesempatan itu datang, dengan sadar memilih untuk membiarkannya pergi.

Kini, yang tersisa hanyalah bagaimana belajar menerima dan menghadapi konsekuensi dari pilihan itu.

...

Bangkitlah Saloma dari atas kasur. Dipakainya outer panjang berwarna hijau army, lalu keluar mencari angin segar. Tak jauh dari kontrakannya ada sederetan tenda pedagang makanan yang setiap malam selalu ramai. Sesekali ia pernah ke sana jika kelaparan tengah malam. Kali ini bukan perut yang hantarkan ke sana, tapi isi pikiran yang masih riuh gelisah.

Evaluasi hectic ternyata ternyata membutuhkan usaha ekstra. Beberapa kali berhasil menamai perasaan, tapi beberapa malah berakhir riuh.

Kakinya berhenti di tenda Pecel Lele Pak Bakul langganannya. Tempatnya di halaman luas toko bangunan dan lumayan jauh dari jalan raya. Sapaan Saloma mengagetkan Ian si penjaga warung yang sedang asik bermain game di ponsel. Setelah berbasa-basi, ia memesan ayam goreng paha atas dengan menekankan tambahan bumbu satu porsi lagi.

Duduk di kursi bakso berwarna merah, ia bermain ponsel sambil bersender ke tiang listrik di belakangnya. Seperti biasa, jarang sekali ada orang makan di tempat. Kebanyakan mereka membungkus dan dibawa pulang. Sementara baginya makan di tenda di pinggir jalan bisa membantu hati dan pikiran tenang. Suara kendaraan akan berlomba-lomba mengalihkan bising isi kepala.

...

 “Tumben hari ini banyak diam, Saloma. ‘Teman-teman’ di kamarmu juga seharian dicuekin.”

 Suara asing mengagetkan Saloma yang tengah asyik menonton drama korea. Ia celingak-celinguk demi menemukan sumbernya.

 “Hai, aku di sini.” Tempat tisu bergerak-gerak.

 Saloma menggaruk-garuk kepala sebab sangat mustahil ada benda di luar kamar yang bisa bicara. Anomali luar biasa. Imajinasi, apakah sudah tidak berpagar lagi hingga loloslah tempat tisu itu?

 Mengamati gelagat gelisahnya, Kotak Tisu coba menghibur, “Tidak usah dijawab. Nanti kau akan dianggap gila jika membalas ucapanku.” Ia terkikik geli.

Ian datang dengan piring berisi nasi dan ayam goreng serta bumbu dan sambal. Setelah mengucapkan terimakasih, Saloma bangkit hendak mencuci tangan namun tertahan oleh ucapan Kotak Tisu.

“Halah, biasanya juga jarang cuci tangan kalau mau makan. Apa karena takut dilihat banyak orang?”

Hanya helaan nafas yang didapatkannya sebagai jawaban. Saloma tetap pegi mencuci tangan sambil menahan perasaan bingung dan gemas.

...


“Walau pun tidak diminta, dengan sukarela aku akan menemanimu makan,” pancingnya lagi begitu Saloma duduk.

Ia enggan menjawab. Malah asyik mencari batas durasi drama korea yang terlewat.

“Sebenarnya sudah beberapa kali melihatmu makan sendiri di sini, tapi baru kali ini aku berani menyapa. Betah makan sendirian terus?”

“Oh, iya, kan temanmu berbicara banyak. Jadi untuk apa merasa sendirian, yah? Dasar aku ini.”

“Tapi coba tebak apa yang orang pikir saat melihatmu makan sendirian di luar begini? Oh, jangankan orang lain, mas Ian aja sering mengernyitkan dahi begitu kau datang ke sini sendirian. Sen … di … ri … an.”

“Jika melihat ada orang makan di sini, maka kau akan terus berjalan melewati dan berbelok ke warteg. Anehnya, di sana pesananmu dibungkus dan makannya di kontrakan. Trus, kenapa kalau di sini berbeda? Apa spesialnya tenda ini sampai selalu makan di tempat? Kau tidak malu makan sendirian terus di luar?”

“Aduh, pertanyaanku berputar di kata “sendirian” terus. Memang tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan hidupmu selain ‘sendirian”, iya, kan?”

“Aku penasaran kenapa kau tidak pernah mengajak orang lain makan bersamamu? Apa karena tidak punya teman? Maksudku, teman di dunia nyata, bukan benda-benda di kamarmu.”

Lihat selengkapnya