Saloma

myht
Chapter #24

Amidst the Blue Sands and the Gloomy Sky

“Bagai burung yang terbang bebas menembus angin yang tidak terlihat, jiwaku juga ingin merasakannya," ucap Saloma di tengah angin kencang yang bawa debu-debu melayang.

"Bagai sulur-sulur yang merayap mengikat ranting pohon, aku juga ingin bersandar pada sesuatu atau seseorang. Tidak perlu yang hatinya bersayap putih, tidak harus banyak harta duniawi, dan tidak juga harus spesifik dan spesial. Cukup yang punya ruang memadai di hati. Bukan ruangan besar dan luas temaram seperti ini,” racaunya lagi di tengah padang pasir. Tanpa pegangan, hanya berpijak di pasir berwarna biru gelap.

Sayup-sayup terdengar teriakan histeris, menangis, dan caci maki saling beradu. Seperti berasal dari ujung awan hitam abu-abu sana, tapi kadang berpindah ke sisi awan hitam lainnya. Kadang tanah bergetar dan menghentak buat tubuhnya oleng. Suara angin kencang bersiul-siul menyapu telinga. Sesekali ditariknya rambut menutupi, agar tidak masuk debu-debu pasir ke dalam gendangnya.

Mimpi ini lagi. Mimpi yang tidak asing. Sudah ke tiga kalinya Saloma kembali lagi ke gurun pasir biru gelap, berawan hitam temaram, dan sendirian.

Mimpi yang hadir pertama kali sehari setelah ia dituduh jadi penyebab kematian ayahnya. Dituduh tepat di hadapan jenazah pahlawannya itu.

Ke dua kali, di kelas 1 SMA setelah ia dan Monster bertengkar hebat. Bermula dari sepulang sekolah, seperti biasa Saloma bersembunyi di benteng. Seketika ia was-was mendengar omelan Monster yang baru saja pulang dari pasar. Nada omelannya jauh lebih tinggi dibarengi suara lemparan barang-barang. Tidak tahan mendengarnya, Saloma pun menutup telinga meringkuk di bawah selimut.

...

Bukannya berhenti, suara omelan itu malah makin mendekat dan BRAK!!! Monster menendang pintu kamarnya.

Sekali, dua kali, sampai ke tiga kali tetap tidak terbuka. Monster pun berteriak kesal, “Memang nggak malu kau sedikit pun, Saloma. Nggak malu melihat baju abang dan adekmu kusut nggak disetrika. Sampek dikata-katain orang tadi aku gagal mendidikmu jadi anak boru. Gara-gara malasmu, ku tanggunglah malu punya anak boru nggak terpakai kaya kau itu.”

Ia berkacak pinggang mengomel dan mengomel terus, “Keluar dulu kau dari kamar itu, Saloma. Nggak malu ada anak perempuan tidur seharian di kamar. Malu dulu sedikit, Saloma! Tolong dulu. Mau sampai kapanlah ku tanggung malu punya anak perempuan nggak berguna kaya kau Salomaaa.”

Sementara, Saloma meringkuk di dalam selimut, berkeringat dan putus asa. Tidak mungkin suara sekencang itu tidak terdengar ke tetangga. Bayangan wajah menuduh dan tatapan tajam di hari kematian bapaknya dulu muncul kembali. Apakah kali ini ia akan dipermalukan lagi di depan khalayak ramai sama seperti waktu itu? Suara tuduhan namborunya terdengar mengawang-awang, sama kencangnya dengan teriakan Monster.

Sesak dada semakin menggumpal tebal, Saloma pun membuka selimut. Bangkit berdiri memandangi triplek pintu yang hampir jebol. Bentengnya ternyata mudah sekali ditembus. Tempat perlindungannya selama ini ternyata hanyalah sebuah benteng lemah yang rapuh. Lalu, harus benteng yang bagaimana agar bisa kuat menahan serangan Monster?

Sementara masih bingung memikirkan hendak ke mana akan berlindung, sura omelan kian keras menggema. Lalu, tanpa peringatan muncul kekuatan dari dalam tubuhnya. Terasa panas, hidup, dan menjalar dari dada ke kepala. Seolah tubuhnya menolak untuk terus diam dan takut.

Berteriaklah ia sekencang-kencangnya sampai kaki lemah gemetar. “Aku udah menyapu sama mengepel tadi, ya! Waktu di pasar kau, udah ku pel rumah, ku cuci piring. Nggak usah asal-asal menuduh kau di situ!”

Tak ada jawaban. Hilang sudah suara omelan.

Saloma pun terduduk lega menyender ke dinding kamar. Berusaha sekuat tenaga mengatur napas yang tersengal. Seluruh tubuh gemetar hebat, dan tanpa sadar air mata mengalir di pipi. Tenaga nyaris habis terkuras bersama teriakan barusan. Digenggamnya erat-erat pinggiran tempat tidur seolah hanya itu yang bisa menahannya agar tetap sadar.

...

BRAK!!! BRAK!!! BRAK!!!

Tiba-tiba sebuah parang panjang tertancap beberapa kali ke triplek pintu bersamaan dengan jerit omelan Monster. “Dasar nggak tahu diri kau, Saloma! Nggak sopan. Berani-beraninya memanggil ‘kau’ ke mamakmu ini yang udah capek membiayai sekolahmu? Ulangi kalau berani! Anak nggak tahu diri! Sini keluar dulu kau!”

Dengan teriakan menggema di seluruh rumah, Monster mengayunkan parang sekuat tenaga mencoba merusak pintu. Menyalahkan Saloma atas segala kekacauan rumah. Terlebih lagi melontarkan jawaban yang tidak sopan.

Monster sungguh tak peduli pada maksud Saloma; yang ia dengar hanyalah pembangkangan.

Saloma panik berjalan mondar-mandir sambil mengacak-acak rambut. Memaksa otak mencari jalan keluar tercepat. Namun, tiap kali parang tertancap beringas hingga merobek gorden pintu, semakin buntu pula pikirannya.

Ia pun beralih mencari peralatan yang bisa dijadikan senjata perlindungan jika Monster berhasil menerobos benteng. Mulai dari mengacak-acak meja, mengeluarkan isi laci, lemari, dan tas. Lalu, menggelindinglah botol alkohol luka dari dalam tas tepat ke depan kakinya.

Tanpa pikir panjang diambil botol itu, mengacung-acungkannya sambil berteriak, “Ku minum racun ini kalau masih kau rusak pintu kamarku! Bunuh diri aku di depanmu sekarang juga! Kau pikir takut aku samamu? Nggak takut aku! Kalau kau coba lagi membuka pintu kamarku, bunuh diri aku di depanmu sekarang juga!”

Dari lubang triplek yang menganga ia bisa melihat Monster terkejut dan mematung di depan pintu. Parang terlepas dari tangannya, masih tertancap miring di triplek. Mereka berdua terdiam, napas memburu, dada naik turun tak beraturan. Tubuh gemetar, seakan apa pun yang baru saja terjadi masih bergema di dalam diri masing-masing.

Beberapa tetangga yang sudah berkerumun di ruang tengah mencoba membujuk Monster meninggalkan pintu. Di belakangnya, beberapa yang lain saling berdesakan menengok lewat lubang itu.

Begitu Monster berlalu dari sana, Saloma mengambil beberapa kain untuk menyumpal lobang pintu. Ia kembali duduk di lantai menangis tak bersuara. Memukul pelan dada berkali-kali untuk tenangkan diri dari rasa takut dan sesal yang tak bisa dijelaskan. Juga, dari rasa janggal setelah berhadapan langsung dengan maut yang nyaris ia undang sendiri.

Ketika napasnya mulai tenang, Saloma pun tertidur di lantai. Begitulah, untuk kedua kalinya, ia memasuki gurun berpasir biru gelap di bawah langit temaram.

  Pengalaman kedua itu membawa kesimpulan bagi Saloma: gurun berpasir biru gelap dan langit temaram adalah dunia baru. Tempat ia berlindung sementara ketika badai kehidupan di dunia nyata terlalu kuat untuk dilawan. Saat luka menekan terlalu dalam, dan pikirannya harus merangkum pengalaman-pengalaman tak biasa ke dalam memori, ia terdampar di sana.

Lihat selengkapnya