Saloma

myht
Chapter #25

Rehearsing a Lost Voice in a Silent Courtroom

Ada jurang kata yang ingin Saloma teriakkan pada dunia, terutama kepada arsitek-arsitek lukanya. Tapi yang paling mendesak adalah malam di depan peti mati bapak. Sore yang seharusnya suci karena duka, malah dikotori oleh kata-kata yang dilempar bagai kerikil tajam.

Tuduhan jadi penyebab Bapak meninggal masih berdengung kuat di telinganya. Terukir dalam sunyi yang selalu dibawa kapan pun. Ruangan yang berbau kamper dan kematian, menjadi panggung bagi ketidakberdayaannya. Ia tidak melawan. Bukan karena tak ingin, tapi karena duka telah merampas setiap kemampuan motorik untuk membela diri.

...

Saloma sering membayangkan sebuah ruang pengadilan, di mana ia bisa memanggil semua orang itu kembali. Membela dirinya sendiri, lalu menuding setiap orang yang berbisik dan menatapnya berdiri kaku di samping peti jenazah Bapak. Tapi pikiran itu terlalu naif, terlalu mustahil.

Sekarang, ia hanya bisa menatap dinding kusam dan gunungan sampah di dalam kamar berpintu. Mencari para saksi mata itu sama saja dengan mencari jejak kaki di atas air. Tidak logis. Bagaimana bisa melacak puluhan wajah yang hanya ditemui sekali dua kali dalam hidupnya? Bahkan jika menemukan satu atau dua orang, mereka akan menatapnya dengan pandangan kosong dan menjawab, "Aku lupa.”

Ingatan yang sirna telah membebaskan mereka dari dosa bisu. Melanjutkan hidup dengan mudahnya. Memanglah mereka itu kerumunan pekat yang lupa akan peran kecil mereka dalam menghancurkan seorang gadis.

Luka itu hanya satu detik buruk yang mengagetkan dalam hidup mereka, tapi bagi Saloma adalah narasi utama hidupnya. Ia harus hidup dengan luka yang mereka lupakan, sambil memegang pecahan tajam kaca memori.

Tibalah hari dimana dengungan telinga sudah melampaui batas toleransi. Di mana pun tempatnya, dengung harus disuarakan. Maka, Saloma memilih panggungnya sendiri. Berdirilah ia tegak menghadap gunungan sampah di dalam kamar berpintu. Menciptakan panggungnya sendiri, berlagak bagai pesakitan yang sedang membela diri di tengah ruang pengadilan.

Ini adalah ruang pengadilan yang jujur. Tidak ada borgol karena penjaranya ada di dalam kepala. Tidak ada hakim, jaksa, atau pengacara karena tak ada satu pun manusia yang ia percaya untuk mengemban peran itu. Dialah yang harus menjadi hakim, terdakwa, penuntut dan pembela bagi dirinya sendiri.

Putusan hukum juga tidak perlu. Cukup pengakuan bahwa lukanya nyata benar adanya. Sebab, ia tahu, sebanyak apa pun menceritakan dari sisinya, orang-orang hanya akan menepuk bahunya dan menganggap itu luka masa kecil yang seharusnya sudah tuntas. Sebuah kisah remeh yang harusnya sudah lama dilupakan. Ironisnya, di mata mereka, trauma Saloma hanyalah sampah emosi yang belum dibuang.

Maka, ia memilih saksi dan juri yang tak akan pernah berbohong: gunungan sampah yang menjulang tinggi dan berbagai macam alat bahan pencegah bau. Di mata Saloma, mereka adalah yang paling layak mendengar. Satu-satunya entitas yang ia izinkan untuk menyaksikan persidangan ini.

Mereka mengelilingi Saloma dengan ketenangan yang menipu. Dalam absurditasnya, tumpukan tertinggi di sana menjadi mimbar hakim, sebuah takhta yang terbuat dari kebusukan dunia. Sisa-sisa kardus, kain lap, segala alat dan bahan pencegah bau berperan sebagai kursi penonton yang tak pernah bertepuk tangan. Di kiri dan kanan, sisa-sisa busuk bertebaran di meja jaksa, seolah setiap partikel bau adalah bukti yang memberatkannya.

Di tengah ruang rumit itu, Saloma berdiri, satu-satunya manusia yang hadir. Di tengah kehampaan ia akhirnya menemukan ruang untuk bersuara, juga kekuatan untuk menyuarakan kebenaran luka.

Lihat selengkapnya