Saloma

myht
Chapter #31

The Regretful Prayer

12 Maret 2024

Suara langkah Saloma terdengar pelan di lantai batu gereja yang sepi. Aroma lilin dan kayu tua memenuhi udara, menenangkan sekaligus menekan perasaannya. Ia ragu sejenak di depan bilik pengakuan dosa, sebelum akhirnya membuka pintu kayu itu perlahan.

Di dalam gereja Katolik yang megah nan damai, di sore hari yang tenang, Saloma bersimpuh di dalam bilik pengakuan dosa. Bilik itu terbuat dari kayu Mahogani berukir indah dengan warna coklat gelap. Di dalamnya ada dua ruangan yang dibatasi dengan dinding kisi kayu. Sebuah Alkitab terletak di meja sudut kecil persegi. Dari dua sisi bisa terlihat siapa yang masuk meski tersamarkan oleh dinding pembatas.

Di balik kisi kayu, suara seorang Romo terdengar tenang. “Silakan, anakku.”

Saloma menarik napas panjang. “Pak Pendeta, saya sebenarnya bukan Katolik. Saya Kristen Protestan. Tapi … saya merasa … harus datang ke sini.”

Romo itu tidak tampak kaget. “Tuhan tidak memandang denominasi ketika seseorang datang dengan hati yang terbuka,” ujarnya lembut. “Katakanlah, apa yang membebani hatimu?”

Saloma menatap tangannya yang terlipat siaga berdoa. Ia belum pernah melakukan ‘pengakuan dosa’. Di hadapan Romo lidahnya seakan kelu. Beberapa menit berlalu tanpa sepatah kata pun. Hanya suara isak kecil yang tertahan, dan napas yang naik-turun di antara usaha menahan tangis.

“Anakku,” panggil sang Romo, “tidak apa-apa jika belum siap untuk berbicara. Tuhan mengerti hatimu bahkan sebelum membuka mulut. Tidak perlu terburu-buru.” Ia menarik napas pelan. “Kadang, yang pertama harus dilakukan hanyalah duduk di sini, menenangkan diri, dan membiarkan hati berbicara dengan-Nya. Setiap langkah, sekecil apa pun, adalah langkah menuju damai.”

Saloma menarik napas dalam, suara hidungnya terdengar sesekali tersengal. Romo melanjutkan, “Mazmur 34:18 berkata, ‘Tuhan itu dekat kepada orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang yang remuk jiwanya.’ Kau tidak sendiri, anakku. Kau boleh menahan tangismu, kau boleh ragu, tapi percayalah… saat kau siap, kata-katamu akan menemukan jalannya. Aku di sini untuk mendengarkan, tapi Tuhan … Tuhan sudah mendengarmu sejak awal.”

Mendengar itu, kencanglah keluar tangis Saloma. Tangannya menutup mulut agar suara tangis tidak mengganggu orang lain.

"Pak Pendeta ... " ucapnya kemudian di tengah-tengah tangis. "Saya memang bukan beragama Katolik, tapi saya percaya kehadirat Tuhan nyata atas tempat ini. Saya tidak bisa membahasakan rasa bersalah terhadap ayah saya dan terhadap Tuhan Yesus. Setiap kali melipat tangan berdoa, entah kenapa kesalahan itu selalu tersamarkan dengan dosa-dosa lainnya. Susah sekali rasanya menjangkau dosa itu untuk ku akui kepada Bapa di sorga."

Lihat selengkapnya