Saloma

myht
Chapter #17

The Elephant's Pawoo II

"Perlu aku saja yang menceritakan sisanya, Saloma?" tanya Gajah setelah beberapa menit Saloma masih diam saja.

Ia menggeleng lemah, menurunkan tangan dan berkata, “Seketika itu juga aku marah melempar kotak susu ke lantai. Berlari ke kamar sambil menangis. Sejak saat itulah aku benar-benar tidak mau lagi keluar kamar kalau bukan karena lapar atau ke kamar mandi. Mengabaikan mereka semua. Jembatanku sudah runtuh."

"Apa yang kau rasakan saat itu valid dan benar adanya, Saloma. Kau marah dan sedih karena cemburu dan kecewa."

"Ya, saat itu aku kecewa. Sangat kecewa."

"Bagaimana dengan Bapak? Apa pendapatmu tentangnya setelah insiden itu?"

"Dari raut wajah Bapak sangat jelas kalau ia pun akhirnya menyerah juga. Lenyap dari sisiku. Rasanya, ia sudah pergi sebelum kepergian yang sebenarnya. Orang-orang di rumah itu telah berhenti berusaha untukku.”

"Akhirnya kau bisa menerjemahkan perasaanmu."

Tangis Saloma pecah. Menengadah sambil berurai air mata menatap gajah sambil berseru, “Sampai kapan aku akan terus jadi budak pikiranku ini? Tolong, di dalam sudah terlalu berisik."

"Menurutmu sendiri, mengapa pikiran bisa begitu mengendalikanmu?"

"Mungkin ... karena hanya pikiranku inilah yang bertahan menemani di segala waktu. Suara debat yang berisik dan bising, jadi penangkal kalau sedih datang tanpa sebab. Tidak tahu harus mengandalkan siapa setiap kali kesulitan atau gagal mengatasi masalah. Pilihan satu-satunya, menutupi dengan imajinasi sampai melambung tinggi."

"Seperti yang kita lakukan sekarang?"

"Bukan. Lebih spesifiknya, meski solusi itu gagal di dunia nyata, aku memaksa untuk menghidupkannya dalam imajinasi. Mengatur segala sesuatunya dengan sangat rinci. Memastikan semua pihak berperan agar solusi itu sukses di sana."

"Artinya, membiarkan imajinasi mengambil alih dan menggantikan kegagalanmu mengatasi masalah, begitu?"

Saloma mengangguk. "Dan semuanya terjadi di dalam imajinasi juga, dengan aku yang jadi tokoh utama," ujarnya lirih hampir tidak terdengar.

"Dengan demikian, menurutmu itulah faktor penyebab utamanya?"

"Juga karena lama-lama jadi ketergantungan. Selesai atau gagal, masalah tak pernah benar-benar berakhir di kepalaku. Imajinasi selalu datang mengambil alih. Paling sering saat sedang sendirian atau malam sebelum tidur. Merembet kemana-mana, mengganggu pekerjaan dan rutinitasku. Banyak waktu terbuang dan momen terlewatkan hanya untuk menurutinya."

"Apakah kau pernah coba mengalihkan atau memotong saja imajinasi itu?"

"Pernah melawan, tapi ia sangat kuat. Seolah-olah aku adalah penonton dan pikiranku adalah sutradara yang menentukan setiap adegan. Pernah juga marah karena apa yang terjadi di dunia nyata berbeda dengan hasil imajinasi. Jika terus-menerus seperti ini, aku takut jadi terlalu nyaman hingga akhirnya sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya imajiansi."

"Baik. Sekarang kita masuk ke pertanyaan terakhir, Saloma. Kalau tidak bisa menutup, apakah kau tahu siapa satu-satunya yang bisa membuka pintu masuk menuju imajinasi itu?"

Tangis yang sempat reda kini pecah kembali. Sambil terisak, Saloma menjawab, "Aku."

"Artinya, kau tetap satu-satunya pemegang kendali penuh, Saloma. Kekuasaan mutlak ada di tangan Saloma yang berada di dunia nyata."

Semakin kencanglah suara tangisnya. Membenamkan wajah di kedua telapak tangan. Membebaskan suara dan segala perasaan yang menghimpit.

Lihat selengkapnya