Saloma

myht
Chapter #13

Boru II

...

Saloma yang ada di luar layar, yang tadinya tertidur lemah, bangkit tak percaya akan apa yang baru saja ditontonnya.

"Ingatan dari mana dan kapan ini," pikirnya tak lepas menatap Monster muda dan Saloma kecil masih bertangis-tangisan di layar.

Satu-satunya ingatan yang ia tahu, Monster pernah menyelamatkannya dari pelecehan itu. Gorden coklat yang tersibak tiba-tiba adalah simbol dari ingatan. Oleh sebab itu juga, Monster pernah jadi tempat teraman dan ternyaman bagi Saloma kecil, jauh sebelum peperangan terjadi.

“Kau tidak ingat, kan, Saloma?”

Saloma menggeleng kepada kanvas.

“Saloma kecil ingin menyampaikan ingatan ini untukmu. Mamak pernah jadi pahlawanmu, jauh sebelum Bapak.”

Ego sakit hati yang masih menggunung di hati menahan air mata. Kenangan pahit perlakuan Monster masih terlalu menyakitkan untuk mengakui kata 'pahlawan.'

“Kita percepat saja, yah. Hmm ... kira-kira ke satu minggu setelah moment di layar ke dua tadi terjadi. Let's go.

Layar ketiga turun sebelum layar ke dua menghilang. Di sana berputar kenangan Monster sedang mengusir saudara-saudaranya yang lain agar hanya dia dan Saloma kecil saja yang menonton TV. Di ruangan tengah bersekat gorden biru tua tebal.

TV yang mereka tonton menanyangkan film action dewasa Taiwan tanpa judul. Setelah hampir beberapa puluh menit, begitu adegan dewasa terpampang, Monster menasehati Saloma kecil.

“Saloma, yang di TV ini hanya untuk orang yang sudah besar, yah. Bukan untuk yang masih kecil seperti kau, Boru. Kalau ada orang lain mengajak bikin kaya gini, jangan mau. Langsung lari, ya, boru.”

“Iya, Mamae,” jawab Saloma menurut saja meski tidak sepenuhnya paham. Ia tidak ingin Monster menangis histeris lagi seperti sebelumnya.

“Ya, udah. Pergi main-mainlah keluar. Ingat jangan biarkan siapa pun yang pegang-pegang badanmu lagi, boru. Langsung lari, trus langsung kasih tahu mamak.”

Saloma kecil mengangguk saja dan keluar bergabung bermain dengan teman-temannya di teras rumah.

...

“Itu adalah salah satu usaha terbaik ibumu, Saloma,” suara anak kecil menggema lagi. Layar menampakkan Saloma kecil yang mengintip dari celah gorden biru tua. Ibunya menangis di depan TV yang sudah mati.

“Biar pun caranya kurang tepat tapi dia sudah berusaha. Trauma tidak hanya berdampak padamu saja, tapi juga berdampak pada dirinya. Meski kebingungan mengatasi insiden itu, dia sudah berusaha sekuat tenaga agar kau tidak jatuh terlalu dalam. Hingga Saloma kecil kuat mengantarkan luka bersama potongan-potongan ingatan lainnya padamu saat ini.”

“Tapi dia jahat.”

“Kamu sendiri tahu kan apa yang dia alami saat masih muda dulu?”

Monster memang pernah cerita kalau ayahnya atau mpung doli Saloma sangatlah kasar pada mpung berunya. Termasuk pada Monster dan saudara-saudaranya. Sampa tamat SMP, kasarnya mpung doli tidak lagi bisa tertahankan. Ia pun melarikan diri dari rumah dan merantau ke Medan, tinggal di rumah tantenya.

Setelah tamat SMA, Monster bekerja ke kota Sidikalang. Di sanalah dia bertemu dengan ayah Saloma dan akhirnya menikah di usia muda, 22 tahun. Selang setahun lahirlah kakak pertama Saloma dan selang 2 tahun berikutnya, berturut-turut lahirlah saudara-saudaranya yang lain termasuk Saloma.

...

“Dari pengalaman ibumu dan dari pelajaran kuliah di kamus, bukankah seharusnya kau bisa lebih memahami tidak hanya lukamu tapi juga lukanya? Kau beruntung bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi hingga bisa mempelajari banyak hal. Bagaimana dengan dia yang tidak punya sumber apa pun untuk mengatasi luka juga kebingungannya? Memahami kenyataan bahwa di usia muda telah menikah dan punya banyak anak? Belum sembuh trauma, sudah dihadapkan dengan berbagai masalah keluarga yang dia bangun sendiri. Bukankah harusnya ada sedikit saja maklum darimu untuknya?”

“Tapi kenapa hanya aku? Hanya aku yang dia tekan sampai hampir mati rasanya. Mengapa yang lain tidak diperlakukan sama? Kamu tahu alasan apa yang pernah dilontarkannya?”

“Karena kamu anak boru?

Lihat selengkapnya