Saloma

myht
Chapter #20

A Lot of Scenarios

Sholawat Tarhim terdengar sayup-sayup di kejauhan. Di luar langit masih gelap, angin dingin, jalanan sepi, dan suara-suara serangga sesekali masih berbunyi.

Di atas kasur Saloma masih terjaga dan menatap lekat langit gelap. Setelah mandi sore ia hanya rebahan saja dan tidak bergerak kemana-mana. Jendela dan gorden terbuka lebar. Mulai dari angin sore, malam, hingga pagi dini hari bergantian keluar masuk menyapanya.

Sejak aktif jadi ‘Teknisi Pemantau Lingkungan’, suara-suara di kepalanya kembali intens. Memang tidak seheboh dulu memancing banyak emosi datang bergantian dalam satu waktu. Kadang malah tidak bereaksi apa-apa. Hanya suara-suara ribut yang berasal dari momen-momen yang sudah berlalu, saling beradu di kepala.

Melamun di ruangan yang bersih, segar, wangi, dan enak di pandang mata, ternyata membuatnya terasa ringan. Datangnya juga sangat kasual dan mulus. Nyaris seperti tidak sedang berkhayal. Tau-tau jarum jam sudah bergerak banyak.

Lampu teras dan TV menyala non-stop sejak sore menjadi penerang. Cahaya TV memantul dan bermain-main di dinding. Suara-suaranya setia menemani sebagai alas kesadaran. Apa pun suara berisik di kepala Saloma, backsound dari TV akan melengkapi. Sekaligus menyamarkan jika lamunan lolos keluar dari mulutnya.

...

“Jam segini belum tidur juga, Saloma?”

 Suara itu menyentak Saloma dari lamunan. Matanya beralih dari langit gelap mencari sumber suara. Ia duduk dan mengedarkan pandangan lebih intens. Dipanggilnya suara itu, tak menyahut. Dengan kesal ia pun kembali rebah.

 “Apa yang sedang kau pikirkan, Saloma?” tiba-tiba suara muncul kembali.

Kesal, Saloma membentak, “Diamlah jika tidak becus mengajak bicara.”

 “Kepalamu sedang penuh makanya sulit menemukanku."

 “Lalu aku harus apa?”

 “Seperti biasa, tentukan mana yang ingin diajak bicara.”

 “Tidak tahulah. Kau saja memunculkan diri.”

 “Sepertinya isi kepalamu semakin penuh setiap hari. Padahal sudah menceritakan banyak trauma. Sudah banyak juga yang berubah selama di tempat baru ini.”

“Ya, ya, ya. Kau di mana?”

“Di atas kepalamu.”

 Saloma mendongak. Ada bola lampu tapi terlihat biasa-biasa saja.

“Bukan. Aku ada di sini. Di atas meja,” tegas suara itu lagi.

Saloma duduk kembali dan menemukan sumber suara yang sedang tersenyum lebar tak jauh di sampingnya. TV tabung jadul berukuran 40 inchi.

Lihat selengkapnya