Saloma

myht
Chapter #21

The Same Goodbye

 “Bagaimana dengan skenario cinta tak berbalas?” TV menyahut.

 “Sudah tidak pernah lagi. Mungkin karena aku sudah melepas Monster dan para pengikutnya. Bahkan sudah melepas Bapak.”

 “Kau sudah melepas Bapak?” seru TV dengan mata membelalak. Hilang sudah senyum lebarnya.

 “Ya. Cara yang sama waktu melepas bapak, ku lakukan juga untuk melepas Monster.”

 “Jelaskan apa maksudnya. Aku perlu tahu detilnya.”

 “Aku melepas Bapak dengan cara menerima bahwa dia tidak akan pernah kembali lagi. Bagaimana pun kencangnya aku berteriak, berguling-guling dan menangis. Termasuk sekali pun aku dan pemahamanku sudah berubah lebih baik. Bapak … tidak akan pernah kembali lagi.”

 TV membisu menatap haru. Saloma tidak lagi menangis menceritakan tentang Bapak. Padahal, dulu sangat sensitive dan masih sangat yakin bahwa hidupnya akan jauh lebih baik jika Bapak masih hidup. Kehadirannya akan membuat jiwa, pikiran, dan mental Saloma jauh lebih stabil hingga tak harus berenang di kolam lumpur pekat. Ia benar-benar pahlawannya.

...

 “Bapak ternyata tidak sebaik itu, TV. Dia tidak sebaik yang ada dalam pikiranku selama ini,” lanjut Saloma lagi.

 “Begitukah? Dari mana kesimpulan itu berasal?”

 “Ya, dia juga turut andil atas luka ini.”

 “Apa karna pembicaraanmu dengan ‘api ulang tahun’?”

 “Sebagian kecil. Sebagian besarnya karena ucapan Monster. Dia bilang Bapak yang menyuruh mendiamkanku. Sudah ku coba untuk tidak perduli tapi ternyata masih tetap berisik di kepala. Untuk tahu itu benar atau tidak maka harus bertanya langsung. Walau sangat ingin menyusulnya ke sana tapi konyol sekali kalau hanya membawa pertanyaan itu.”

“Artinya belum jelas kebenarannya.”

“Selain itu, kalau menilik lagi ke masa-masa itu, sebenarnya bukan hanya aku saja yang mengalami luka begini. Aku tidak tahu pasti apa yang dirasakan saudara-saudaraku, tapi satu yang pasti mereka juga pernah terluka oleh sikap Bapak yang keras. Pernah ku lihat langsung Bapak memukul kaki mereka dengan kumpulan lidi yang di kepang, gulungan kabel, bahkan pernah gagang sapu sampai patah.”

“Itu namanya kekerasan fisik. Tapi dia tidak pernah memukulmu, kan?”

Saloma menggeleng dan lanjut bercerita, “Kalau marah hanya diam saja. Kalau sudah tenang baru aku dinasehati lagi. Dulu mungkin mataku tertutup tapi kini sudah terbuka. Bukan hanya Monster, dia juga pernah melakukan hal yang tidak baik kepada saudara-saudaraku. Memang intensitas traumaku banyak bertumpu pada Monster, tapi tetap saja Bapak tidak sebaik itu.”

 “Apa menurutmu pada Monster dia juga baik seutuhnya?”

 “Aku kurang tahu pasti. Yang jelas bapak wataknya keras dan kaku. Jadi, Monster sudah dapat luka abuse dari orang tuanya, malah ditambah lagi punya suami yang wataknya keras juga. Dalam bayanganku, dia mengolah sendiri hari-harinya di rumah dan di kantor. Punya suami dan banyak anak tapi merasa kesepian. Belum harus mengurus ini itu. Berimbaslah pada anak-anaknya.”

“Yang artinya, rantai trauma Monster bukannya putus malah semakin kuat mengikatnya.”

Lihat selengkapnya