Saloma

myht
Chapter #22

The Silence and the Lessons It Brought

5 menit kemudian ….

Tiba-tiba Saloma membuka mata dan mendongak lagi. “TV,” panggilnya di tengah-tengah tayangan berita pagi. Langit sudah terang dan angin sudah mulai hangat.

Segera tampaklah lagi senyum lebar TV. “Tidurlah, Saloma. Walau pun ini hari libur, tapi kau belum tidur dari kemarin sore.”

Ia tidak mengindahkan ucapan TV. Malah membuka selimut dan lanjut berbicara. “Kalau dipikir-pikir, ada satu lagi pelajaran berharga dari pembicaraan tadi.”

“Apa itu?”

“Luka mereka dan lukaku ini adalah warisan turun temurun. Nah, pelajarannya, kalau nanti sudah menikah, aku tidak akan mau buru-buru atau memaksakan diri langsung punya anak. Harus dipikirkan berulang kali, baik sebelum dan sesudah menikah. Apakah aku dan pasanganku benar-benar sudah siap jadi orang tua yang bisa jadi segala-galanya untuk anak kami kelak? Bisakah kami konsisten menciptakan masa kecil sampai masa dewasa yang bahagia untuknya? Harus dipikirkan matang-matang supaya anakku tidak jatuh pada luka yang sama.”

“Setuju. Tapi, bagaimana kalau misalnya sudah lama dipikirkan dan ternyata belum siap juga?”

“Ya, mau tidak mau seperti prinsip yang ku pegang sampai sekarang. Childfree. Setidaknya sampai saat ini aku masih teguh dengan pilihanku. Untuk ke depannya apa pun yang terjadi, ku serahkan pada Tuhan. Artinya, itulah pilihanku sebagai manusia biasa yang sudah berusaha memahami luka dan kehidupannya. Selebihnya, bahkan termasuk atas pilihan itu sendiri, Tuhanlah yang berkuasa atas semuanya.”

“Wauw … kau benar-benar Saloma dewasa. Saloma kecil dan remaja pasti bangga akan perspektifmu. Kau menjadi dewasa dan kuat bukan tanpa alasan. Kau dipersiapkan untuk mengakhiri rantai trauma itu. Setidaknya untuk generasi dari keturunanmu jika nantinya prinsip childfree berubah.”

“Terima kasih, TV. Kata-katamu sangat menguatkanku.”

...


Krrruuukkk! Suara perut Saloma terdengar nyaring. Ia memegangi perut dan tertawa malu.

“Dasar. Makanya kalau melamun jangan sampai bablas. Sampai lupa sama perut sendiri.”

“Cerewet, ih.” Ia memakai selimut dan meringkuk kembali di dalamnya.

“Sana makan cemilan dulu baru tidur.”

Lihat selengkapnya