Setelah menarik napas panjang, ia berusaha menguatkan diri untuk melanjutkan lagi ‘pledoinya’.
“Dari pengalamanku juga, Tuhan ke dua bukanlah hal yang baik untuk ditanamkan pada anak. Walau pun mungkin maksudnya baik, tapi istilah Tuhan ke dua sungguh membingungkan. Sebab yang aku tahu Tuhan itu panjang sabar, Maha Mulia, Maha Bisa, Maha Tahu dan punya segalanya. Tuhan tidak mungkin punya trauma/luka jiwa yang akan buat ia membentak-bentak anaknya, mengabaikan, memutus komunikasi dan bahkan berubah jadi monster. Tidak akan pernah. Kemuliaan-Nya kompleks dan sempurna.”
“Yang paling mematahkan istilah 'Tuhan Kedua' dari benakku adalah fakta bahwa Bapak jatuh sakit dan meninggal. Tuhan adalah keabadian. Tidak mungkin sakit, tidak mungkin tunduk pada ajal. Bahkan Yesus pun, setelah wafat bangkit kembali demi menggenapi rencana keselamatan. Lantas, Bapak dan para orang tua lainnya itu siapa sampai berani mengaku-ngaku Tuhan kedua? Seolah-olah label itu secara ajaib akan mengubah mereka menjadi Tuhan yang sesungguhnya. Padahal itu namanya musyrik. Kesombongan level paling puncak.”
“Tapi meskipun begitu …” nada bicara Saloma melemah dari yang tadinya berapi-api. “Jujur saja, ada bagian dalam diriku yang sangat berharap Bapak bisa hidup lagi. Setidaknya untuk membantuku keluar dari 'sakit emosi' yang membelenggu ini.”
“Aku juga bingung dengan istilah Tuhan ke dua. Tuhan, kan, Maha Benar. Lalu apa mereka orang tua itu otomatis jadi Maha Benar juga?” Sebungkus bubuk kopi di pinggir gundukan sampah berteriak lantang.
“Nah, itu dia,” Saloma kembali bersemangat. “Monster pernah berkata begini ketika kami bertengkar, sesalah-salahnya orang tua, nggak pantas rasanya kalau orang tua meminta maaf pada anaknya. Durhaka kalilah kau kalau berharap seperti itu. Durhaka kalau kau harapkan aku meminta maaf samamu, Saloma. Kau sebagai anak harusnya bisa memaklumi kesalahan orang tua, karena yang bikin orang tuamu bersalah juga pasti karena tingkah lakumu. Kau itu anak boru tapi nggak berguna di rumah ini.” Nada suaranya begitu berapi-api menirukan cara bicara Monster.
“Maksudku, di balik istilah Tuhan ke dua, Bapak dan Monster tetaplah manusia biasa. Selayaknya manusia, jika bersalah sangat penting untuk meminta maaf. Bukankah begitu ajaran-ajaran pendidikan formal mau pun norma di masyarakat? Obat dari kesalahan adalah meminta maaf dan perbaiki diri. Lalu mengapa mereka dan para orang tua lainnya di luar sana merasa akan turun kasta jika meminta maaf pada anaknya atas kesalahan mereka sendiri? Mereka memarahi anak yang tidak sopan, namun lupa mencontohkan diri.”
“Mungkin fakta inilah yang membuat mereka ingin menjadi Tuhan kedua. Tuhan tidak pernah salah, maka tidak akan pernah meminta maaf. Tuhanlah yang mampu melihat dan menentukan mana salah dan benar yang sesungguhnya. Mungkin hanya prinsip-prinsip itu yang mereka ambil. Hingga, mengabaikan fakta bahwa mereka tetaplah manusia biasa yang tidak sempurna, sama seperti anak-anak mereka.”
Lelah berdiri dan berjalan ke sana-ke mari, Saloma duduk di lantai sambil tetap menjaga pikirannya agar tetap menyala lampu uraian luka batin. Tidak mengizinkan pikirannya beralih agar nuansa emosi yang sudah begitu mendalam tetap terang.
...
Dengan suara lirih penuh sadar diri, ia pun mengaku berdialog dengan benda-benda mati untuk mengurai luka adalah pelarian pahit. Sebuah halusinasi rumit yang ia ciptakan sendiri.
“Aku sadar bertingkah seperti ini, adalah hal yang salah. Berbicara sendiri seperti ini adalah gangguan aneh karena ada yang salah dengan mentalku. Namun, tidak ada yang bisa ku lakukan. Beginilah caraku mengatasi luka dan hanya bisa berharap ditemukan oleh ahli jiwa yang tepat. Sudah berulang kali mencari dan selalu berakhir dengan kertas penilaian, ‘hanya luka masa kecil’, tagihan, dan obat yang berakhir di tempat sampah. Sulit untuk percaya bahwa ahli-ahli jiwa yang telah ku temui itu tulus ingin membantu. Setiap sesi hanya terasa seperti rutinitas yang dibayar mahal. Di dalam hati masih terukir kuat anggapan dingin bahwa mereka hanyalah pedagang kepedihan. Mengulurkan tangan untuk mengambil sejumlah uang, bukan benar-benar ingin menolong.”
Seketika kegaduhan menyergap. Di tengah riuh rendah penonton, sepotong kapur ajaib di sudut kamar berteriak kencang, “Tuduhan itu terlalu mengambang dan tak berdasar!”
Semakin riuhlah ruang pengadilan. Mereka saling mengangguk setuju pada ucapan Kapur Ajaib.
“Bukan …” sambar Saloma. “Aku tidak bermaksud menuduh. Bukan juga menganggap mereka semua sama. Niatku sama sekali bukan ke arah sana.”
“Lalu apa maksudmu? Padahal kami sedari tadi sudah fokus pada cerita lukamu. Kenapa tiba-tiba membahas para ahli jiwa itu?” sahut Kotak Sereal dari atas gundukan sampah.
“Aku hanya melakukan perhitungan sederhana. Maksudku, para ahli jiwa itu pasti sudah bertemu begitu banyak pasien dengan masalah serupa, kan? Lantas, tidakkah mereka merasa bosan setiap kali ada orang seperti aku datang? Setiap kali duduk di hadapan mereka, aku membayangkan mereka diam-diam mengeluh, Huft... lagi-lagi cerita ini. Melihat ratusan wajah dengan kepedihan serupa, wajar saja jika aku berpikir mereka akan merasa jengah, dan kehilangan ketulusan untuk benar-benar mendengarkan. Iya, kan?”