18.05
“Hari ini makananmu banyak sekali. Bukannya di lemari stok cemilan masih banyak?” Spidometer memulai pembicaraan saat Saloma baru saja kembali dari membeli sate kambing, dari street food malam yang biasa ia lewati sepulang dari kantor.
Dari parkiran hingga saat itu, Spidometer tidak bersuara sedikit pun. Saloma juga sama. Tidak ingin memancing pembicaraan. Ia berusaha menikmati pencapaian hari ini tanpa gangguan. Apalagi pekerjaan di kantor beres tanpa sisa. Target penjualan bulanan akhirnya tercapai, otomatis bonus pun menunggu di depan mata. Sungguh sangat lancar harinya.
“Mau self reward karna hari ini semuanya lancar,” jawab Saloma akhirnya saat sudah di tengah jalan raya. “Ini hadiah karna berhasil bertahan sampai sejauh ini. Imbalan setelah perjalanan yang panjang.”
“Hmm … bukankah itu terlalu banyak? Trus, semua makanan itu juga harus habis malam ini, karna kalau besok pasti sudah basi. Ada nasi goreng, ayam bakar tanpa nasi, sate kambing, jus buah naga, trus itu yang kecil apa?”
“Bakso telor.”
“Yakin bisa menghabiskan semuanya?”
“Bisa. Tenang saja. Kalau pun tidak habis ya, tinggal dibuang saja.”
“Hm … tapi apa tidak terlalu berlebihan?”
“Sudah biasa makan banyak, apanya yang berlebihan?”
“Kau sendiri yang bilang sekarang sedang ada di tangga normal. Lalu, apa makanan sebanyak itu terlihat normal bagimu?”
Saloma terdiam. Matanya fokus ke depan namun pikirannya mulai ribut. Perkataan Spidometer sebagian ada benarnya juga.
“Logikanya, kalau sudah ada di tangga normal harusnya tidak makan sebanyak itu, kan? Yakin tidak akan merasa bersalah nantinya? Mengingat kau sangat sering begitu. Makan banyak, lalu ujung-ujungnya menyesal setelah makanan habis. Malah, pernah sambil menangis kau memasukkan jari ke tenggorokan, trus memuntahkan semua makanan itu. Jangan sampai terulang lagi, Saloma. Kasihan tubuhmu kau siksa begitu.”
“Kau tidak sedang memancingku, kan?”
“Ups … sorry. Bukan bermaksud seperti itu, aku cuma ….”
“Lebih baik kau diam saja. Tidak usah banyak alasan. Kita sedang berada di jalan raya, jangan sampai konsentrasiku hilang karena mulutmu yang tidak bisa berhenti bicara itu,” ucap Saloma mendadak berapi-api.