Saloma

myht
Chapter #33

Saloma's Letter : Eleanor Bridge

Seseorang tiba-tiba saja muncul saat aku tinggal selangkah lagi terjun bebas meninggalkan hidup ini. Kami berdiri bersama-sama di pinggir jembatan Eleanor yang berpagar besi raksasa saling melintang.

Saat itu ia berdiri di sampingku sambil menyanyikan lagu yang selama 5 tahun ini membuatku de ja vu, ‘Kirana’. Terpaksa aku mengulur waktu untuk terjun demi mendengar suaranya yang bagai malaikat. Walau aku sendiri tidak tahu persis seperti apa suara malaikat yang sebenarnya, namun hati terayun dan damai melingkupi. Tenang dan lembut hingga membuat terlena. Mata terpejam meresapi, memancing air mata.

Gelitik batin tiba-tiba seperti merasa sangat tidak layak diri ini mendengar suara indah itu.

“Kenapa harus jembatan Eleanor?” tanyanya tiba-tiba. Lagu yang indah itu kini berhenti.

Aku merasa hampa. Mataku terbuka lalu mendapatinya menatap kosong ke depan. Memandang sungai yang tenang dan kelokan yang gemulai serta hutan hijau di kanan-kiri. Matahari yang bersinar lembut, background indah menambah ketenangan jiwa. Aku tersenyum tak rela dan menghapus air mata.

“Kau siapa?” tanyaku tak menghiraukan pertanyaannya.

Sekilas ia tersenyum, lalu menoleh. Astaga!!! Dia … dia … wajahnya sangat persis dengan wajahku. Warna mata yang sama, hidung mancung ramping, alis tipis, dan bekas luka memanjang di pipi kanan. Itu adalah bekas sayatan pisau silet saat masih SMP. Seperti bercermin ketika melihat wajah itu seutuhnya.

“Aku Episode,” jawabnya santai.

“Episode? Nama apa itu?”

“Aku Episode yang terbuang dari kehidupanmu.”

"Sejak kapan hidupku ada episodenya? Semuanya berantakan. Episode bagian mana yang kau maksud?”

"Nanti kau akan tahu sendiri. Sekarang jawab dulu pertanyaanku."

“Tapi wajahku … wajahmu … mirip. Persis malah.”

“Jadi mengapa harus jembatan Eleanor?” Kali ini dia yang tak menghiraukan.

Ku jawab dengan kernyitan dahi. Kenapa dia tidak terkejut sama sekali, mengingat wajah kami sangat persis? Seakan-akan dia sudah terbiasa.

“Bukannya bermaksud mengganggu apa pun yang ingin kau lakukan tadi, tapi di sana ada bangku taman,” dia menunjuk ke arah bangku taman yang ada di samping kolam air mancur taman Eleanor. “Bolehkan kita berbincang sedikit sebelum melanjutkan keinginanmu tadi?”

Tanpa menunggu jawaban dia menarik tanganku memaksa menuruti perintahnya. Seperti dihipnotis, aku tidak memberontak. Dia, memang entah kenapa sangat menghipnotis. Auranya maksudku. Sedikit berbahaya. Jangan sampai kalian berjumpa dengannya.

“Jadi mengapa harus jembatan Eleanor?” tanyanya lagi untuk yang ketiga kali setelah kami duduk bersama. Lebih tepatnya mendudukkanku dengan paksa. “Apa aku harus mengulang untuk yang ke … hm … ke …. Tunggu sebentar."

Aku mendengus geli melihatnya menghitung jari-jemari. “Ke empat kalinya,” jawabku.

“Oh ia. Em … aku memang agak susah berhitung. Jadi, apa jawabanmu?” Dress putih yang menjuntai hinggga kaki mengayun seiring dia menyilangkan kaki. Terlihat sangat mendominasi.

“Memangnya perlu ada alasan khusus memilih tempat untuk bunuh diri?”

“Ah ... stop.” Dia berteriak panik tiba-tiba sambil menutup kedua telinga. “Jangan pernah mengucapkan kata-kata itu lagi di hadapanku.”

“Maksudmu, bunuh diri?” Dahiku mengernyit lagi.

Oh my goodness, plis. Jangan malah diulangi lagi. Dasar aneh. Sedari tadi pertanyaanku tidak ada yang kau jawab. Padahal, aku hanya ingin tahu apa alasanmu memilih jembatan Eleanor.”

“Kau lebih aneh. Mendengar kata bunuh diri saja sampai panik begitu.”

Stop!” Ia bangkit berdiri dan bersedekap. “Apa susahnya, sih, langsung menjawab?”

“Tidak ada alasan,” jawabku ketus.

“Kau mau mempermainkan aku?”

“Tidak.”

“Trus?”

“Ya, karena memang tidak ada alasannya.”

“Berikan alasan. Apa pun itu. Aku menunggu.”

“Memangnya bisa dipaksa begitu? Dasar tukang paksa.”

Dia kaget dituduh begitu. Bola matanya membesar. “Dan kau tak punya harapan. Si putus asa,” balasnya.

Aku pun ikut terkejut. Bola mata kami sama-sama membelalak. Gigiku gemeretak. Dengan suara lantang kubentak dia, “Lebih baik tutup mulutmu. Dari tadi menganggu saja. Coba kau tidak ikut campur, aku mungkin sudah tenang di sana. Tidak harus marah-marah seperti ini lagi.” Aku berdiri kesal dan berjalan ke jembatan Eleanor.

“Tenang? Tenang di alam sana maksudmu? Kau pikir orang yang bunuh diri bisa tenang di alam sana?” ejeknya santai mengikuti dari belakang.

Sambil berjalan, aku mendelik tajam. “Diam! Pergi sana. Jangan ganggu aku. Ini hidupku.”

Stop … tunggu dulu.”

Teriakannya itu bagai angin lalu saja. Kali ini aku tidak akan mau terhipnotis lagi. Mulutnya benar-benar jahat.

“Baiklah … aku minta maaf,” teriaknya terengah-engah dari belakang dan lebih tidak ku perdulikan lagi. Sedari dulu, aku benci kata-kata maaf. Sedari kecil banyak orang yang datang meminta maaf padaku. Seakan-akan hidup yang sudah hancur bisa utuh kembali hanya dengan kata maaf.

Lihat selengkapnya