Setelah bertangis-tangisan, mereka membiarkan sunyi menentramkan segala kenangan buruk.
Lalu, sambil sesekali terisak, Saloma mulai berbicara dari tempatnya duduk di lantai, “Yang sebenarnya terjadi … menurut pemahamanku sebagai orang yang sudah ada di tahap usia dewasa ini, kita telah sepenuhnya hilang percaya pada Monster. Sebelum insiden tuduhan itu, masih ada secercah harapan bahwa Monster, sekali pun dia monster, tetap adalah ibu kita. Walau beberapa kali membuat kita memilih, antara terima saja diperlakukan buruk olehnya atau ditelantarkan seperti banyak anak yang ditelantarkan di luar sana, tetap dia adalah ibu.”
“Dan, cercah itu hilang dalam sekejap di sana,” Foto menimpali, masih menangis.
“Ya. Semua cercah harapan sirna. Monster telah menceritakan sisi buruk kita pada semua orang sebagai tameng agar tidak disalahkan atas sakit dan kepergian Bapak. Puncak gunung es dari cerita kotor tentang kita yang disebarkannya. Mungkin, kepada orang yang datang menjenguk ketika masih sakit pun ia sudah menceritakan hal yang sama. Jadi, saat kita datang ke rumah oppung, dari hari pertama, orang-orang sudah melihat kita sebagai penyebab Bapak sakit dan meninggal. Hanya saja kita belum sadar.”
“Mungkin.”
“Kau sebagai aku yang masih remaja saat itu, belum cukup kuat menanggung akibatnya. Makanya, luka masih terbawa agar aku yang sudah cukup kuat ini dapat menerjemahkan. Sekaligus, meminimalisir efeknya dengan cara yang lebih baik.”
“Agar kita bisa menghadapi luka dan melihatnya dengan jelas.”
“Karna, dengan luka yang sudah terlihat jelas, maka dengan jelas pula kita bisa tahu ke daerah mana saja betadine akan dioleskan.” Saloma dan Foto saling bersahut-sahutan.
“Artinya, saat itu, bukan hanya kehilangan Bapak ….”
“Juga kehilangan sosok ibu, seutuhnya tanpa sisa dari hidup kita.”
Foto pun menghembuskan nafas lega. “Pantas saja harus kau yang menerjemahkan lukanya. Aku tidak akan sanggup, walau hanya membayangkan, kehilangan dua orang tua sekaligus dalam satu waktu. Apalagi di depan banyak orang, dengan cara yang tidak baik juga,” ucapnya tenang.
“Dan benteng yang terbangun di hari yang menyakitkan itu, sudah bisa kau runtuhkan sekarang. Berat sekali pasti jika membawanya terus. Di usia dewasa ini, kehidupan memang semakin berat, namun semakin luas lapang di dada. Cukup luas agar reruntuhan benteng tidak mengenai bagian hati dan luka batin yang lain.”
Lama Foto memandangi Saloma dewasa. Dalam sorot mata ada keraguan samar, apakah memang sudah tepat waktunya untuk meruntuhkan benteng pertahanan.
Lalu ia pun berkata, “Menurutku … setelah kau berhasil mengatasi efek lukanya sampai tuntas, aku yakin benteng itu akan runtuh sendiri tanpa bantuanku.”
Saloma terhenyak tak dapat berkata-kata lagi.
…
Tiba-tiba ruangan bergetar seperti akan runtuh. Foto Saloma remaja seketika kembali ke bentuk semula. Menjadi foto biasa yang berpigura indah berukuran sedang di atas meja belajar. Di getaran berikutnya, telepon dan meja bundar sudut kamar ikut menghilang.
Meski begitu, Saloma tidak panik. Ia pun mengambil foto Saloma remaja dan berbicara lembut seakan-akan takut foto itu pecah. “Ada satu hal lagi yang terlupakan olehmu, Saloma remaja. Pada hari kematian Bapak, jam sembilan malam kurang, keluarga besar akhirnya sepakat untuk merelakan dengan mencabut selang pernapasannya. Jam sembilan lebih, dia sudah tidak bernafas lagi. Pergi untuk selama-lamanya.” Berlinang air matanya mengingat kembali malam saat ayahnya pergi persis di depan mata.