Saloma

myht
Chapter #27

Juli and Saloma : Leaps of Recovery

"Dokter sudah berbicara dengan Mamae?"

Dokter Juli tersenyum menatap Saloma lembut. Lalu, sambil memeriksa beberapa catatan terapi, ia menjawab, "Sudah. Kenapa?"

"Cuma mau tanya aja."

"Kamu tidak penasaran kami membicarakan apa?"

Saloma menggeleng. "Aku sudah memutuskan untuk menjauh dari mereka, dok."

Juli tidak menanggapi dan membiarkannya mencurahkan isi hati. Begitulah cara konsultasi mereka. Jika Saloma sudah memulai pembicaraan, maka sebisa mungkin Juli tidak menginterupsi.

Pada dasarnya, Saloma adalah orang yang sangat suka berbicara. Cerpen buatannya sudah lebih dari cukup untuk membuktikan. Tanpa pengalaman menulis, isi cerita lengkap dan kronologis.

Bedanya, di sesi terapi langsung, Juli harus jeli menangkap cerita imajinasi yang dilontarkan. Harus pandai memilah manakah informasi yang benar dan mana yang salah. Mana pesan yang sebenarnya sangat ingin disampaikan dan mana cerita yang hanyalah cerita.

Awalnya, Saloma kewalahan menjelaskan jika dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan basic. Pertanyaan yang biasanya orang lain akan bisa menjawab dengan cepat. Jawabannya akan saling tumpang tindih, lari dari topik dan kadang malah mendiamkan saja.

Dengan panduan buku harianlah, tanpa banyak rintangan ia bercerita tentang apa yang dirasakannya saat menuliskan isi hati di sana. Banyak lagi isi buku itu, sampai-sampai Juli kebingungan membaca. Sebab, kebanyakan isinya singkat. Beberapa hanya kalimat-kalimat random saja. Ada juga yang tidak bertanggal, hanya nama benda atau merk sesuatu yang tidak sengaja terbaca di perjalanan pulang kerja.

Awalnya cerita Saloma terdengar biasa-biasa saja. Tidak ada yang janggal. Seperti cerita pasien pada umumnya. Tiba saat cerita tumpang tindih dengan imajinasi, Juli pun akhirnya bisa masuk seutuhnya ke dunia asli Saloma. Di sanalah ia banyak mengolah informasi dan tekanan terberat pasiennya itu.

Karena, hanya dengan membebaskannya bercerita sambil memainkan imajinasi, Juli dapat masuk ke dalam hatinya yang penuh dengan himpitan luka. Imajinasi yang sudah terlatih oleh dirinya sendiri sejak lama. Tak lupa, Juli juga berkoordinasi dengan keluarga dan orang-orang terdekat, terutama ibu Saloma untuk mencari tahu dan memvalidasi cerita.

Syukurnya, meskipun prosesnya memakan waktu lama, kondisi Saloma akhirnya membaik. Ia masih harus menjalani pemulihan secara bertahap sebelum benar-benar bisa kembali ke tengah masyarakat.

...

"Mereka yang membuatku seperti ini, Dok. Aku tidak ingin bersama mereka lagi. Sekali pun sudah keluar dari sini, aku ingin hidup menjalani hidup sendiri. Selama ini aku bingung mereka itu keluarga atau bukan. Ingin sekali rasanya melepas, tapi tidak mungkin karena kami sedarah dan sekandungan. Ingin kembali bersama tapi amat teramat tidak nyaman walau hanya berbasa-basi. Seperti tenggelam di lautan dalam. Akhirnya, aku hanya di tengah-tengah saja terombang-ambing ke sana-ke mari."

"Saloma, aku senang kamu akhirnya bisa mengakuinya. Menyadari sesuatu yang kalau aku atau orang lain yang bilang begitu padamu, pasti akan terasa sangat menyakitkan. Kamu sudah menemukan titik koordinatmu sekarang. Maka dari itu, mulailah mengatur hidupmu lagi. Dari awal kalau mau."

Lihat selengkapnya