Angin segar menyambut Saloma saat menginjakkan kaki di teras gereja. Matahari sore bersinar lembut. Jalan raya terasa lebih nyata dibanding saat berangkat tadi. Suara-suara di sekitarnya lebih jelas terdengar.
Samsudin bangkit dari tempat duduknya menghampiri. Mereka berjalan berjalan bersama ke parkiran sambil berbincang ringan.
“Pak, saya mau tanya, deh,” ucap Saloma bernada serius di tengah perbincangan. “Bapak tahu nama asli saya, kan?”
“Tahulah, Neng. Semua pasien dokter Juli saya hapal namanya.”
“Berarti Bapak tahu, kalau anak-anak yang lain memanggil saya Saloma?”
Pak Samsudin terdiam.
“Tidak apa-apa, pak. Saya sudah tidak marah lagi. Dulu marah karena nama saya bukan Saloma, tapi mereka selalu memaksa untuk pakai nama itu. Lagian, Jocelyn sepertinya memang suka menamai orang pakai nama yang aneh-aneh.”
“Saya aja dinamai Romi, Neng. Singkatan Rokok Mild karena rokok saya ada tulisan Mildnya,” sambung Samsudin lalu tertawa. Sementara Saloma berdecak menggelengkan kepala.
“Kalau Saloma kepanjangannya apa, pak?” tanyanya lagi.