Kemala sedang menatap layar laptopnya, melirik jam dinding yang serasa lambat berputar menuju jam lima. Beberapa hari ini hatinya merasa gelisah tidak menentu. Sudah lebih dari tiga hari, tidak bisa berkomunikasi dengan ibunya karena pekerjaan yang banyak.
Ponsel di sampingnya bergetar, nomor baru yang terasa familiar hampir saja ia abaikan. Deadline di depannya lebih penting. Tapi panggilan itu terus berdering, tidak berhenti.
Akhirnya ia angkat.
“Halo?”
Beberapa detik tidak ada suara. Hanya napas pelan di seberang sana.
“Mala…”
Kemala langsung mengenali suara itu. Teman kecil yang tinggal satu desa dengannya.
“Ning? Rining?”
“Iya…” Nada suaranya tidak seperti biasanya. Tidak ceria, tidak santai. Pelan dan seperti menahan sesuatu.
Kemala langsung duduk tegak.
“Ada apa, Ning?" Tanya Mala gelisah, di seberang sana terdengar helaan napas panjang.
“Ibumu sakit, Mal…”
Jantung Kemala langsung berdegup lebih cepat. Sudah dia duga, jika Rining menelpon,pasti terjadi sesuatu dengan ibunya.
“Sakit apa? Sejak kapan? Kamu udah bawa ke dokter?”
“Udah…” suara Rining terdengar ragu, “Kemarin siang aku anter ke puskesmas. Katanya nggak ada apa-apa. Cuma kecapekan.”
Kemala mengernyit.
“Terus?”
" Barusan aku antar lagi ke Bidan Tini, karena katanya perutnya masih sakit, tapi ini aneh, Mal.” Nada suara itu membuat perut Kemala tiba-tiba terasa tidak enak.
“Aneh gimana?"
“Kalau ibumu biasa aja. Bahkan masih sempat nyapu halaman. Ngobrol juga masih normal.”
Kemala sedikit lega.
“Ya mungkin capek aja, Ning. Kan ibu juga nggak pernah bisa diam.”
“Iya… aku juga pikir gitu.”
Rining terdiam sebentar.
“Tapi malamnya beda.”
Kemala tidak langsung menjawab.
Ia menunggu.
“Sejak beberapa hari ini, setiap malam ibumu tiba-tiba bilang panas. Padahal cuacanya biasa aja. Perutnya membengkak. Terus… sering ngelantur.”
“Ngelantur gimana?”
“Kayak orang lagi mimpi, tapi matanya kebuka.”
Kemala menelan ludah.
“Ngomong apa?”
Rining tidak langsung menjawab.
“Kadang nggak jelas… kadang kayak ngomong sama orang.”
Kemala mencoba tetap tenang.
“Mungkin demam, Ning. Orang demam juga bisa gitu.”
“Iya… tapi ini beda, Mal.”
Lagi-lagi jeda.
“Semalam aku temenin dia sebentar. Dia tiba-tiba bangun… terus bilang jangan ganggu...jangan ganggu...pergi...pergi....”
Kemala mengernyit.
“Ganggu apa?”
“Itu dia… aku juga nggak ngerti.”
Suara Rining semakin pelan.
“Padahal di rumah cuma ada aku sama ibu.” Ruangan kantor yang tadinya terasa biasa saja, mendadak jadi sunyi di telinga Kemala.
“Ning… kamu yakin nggak salah denger?”
“Aku juga pengen itu cuma salah dengar, Mal.”
Kemala mengusap pelipisnya.
Deadline di layar laptopnya mendadak tidak terasa penting lagi.
“Kamu sekarang di rumah ibu?”