Darma masih duduk di samping ranjang, menatap wajah ibunya yang kembali terpejam. Tatapan kosong itu belum benar-benar hilang dari pikirannya. Ada sesuatu yang terasa janggal. Bukan sekadar tidak mengenali… tetapi seperti tidak melihat apa pun. Karena biasanya Wulandari paling antusias kalau Darma yang pulang, dia pasti menanyakan kedua cucu kembarnya. Tetapi, apa yang dilihat Darma hari itu benar-benar membuatnya bingung.
Pelan, ia mengulurkan tangan dan menyentuh dahi ibunya.
Panas.Tetapi, tidak seperti demam biasa. Kulit ibunya terasa dingin di luar, sementara panasnya seperti terperangkap di dalam tubuh. Sensasi itu membuat Darma langsung menarik tangannya kembali, refleks.
Ia menelan ludah.
Perasaan tidak enak itu muncul lagi.
Bukan cuma khawatir. Tetapi seperti… ada sesuatu yang tidak seharusnya ada di dalam tubuh ibunya.
Darma berdiri perlahan, lalu melangkah keluar kamar. Kembali ke luar menuju mobilnya untuk mengambil roti coklat kesukaan ibunya yang dia sempatkan beli sebelum memasuki area desanya yang sangat sepi, jauh dari tempat keramaian. Sebelum masuk ke dalam rumah, Darma melihat ke sekeliling rumah yang hampir gelap. Suasana magrib hari itu tidak seperti biasanya, angin dingin, lampu jalanan redup, dan rumah-rumah tetangga yang terletak cukup jauh semua pintunya tertutup. Sepi, seperti semua orang sedang tidak berada di rumahnya. Darma kembali masuk ke dalam rumah, langkahnya melambat begitu memasuki ruang tengah. Seolah tubuhnya sendiri menolak untuk bergerak terlalu jauh dari pintu kamar itu.
Rumah itu masih sama. Letak kursi, meja, lemari—semuanya tidak berubah.
Tetapi suasananya… berbeda.
Sunyi.
Bukan sunyi biasa. Sunyi yang terasa penuh, seperti ada sesuatu yang diam tapi hadir.
Biasanya rumah ini tidak pernah benar-benar sepi. Selalu ada suara televisi yang menyala, suara piring dari dapur, atau sekadar suara sapu yang digesek pelan oleh ibunya setiap sore.Kalau enggak, ya celotehan ibunya yang tidak pernah berhenti.
Sekarang tidak ada apa-apa.
Hanya keheningan yang terasa menekan. Darma berdiri beberapa detik di tengah ruangan, menatap kosong ke depan. Dadanya terasa sesak. Seperti ada yang mengawasi. Tetapi, saat ia menoleh ke kanan dan kiri, tidak ada siapa-siapa. Ia mencoba mengabaikannya dan berjalan ke dapur. Semakin masuk, bau tidak enak mulai tercium. Tidak menyengat, tapi cukup untuk membuat perutnya tidak nyaman. Piring kotor menumpuk di wastafel. Sisa makanan yang sudah mengering menempel di permukaannya. Meja dapur terasa lengket saat disentuh, seperti tidak dibersihkan selama berhari-hari. Darma membuka rice cooker.
Kosong.
Ia membuka lemari penyimpan makanan.
Hampir tidak ada apa-apa.
Tidak ada beras.
Tidak ada bahan makanan.
Tidak ada tanda-tanda seseorang memasak di sana dalam beberapa hari terakhir.
Padahal… ibunya tidak pernah seperti ini. Sekalipun sakit, dapur selalu terurus. Selalu ada sesuatu untuk dimakan. Darma berdiri lama di sana, menatap kosong ke arah dapur yang terasa asing.
“Ibu makan apa…?” Pertanyaan itu keluar pelan, hampir seperti bisikan.
Tetapi rumah itu tidak menjawab.
Enam bulan, ya, selama enam bulan terakhir Wulandari tidak pernah dikunjungi anak-anaknya lagi. Anak pertamanya Kemala yang dulu sering hampir setiap weekend pulang, tidak bisa pulang lagi karena harus pindah ke Jakarta ke kantor pusat. Sebuah peluang besar yang tidak ingin di sia-siakan Mala. Darma, anak kedua Wulandari mulai sibuk karena anaknya sudah masuk sekolah. Sementara Satya anak ketiganya meskipun berada di kota Malang, hampir tidak pernah ada waktu karena sibuk kuliah. Tetapi, selama enam bulan ini, anak-anak Wulandari memastikan ibunya selalu tercukupi dan terpenuhi, bahkan uang bulanan pun jadi bertambah. Dan, lewat telepon ibunya juga mengatakan selalu baik-baik saja. Semuanya terasa berbanding terbalik setelah Darma melihat kondisi rumah ibunya sekarang.
***
Hari mulai malam, Darma melirik jam di tangannya, masih jam tujuh malam, sebenarnya ini masih bisa dibilang sore, tetapi, suasana rumah sudah mencekam.
Bayangan rumah laba-laba mulai memanjang, menempel di sudut-sudut ruangan yang kotor. Darma menghela napas berat, bertanya dalam hati, sudah berapa bulan ibunya tidak membersihkan rumah. Apakah, karena anak-anaknya tidak pulang, maka ibunya tidak semangat bersih-bersih, ini sesuatu yang tidak mungkin lagi, mengingat masa mudanya ibunya adalah seorang perawat yang selalu menjaga kebersihan.
Darma duduk di ruang tengah, satu-satunya ruangan yang masih terlihat sering disinggahi orang adalah ruang tengah, ruang favorit ibunya saat menonton televisi.
Darma menatap layar ponsel cukup lama sebelum akhirnya menelpon, kakanya.
“Mbak…aku udah sampai rumah."
“Iya, Dek. Gimana?” Suara Kemala terdengar cemas.
Darma menarik napas panjang. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
“Parah, Mbak…”
Hening beberapa detik.
“Parah gimana?”
“Ini… bukan kayak yang mbak ceritain.”
“Maksudnya?”
Darma menatap ke arah kamar ibunya.
“Ini lebih parah. Ibu kurus banget. Lemes. Kayak… nggak pernah makan.”
Kemala tidak langsung menjawab.
“Kok bisa, mbak kirim uangnya lebih loh selama ini,."
“Iya aku tahu Mbak, aku juga heran. Ini rumahnya juga kotor banget, kayak berbulan-bulan enggak dibersihkan.”
“Hah?”
“Kotor, Mbak. Berantakan. Dapur kosong. Nggak ada makanan.”
Kemala langsung tidak percaya.
“Itu nggak mungkin…”
“Aku juga mikir gitu.”
Darma menunduk, melihat ke sekeliling ruangan, rumah yang dulu hangat sekarang terasa pengap dan lembab.
“Ibu nggak mungkin biarin rumah kayak gini, kita tahu ibu itu super duper bersih, ada kotoran dikit aja ngomelnya minta ampun, dia nggak tahan kotor. ”
Hening. Tidak ada jawaban dari Darma, dia sembari melirik ibunya yang tertidur pulas dengan tubuh kurusnya.
“Tadi pas kamu lihat ibu gimana, dia tahu kamu pulang?” tanya Mala setelah tidak ada jawaban apapun dari adiknya.
“Dia lihat aku… tapi kayak nggak kenal.”
Sunyi lagi.
“Dek… jangan nakut-nakutin.”
“Aku juga nggak mau, Mbak…” suara Darma mulai melemah, “aku juga takut.” Ia mengusap lengannya sendiri.
Bulu kuduknya berdiri sejak tadi.
“Mbak…”
“Iya?”
“Rumahnya beda."
Nada suaranya pelan.
Lebih dalam.
“Beda gimana?”
Darma menatap kosong ke depan.
“Dingin…”
“Kan emang di sana selalu dingin, Dek." Mala mencoba mencairkan suasana, karena Desa Mala memang masih terasa sangat dingin.
“Bukan…”
Darma menelan ludah.
“Kayak… dingin dari dalam.”
Kemala tidak menjawab.
“Aku tadi mau sholat Maghrib …” lanjut Darma pelan, “biasanya biasa aja. Tapi tadi…”
Ia berhenti sebentar.
“Merinding, Mbak.”
Hening.
“Kayak ada yang lihat.”
Kemala menarik napas panjang.
“Dek… jangan mikir aneh-aneh dulu.”
“Enggak mikir aneh Mbak." suara Darma makin pelan, “tapi ini nggak enak, bedalah pokoknya rasa di dalam rumah."
Beberapa detik mereka sama-sama diam.
Lalu Kemala bertanya,
“Mbak Sulastri datang lihat ibu nggak?”
Darma mengangkat kepala.
“Nggak ada datang dari tadi, enggak tau kalau tadi pagi, tapi di rumah benar-benar nggak ada makanan."
“Coba kamu lihat di rumahnya, tanya sebenarnya ibu kenapa?"
“Rumahnya tutup. Dari tadi aku lihat nggak ada orang.”