SAMAR

Dewie Sudarsh
Chapter #4

Bab 3 : Jalan Pulang

Kemala tidak benar-benar tidur malam itu. Ia hanya berbaring dengan mata terpejam, tapi pikirannya terus berputar, mengulang kata-kata Darma yang terasa semakin tidak masuk akal setiap kali diingat. “Ibu seperti bukan ibu.”

Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa meninggalkan rasa dingin yang sulit dijelaskan. Ia mencoba menenangkan diri dengan logika—mungkin Darma panik, mungkin hanya salah lihat atau mungkin hanya efek kelelahan. Tetapi, makin ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, semakin kuat perasaan tidak enak itu muncul, seperti firasat yang diam-diam menolak untuk diabaikan. Perasaan itulah yang akhirnya membuat Kemala cepat meraih ponselnya dan memesan tiket pesawat untuk pulang, secepatnya. 

Subuh bahkan belum benar-benar terang saat Kemala sudah duduk di ruang tunggu bandara. Orang-orang lalu lalang seperti biasa, suara pengumuman terdengar bersahutan, dan aroma kopi dari kafe kecil di sudut ruangan terasa begitu nyata. Tetapi, semua itu tidak benar-benar ia rasakan. Tubuhnya ada di sana, tapi pikirannya sudah jauh lebih dulu sampai di rumah. Jarinya terus menggenggam ponsel, seolah menunggu sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak tahu apa.

Saat ponselnya akhirnya bergetar, ia langsung menjawab tanpa melihat nama.

“Mbak…”

Suara Darma terdengar lebih tenang dibanding semalam, tapi justru itu membuat Kemala sedikit ragu.

“Iya, Dek. Gimana ibu?”

“Sekarang mendingan. Tadi bangun, nggak kejang lagi. Badannya cuma lemes."

Kemala menghela napas pelan. Ada sedikit rasa lega, tapi tidak cukup untuk menghapus kegelisahannya.

“Serius, ini Mbak udah di bandara, nanti sebelum siang semoga sudah sampai rumah, kita bawa ibu ke Dokter di kota.”

“Iya Mbak. Aku juga bingung, menjelang subuh, ibu sudah baikan, tidak demam lagi.”

Kemala terdiam sebentar sebelum akhirnya bertanya pelan, “Kamu yakin… semalam nggak salah lihat perilaku ibu?”

Darma tidak langsung menjawab, tetapi ketika akhirnya ia bicara, suaranya terdengar lebih pelan, tapi pasti.

“Aku yakin, Mbak.”

Jawaban itu justru membuat perasaan Kemala semakin berat. Ia tidak melanjutkan pertanyaan. Tidak ada gunanya. Ada sesuatu yang tidak beres, dan ia tahu, ia hanya akan mengerti kalau melihatnya sendiri.

Perjalanan terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Dari Jakarta ke Surabaya, lalu dilanjutkan ke Malang, hingga akhirnya masuk ke desa. Waktu berjalan, tapi perasaan Kemala seperti tertahan di satu titik yang sama. Ia lebih banyak diam, hanya sesekali menatap ke luar jendela, melihat jalanan yang berubah dari padat menjadi lengang, dari kota yang ramai menjadi desa yang perlahan sunyi.

Saat mobil mulai memasuki wilayah desa, suasana berubah tanpa perlu dijelaskan. Jalanan menyempit, rumah-rumah mulai berjauhan, dan pepohonan di sisi jalan berdiri lebih rapat, seolah membentuk lorong panjang yang memisahkan dunia luar dengan tempat yang sedang ia tuju.

Cahaya matahari yang mulai turun tidak lagi terasa hangat, justru meninggalkan bayangan panjang yang bergerak perlahan mengikuti arah mobil.

Tidak banyak orang di jalan. Sesekali hanya terlihat satu dua motor lewat, atau seseorang berjalan cepat dengan kepala sedikit menunduk. Selebihnya, hanya suara mesin mobil dan angin yang masuk dari jendela, membawa hawa dingin yang tidak sepenuhnya wajar untuk sore hari.

Kemala tidak berkata apa-apa, tapi tangannya tanpa sadar menggenggam tasnya lebih erat. Saat akhirnya sampai di rumah, langkahnya tidak lagi secepat saat di kota. Ada jeda kecil sebelum ia benar-benar masuk, seolah tubuhnya perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan sesuatu yang tidak terlihat.

Darma sudah menunggu di depan, wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya.

“Ibu di dalam,” katanya pelan.

Kemala langsung menuju kamar tanpa banyak bicara. Tetapi, begitu sampai di ambang pintu, langkahnya melambat.

Wulandari terbaring di ranjang, matanya terbuka, menatap ke arah pintu. Tidak sepenuhnya kosong seperti yang dibayangkan Kemala, tetapi juga tidak benar-benar sadar.

“Bu…” suara Kemala melembut, sedikit ragu. Ia mendekat dan duduk di samping ranjang, lalu menggenggam tangan ibunya. Hangat. Lebih normal dari yang ia bayangkan.

“Ibu… ini Mala."

Wulandari menoleh pelan, dan untuk sesaat, ada sesuatu yang kembali di matanya. Tidak sepenuhnya jelas, tetapi cukup untuk dikenali.

“Mala…” ucapnya pelan.

Lihat selengkapnya