SAMAR

Dewie Sudarsh
Chapter #5

Bab 4 : Penyakit Aneh Ibu

Malam turun lebih cepat dari biasanya.Padahal jam baru menunjukkan pukul tujuh, tapi suasana di dalam rumah sudah terasa seperti lewat tengah malam. Sejak habis Mahrib tadi, bulu kuduk Mala merinding. Perlahan langkah Mala menuju kamar ibunya yang gelap, padahal dia sangat yakin sekali kalau tadi lampu dikamar ibunya menyala. Mala masuk, melihat ibunya duduk di ranjang. Mala menghampiri ibunya, untuk mengajaknya makan.

"Ibu, ayo makan dulu. Mahrib tidak boleh tidur Bu, atau ibu mau sholat Mala bantu."

"Buat apa sholat?" Suara Wulandari berat dan serak. Jantung Mala berdegup kencang. Benar-benar ini bukan ibunya lagi.

"Mbak," panggil Darma bersamaan dengan menyalakan lampu, mengangetkan Mala.

"Kamu ini, bikin kaget aja." Mala menoleh ke arah Darma dengan mata melotot.

"Bangunin Ibu, jangan boleh tidur jam segini pamali." Darma mengecek kembali jendela-jendela kamar Ibu, sementara Mala langsung menoleh ke arah ibunya, dan betapa kagetnya Mala ketika melihat ibunya masih tertidur pulas. Mala terjatuh di lantai, membuat Darma panik langsung menghampiri Mala.

"Kenapa Mbak?"

"Ta....ta....di Ibu sudah bangun." Mala yakin dia tidak sedang berhalusinasi, tadi ibunya benar-benar sudah bangun dan bicara dengannya. Darma kembali mengecek ibunya yang masih tertidur pulas.

"Ibu masih tidur mbak, sudah ayo bangunkan dulu, kita ajak makan." Darma membangunkan Wulandari pelan-pelan dan mengajaknya untuk makan.

***

Lampu ruang tengah menyala, tapi cahayanya tidak benar-benar membuat ruangan itu terasa hidup. Bayangan di sudut-sudut justru terlihat lebih tebal, seperti menempel diam tanpa bergerak.

Kemala duduk di depan meja makan dengan piring yang sudah terisi, tapi belum disentuh. Di seberangnya, Darma bersandar lelah, sesekali melirik ke arah Ibunya. Tidak ada yang benar-benar ingin makan. Tetapi mereka tetap duduk di sana, mencoba bertingkah seolah semuanya masih normal.

“Ibu ayo makan,” ajak Kemala pelan. Tetapi, ibunya hanya diam seperti orang linglung. Darma dan Mala saling pandang, lalu mereka mencoba bergantian menyuapi ibu dengan bubur hangat.

“Bu… makan dulu ya,” kata Kemala pelan.

Wulandari menoleh.

Tatapannya jatuh ke piring di depannya.

Diam.

Beberapa detik.

Lalu ia menggeleng pelan.

“Ibu tidak lapar." Suaranya datar. Tidak lemah, tetapi juga tidak hidup. Kemala menahan napas. Ia memperhatikan wajah ibunya lebih lama. Ada sesuatu yang berubah, tapi sulit dijelaskan.

Bukan hanya karena sakit. Tatapannya yang kosong. Seperti melihat sesuatu yang tidak ada di depan mereka.

Darma ikut memperhatikan, lalu tanpa sadar menggosok lengannya sendiri.

“Dingin, ya…” gumamnya pelan.

Kemala menoleh.

“Dingin gimana?”

“Nggak tau… dari tadi badan rasanya nggak enak.”

Kemala tidak langsung menjawab. Ia sendiri merasakan hal yang sama, tetapi memilih diam. Udara di dalam rumah itu memang terasa aneh. Bukan dingin karena angin.Tetapi seperti… hawa yang tidak terlihat. Suara pintu depan tiba-tiba terdengar.

Pelan.

Seperti ada yang mendorongnya tanpa benar-benar mengetuk.

Kemala dan Darma langsung menoleh bersamaan.

“Siapa?” tanya Darma sedikit keras.

Tidak ada jawaban.

Hanya suara langkah pelan.

Mendekat.

Kemudian—

“Bulik." Suara itu terdengar familiar.

Kemala langsung berdiri. Dan saat sosok itu muncul di ambang pintu. ia terdiam.

Sulastri.Tetapi, bukan Sulastri yang mereka kenal. Perempuan itu berdiri dengan pakaian mencolok. Baju ketat berwarna terang, rambut ditata rapi, wajah penuh riasan tebal yang membuatnya tampak berbeda jauh dari biasanya. Bibirnya merah menyala, alisnya dibentuk tajam, dan anting besar menggantung di telinganya.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Darma melirik Kemala.

Kemala melirik balik.

Tanpa suara, tapi sama-sama berpikir hal yang sama.

Ini… siapa?

“Lho… kapan kalian datang?” Sulastri tersenyum lebar, seperti tidak merasa ada yang aneh. Kemala masih belum menjawab. Ia berusaha menyesuaikan wajah di depannya dengan ingatannya.

Sulastri yang dulu selalu berjilbab.

Sederhana.

Tidak pernah berlebihan. Sekarang yang berdiri di depan mereka seperti orang lain.

“Bulik Sakit?” lanjut Sulastri, berjalan masuk tanpa benar-benar dipersilakan.

Suaranya ringan. Terlalu ringan untuk situasi seperti ini.

Kemala akhirnya bicara dengan nada sinis, karena baginya sangat mustahil kalau Sulastri tidak tahu keadaan ibunya.

“Ibu sepertinya udah sakit dari Minggu kemarin, masa Mbak Lastri nggak tahu?"

“Ya ampun, aku tuh nggak tahu, Mal,” kata Sulastri cepat, duduk tanpa ragu.

“Aku lagi sibuk banget soalnya Nduk. Danis kan mau lulus. Banyak acara di sekolahnya. Ini itu, ini itu…”

Ia terus bicara.

Lihat selengkapnya