SAMAR

Dewie Sudarsh
Chapter #6

Bab 5 : Sakit Ibu Yang Semakin Aneh

Malam itu belum benar-benar larut, tetapi rasanya sudah terlalu panjang untuk dilalui.

Di dalam kamar, udara terasa berat dan pengap, seolah setiap tarikan napas harus dipaksa masuk ke dalam dada.

Wulandari masih terbaring di atas ranjang, tubuhnya mulai tenang setelah tadi meraung kesakitan, tapi sisa-sisa ketegangan masih terasa jelas di wajahnya. Keringat dingin membasahi pelipisnya, rambutnya menempel tidak rapi, dan napasnya naik turun pelan, tidak sepenuhnya stabil.

Darma duduk di samping ranjang dengan segelas air putih di tangannya. Tangannya sedikit gemetar saat ia mengangkat gelas itu, lalu memejamkan mata sejenak. Dengan suara pelan, hampir seperti bisikan, ia membaca surat Al-Fatihah. Setiap ayat keluar perlahan, tidak tergesa, seolah ia menggenggam harapan di setiap kata yang diucapkannya. Di luar kamar, tidak ada suara apa pun. Bahkan suara jangkrik yang biasanya terdengar dari halaman seperti menghilang, meninggalkan keheningan yang terlalu sempurna untuk terasa wajar. Setelah selesai, Darma meniup pelan ke arah air itu, lalu menyuapkannya ke bibir ibunya.

“Bu… minum dulu…”

Wulandari membuka mulut sedikit. Air itu masuk perlahan, dan untuk beberapa detik, tidak terjadi apa-apa. Lalu— tubuhnya yang tadi tegang mulai melemas. Napasnya menjadi lebih teratur. Tangannya yang sebelumnya mencengkeram perut, perlahan jatuh lemas di samping tubuhnya.

Matanya terpejam.

Diam.

Seolah semua rasa sakit tadi hanya lewat sebentar, lalu hilang begitu saja.

Kemala dan Darma saling pandang.

Tidak ada yang bicara.

Karena mereka sama-sama sadar— ini tidak normal. Jam dinding di ruang tengah terdengar berdetak pelan.

Pukul sepuluh malam.

Masih terlalu awal untuk malam yang terasa sepanjang ini.

Darma berdiri perlahan, mengusap wajahnya.

“Aku belum sholat Isya." Suaranya pelan, seperti ragu untuk bicara terlalu keras di dalam rumah itu. Kemala mengangguk.

“Iya, sholat dulu, Dek. Aku jagain ibu." Darma melirik ke arah ranjang.

Wulandari masih terbaring.

Tenang.

Terlalu tenang.

Ia menarik napas panjang, lalu melangkah keluar kamar.

Ruang tengah terasa lebih dingin dari sebelumnya. Lantai yang tadi disapu tetap terasa dingin saat diinjak, seolah hawa dari bawah tidak pernah benar-benar hilang. Darma mengambil sarung dan berdiri menghadap kiblat, mencoba menenangkan pikirannya sebelum mulai.

Ia mengangkat tangan.

“Allahu akbar.” Baru saja takbir itu selesai— suara dari dalam kamar pecah.

“Panas! Panas…!”

Teriakan itu tajam, menusuk, membuat Darma langsung membuka mata. Kemala langsung menoleh ke arah kamar.

“Bu?!”

“Jangan sholat di sini, pergi!” suara itu kembali terdengar, lebih keras, lebih jelas. “Jangan ada yang sholat!”

Darma membeku di tempatnya.

Tangannya masih terangkat, tapi tubuhnya tidak bergerak.

Kemala langsung masuk ke kamar.

“Bu tenang, Bu,,,,” Tetapi yang ia lihat membuat langkahnya terhenti sejenak.

Wulandari sudah duduk di atas ranjang.

Cepat.

Terlalu cepat untuk orang yang tadi lemas. Matanya terbuka lebar.

Bukan kosong seperti sebelumnya.

Tetapi tajam.

Menatap langsung ke arah pintu.

Ke arah Darma.

“Jangan sholat,” ulangnya pelan, tapi penuh tekanan.

Kemala mendekat, berusaha menenangkan.

“Bu, tenang, itu Darma yang mau sholat Bu."

Wulandari tidak menjawab.

Tatapannya tidak berpindah.

Tetap ke arah Darma.

Seolah tahu persis apa yang sedang ia lakukan. Darma menelan ludah.

Kakinya terasa berat.Tetapi Kemala menoleh ke arahnya. Dengan suara pelan tapi tegas, ia berkata,“Lanjutkan.”

Darma ragu.

Hanya satu detik.

Lihat selengkapnya