SAMAR

Dewie Sudarsh
Chapter #7

Bab 6 : Ruang Rindu Di Dalam Rumah

Pagi ini terlalu tenang di rumah yang semalaman tidak mengizinkan Darma dan Kemala memejamkan matanya. Meskipun kepala mereka sangat penat, pagi harinya mereka menjalani rutinitas seperti biasa termasuk membersihkan rumah. Cahaya matahari masuk dari celah jendela, menyinari lantai ruang tengah yang semalam terasa dingin dan asing. Udara memang masih lembap, tetapi tidak lagi seberat malam sebelumnya. Suara ayam dari kejauhan mulai terdengar, disusul aktivitas kecil dari beberapa rumah yang masih berani membuka pintu.

Semua tampak normal.

Terlalu normal.

Kemala berdiri di ambang pintu kamar, memperhatikan ibunya yang sedang duduk di tepi ranjang. Wulandari tampak seperti biasanya—rambutnya disisir rapi, wajahnya memang sedikit pucat, tetapi tidak lagi menegang seperti semalam. Tangannya bergerak pelan merapikan ujung kainnya, dan sesekali ia menghela napas panjang, seperti orang yang baru bangun dari tidur yang cukup.

“Bu bagaimana rasa badannya, sakit?” tanya Kemala hati-hati. Wulandari menoleh, lalu tersenyum tipis.

“Lemes sedikit tetapi nggak apa-apa.”

Nada suaranya kembali seperti yang Kemala kenal. Tidak ada tekanan, tidak ada gema asing yang semalam sempat ia dengar. Kemala melangkah masuk, duduk di sampingnya.

“Bu semalam ibu ingat nggak?”

Wulandari mengernyit.

“Ingat apa?”

Kemala menatap wajah ibunya beberapa detik, mencoba mencari tanda-tanda—sekecil apa pun—yang menunjukkan bahwa ibunya tahu apa yang terjadi.

“Semalam ibu bangun terus makan,” lanjutnya pelan. “Setiap malam jam satu, ibu lapar setiap malam?.”

Wulandari langsung menoleh.

Ekspresinya berubah.

Bukan takut.

Tetapi bingung.

“Makan?” ulangnya pelan, seperti tidak percaya. “Masa iya, sejak kapan Ibu suka makan malam?”

“Iya, Bu, dari kemarin setiap malam ibu makan.”

Wulandari menggeleng pelan, bahkan sempat tersenyum kecil, seperti mendengar sesuatu yang aneh.

“Kan kamu tahu kalau Ibu tidak pernah makan malam, berarti yang kamu lihat bukan Ibu." Wulandari tersenyum, kali ini membuat Kemala menelan ludah.

Cara ibunya menjawab dengan bercandaan membuat Kemala bergidik. Kemala tidak melanjutkan pertanyaan. Ia tahu kapan harus berhenti. Kondisi ibunya belum stabil, dan memaksakan jawaban hanya akan membuat semuanya semakin tidak jelas.

Di ruang tengah, Darma sudah bersiap.

Ia berdiri sambil merapikan jaketnya, wajahnya masih menyisakan lelah dari malam yang hampir tidak ia lalui dengan tidur.

“Aku jemput anak-anak di stasiun dulu, Mbak,” katanya pelan.

Kemala mengangguk.

“Iya, hati-hati di jalan.”

Darma sempat melirik ke arah kamar ibunya, lalu kembali ke Kemala.

“Kalau ada apa-apa, langsung kabarin ya, jangan lupa telepon Satya suruh pulang sebentar, siapa tahu Ibu memang kangen Satya.”

“Iya.”

Darma tidak langsung pergi. Ia berdiri beberapa detik, seolah masih ragu meninggalkan rumah itu, melihat sekeliling, bayangan betapa hangatnya suasana rumah dulu membuat hatinya berdebar. Tidak mau berlarut dalam kenangan lama, Darma segera keluar rumah.

Pintu kembali tertutup dan rumah itu kembali sunyi. Kemala langsung mengambil ponselnya. Ia membuka kontak Satya. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya ia menekan tombol panggil.

“Ada apa Mbak?” suara di seberang terdengar sedikit terkejut.

“Satya kamu bisa pulang nggak, sebentar aja, Ibu Sakit, ini mbak sama mas Darma sudah di rumah.”

“Ibu Sakit? Lha sakit apa?”

Kemala tidak menjelaskan panjang, dia menghela napas panjang dan berat. Wajar kalau Satya tidak percaya ibunya sakit. Ibunya memang tidak jarang sakit, hampir tidak pernah sakit Ibu yang mereka kenal selalu menjaga kesehatan.

“Sempatin pulang sebentar aja, kamu lihat kondisi Ibu.”

Ada jeda di seberang sebelum akhirnya ada sebuah jawaban yang membuat hati Kemala Lega.

“Iya, Mbak. Aku pulang.”

Kemala menutup telepon. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasa sedikit lega. Menjelang siang, Kemala keluar rumah untuk membeli sayuran. Jalan desa yang biasanya tidak pernah benar-benar sepi, hari itu terasa berbeda. Udara masih sama, langit cerah, tapi suasananya seperti ditahan. Beberapa rumah terlihat tertutup rapat. Pintu-pintu kayu yang biasanya terbuka, kini terkunci. Jendela ditutup, tidak ada suara orang berbincang. Tidak ada anak-anak bermain. Tidak ada orang seliweran mau pergi ke kebun mereka, yang terlihat hanya jalan kosong dengan bayangan pohon yang jatuh panjang di tanah.

Kemala mempercepat langkahnya.

Dan di depan warung kecil, ia melihat seseorang yang dikenalnya.

“Ning?”

Rining menoleh cepat, seperti sedikit terkejut.

“Mala, kamu sudah datang. Aku kira cuma Darma yang datang, kok cepat?,”

Jawab Mala, wajahnya tampak pucat, tidak seperti biasanya.

"Iya aku langsung pesan pesawat pagi harinya setelah Darma pulang. Tungguin aku ya Ning, kita pulang bareng." Kemala menahan Rining yang sudah selesai membeli sayuran, Rining mengangguk. Tetapi, kepalanya tidak berhenti menoleh ke sekeliling seperti takut ketahuan seseorang. Wajahnya terlihat bingung dan gelisah.

Mereka berjalan pulang bersama, langkah mereka pelan, tetapi tidak terlalu santai. Melihat sikap Rining yang aneh Kemala akhirnya bertanya,

“Ning kenapa sekarang banyak rumah tutup?”

Lihat selengkapnya