SAMAR

Dewie Sudarsh
Chapter #8

Bab 7 : Ada Apa Dengan Ibu?

Suasana ruang tengah masih menyisakan sisa ketegangan dari ucapan polos anak kecil itu. Tidak ada yang benar-benar berani memastikan apa yang mereka dengar, apalagi membalikkan badan untuk melihat ke arah yang ditunjuk. Wulandari masih duduk seperti biasa, tersenyum tipis, seolah tidak terjadi apa-apa, sementara udara di sekitarnya terasa lebih dingin dari sudut ruangan lain.

Satya yang paling cepat mengambil kendali. Ia berjongkok di depan Rafa dan Rafi, berusaha meredakan ketakutan yang masih tergambar jelas di wajah keduanya. Tangannya meraih bahu mereka, suaranya dibuat setenang mungkin, seperti seorang dokter yang mencoba menenangkan pasien kecil.

“Sudah ya, nggak ada apa-apa. Neneknya di situ, aman,” ucapnya pelan. Namun mata anak-anak itu tidak sepenuhnya percaya. Tatapan mereka masih sesekali melirik ke arah belakang Wulandari lalu beralih lagi ke arah Mala, seperti ada sesuatu yang tidak bisa mereka abaikan. Satya menyadari itu, tapi ia memilih mengalihkan.

“Ayo main sama Om Satya. Tadi katanya mau main?” Perlahan, dengan sedikit paksaan yang dibungkus kelembutan, ia menarik keponakanya menjauh dari ruang tengah. Suara langkah kecil mulai terdengar lagi, diikuti tawa yang belum sepenuhnya lepas dari rasa takut, tetapi cukup untuk memecah kesunyian yang sejak tadi menekan.

Kemala memperhatikan dari kejauhan. Ia ingin percaya bahwa semuanya akan kembali normal. Bahwa semua yang terjadi hanya karena ibunya sakit, menahan kerinduan kepada anak dan cucunya. Tetapi setiap kali matanya tanpa sengaja kembali ke arah kursi tempat ibunya duduk, perasaan tidak nyaman itu muncul lagi—seolah ada sesuatu yang berdiri di sana, diam, tak terlihat, tapi nyata.

Malam turun perlahan, menyelimuti rumah itu dengan keheningan yang semakin pekat. Satu per satu, penghuni rumah mulai masuk ke kamar masing-masing. Istri Darma menggandeng kedua anaknya, menutup pintu kamar dengan pelan, sementara Wulandari juga sudah lebih dulu masuk, langkahnya tampak biasa saja, tidak menunjukkan tanda-tanda kejadian mengerikan yang mereka alami malam sebelumnya. Kini hanya tersisa Kemala, Darma, dan Satya di ruang tengah. Lampu menyala terang, tapi entah kenapa bayangan di dinding terasa lebih gelap dari biasanya. Satya bersandar di kursi, menghela napas panjang, lalu tanpa basa-basi berkata, “Mbak sama Mas itu terlalu panik.”

Kemala menoleh pelan. “Maksudmu?”

Satya menatap lurus ke depan, seolah sudah menyiapkan semua penjelasan di kepalanya. “Ini bukan hal mistis. Ibu itu sakit. Psikologis. Tubuhnya bereaksi karena pikirannya.”

Darma langsung mengangkat kepala. “Kamu lihat sendiri tadi, Dek. Itu bukan sakit biasa.”

“Itu bisa dijelaskan,” jawab Satya cepat, nadanya mulai tegas. “Orang yang stres berat bisa mengalami hal-hal seperti itu. Halusinasi, perubahan perilaku, bahkan kekuatan fisik yang tidak biasa.”

Kemala menggeleng pelan. “Tetapi ini bukan cuma perilaku, Satya. Kita lihat sendiri—perilaku Ibu itu aneh setiap tengah malam.”

“Itu karena kalian sudah percaya dari awal kalau penyakit Ibu itu mistis,” potong Satya, suaranya meninggi. “Kalian sugesti diri sendiri. Semua jadi terlihat aneh.”

Darma berdiri, emosinya mulai naik. “Terus yang makan tengah malam? Yang ngomong bukan suara ibu?Jalan ngesot-ngesot?”

Satya menatapnya tajam. “Itu bagian dari gangguan mentalnya, Mas. Bukan karena ada ‘sesuatu’ yang masuk ke tubuh ibu.”

Suasana kembali sunyi, tetapi kali ini dipenuhi ketegangan yang lebih nyata. Dua keyakinan berdiri berhadapan, sama kuat, sama keras. Kemala akhirnya menarik napas panjang, mencoba meredakan.

“Baiklah, kita coba cara kamu dulu,” katanya pelan. Darma menoleh, sedikit tidak percaya. “Mbak?”

“Tetapi dengan satu syarat,” lanjut Kemala, matanya kini tertuju pada Satya. “Kalau ibu belum sembuh juga kita cari cara lain.”

Satya menatap kakaknya beberapa detik, lalu mengangguk. “Iya."

Kesepakatan itu terasa seperti jeda sebelum sesuatu yang lebih besar datang.

Malam semakin larut. Jam di dinding bergerak pelan, setiap detiknya terdengar jelas di tengah rumah yang kembali tenggelam dalam keheningan. Tidak ada yang benar-benar tidur. Bahkan udara pun terasa seperti ikut menunggu. Dan tepat ketika waktu mendekati pukul satu dini hari— suara itu pecah.

Benturan keras dari dalam kamar, diikuti jeritan yang membuat darah terasa dingin dalam sekejap. Kemala dan Darma langsung berlari, disusul Satya yang kini tidak lagi terlihat setenang sebelumnya.

Begitu pintu kamar dibuka, gelombang bau yang menusuk langsung menyergap. Bau anyir yang pekat, seperti darah yang dibiarkan terlalu lama terbuka, memenuhi udara hingga membuat dada terasa sesak.

Wulandari tergeletak di atas ranjang, tubuhnya kejang hebat. Punggungnya melengkung, tangannya mencengkeram perutnya sendiri seolah ada sesuatu yang ingin keluar dari dalam. Matanya terbuka lebar, tetapi kosong, tidak mengenali siapa pun yang ada di sekitarnya.

Lihat selengkapnya