Samir

Oleh: Rafi Asamar Ahmad

Blurb

Tidak ada perusahaan yang berdiri hingga 200 tahun. Samri mungkin lupa tentang ini. Atau bahkan sama sekali tidak mengetahuinya. Para anak buahnya kali ini, benar-benar dibuat frustasi atas sikapnya yang minim apresiasi. Seakan apa yang dilakukan oleh mereka, anak buahnya itu. Semuanya salah di mata Samri.

Namun anehnya, ketika para anak buahnya dibuat kesulitan atas beban pekerjaan yang diberikan. Samri, ia justru tertawa terpingkal- pingkal. Bayangkan, Adang di hari pertama dia kerja. Ia harus menahan malu di depan caustemer. Beruntungnya, caustemer itu baik, ungkap Adang menghela nafas panjang.

Itulah Samri, demi menghibur dirinya. Ia membiarkan Adang seorang diri di rumah caustemer di Bekasi sana. Padahal Adang sudah mengatakan, ia tidak memiliki pengalaman sebelumnya di dunia otomotif. Jangankan ganti ban, ganti pentil saja masih harus dipandu terlebih dahulu. Hari itu, Adang seperti orang tolol di rumah caustemer. Ia benar-benar kebingungan. Tanpa tahu apa yang harus dia lakukan.

"Ku tinggal sendirian service ganti ban. Taunya, anak sialan itu! Semua body sepeda listrik dia buka." Samri tertawa lepas, di bawah penderitaan Adang si anak baru masuk itu.

Para anak buahnya; Eki, Evin, Ohan, Sahrullah, dan Lana ikut tertawa. Hanya saja, tertawa mereka bukan karena merasa terhibur. Tertawanya itu, tiada lain; hanya sebuah apresiasi, demi menjaga suasana hati Samir tetap bahagia.

Sepeti itulah Samri wataknya, dikarenakan minimnya apresiasi dari Samri terhadap para anak buahnya itu. Perlahan mencuat sebuah konflik vertikal yang menyerang pribadi Samri. Para anak buahnya mulai mencari celah, bagaimana mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dari perusahaan Samri. Lalu, mereka bergerak di bahwa tangan. Tentu, tanpa sepengetahuan Samri. Mereka menjual baterai bekas untuk kontrakan, menjual sperpate, dan membangun jaringan perdagang baru tanpa Samri ketahui.

Itu karena lingkungan kerja berubah menjadi toxic. Sesama para pekerja, mereka saling menggunjing, menjatuhkan, dan merusak nama baik satu sama lain. Semua ini mereka lakukan, demi satu; mendapatkan perhatian dan apresiasi dari Samri.

Sayangnya, konflik horizontal antar sesama para pekerja itu. Tidak mendapatkan perhatian serius dari Samri. Ia cenderung mengabaikan, dan sesekali ia terlibat menyudutkan, mengkondisionalkan situasi dengan aturan-aturan anehnya, dan yang paling menjijikan tiada lain; memaksa para anak buah untuk meng-imprementasi-kan, sebuah isyarat-isyarat yang dibuat olehnya. Hingga, salah satu anak buah Samri terpaksa resign.

"Dia pikir dia siapa? Tidak ada satu orang pun di dunia ini. Yang dapat kaya hanya dengan seorang diri. Itu artinya; keberadaan saya di sini. Bukan seekor binatang yang senantiasa dihinakan dengan mulut kotornya itu. Ada kontribusi cukup besar demi impiannya di dunia ini. Bahkan untuk menjadi seorang yang mulia sekali pun, ia memerlukan sebuah validasi dari orang lain, bahwa ia terhindar dari noda dosa. Tidakkah dia menyadari bahwa untuk mengoperasionalkan perusahaan ini, memerlukan banyak orang? Saya memilih untuk resign Lis." ungkap Lana kepada saya. Tentu, ia mengatakan itu pada sebuah saluran telpon. Sesaat setelah ia angkat kaki dari perusahaan Samri itu.

"Kenapa? Kenapa kamu resign?" Terakhir pertanyaan itu yang Lana dengar dari saya sahabatnya. Tapi Lana, ia enggan memberikan tanggapan. Ia memilih mematikan telpon, dan menyimpan tanya dalam benak ini, "Mengapa kamu resign Lana?"

Lihat selengkapnya