Samir

Rafi Asamar Ahmad
Chapter #1

BAB 1

AKHIR BULAN DESEMBER 2025, tepat satu bulan setelah Lana resign dari sini. Ia, Lana kembali menghubungi saya via telepon. Kali ini, perkataannya membuat saya takut. Lana ada bilang demikian, katanya; “seingat saya, dia pernah membagikan sebuah quotes, bunyinya seperti ini; 'Jika saya adalah seorang yang jahat. Maka selamatkan-lah diri anda.' Seperti itu bunyinya.” ungkap Lana di tengah jam istirahat, pukul 12:15 WIB.

Saya masih belum mengerti perkataannya itu. Maka saya membiarkan Lana menjelaskan, “Lalu?” saya penasaran.

Lana melanjutkan, “sayangnya, quotes di story instagram miliknya itu, saya yang membaca.” ungkapnya. Dan dari nada suara Lana! Ia seperti masih menyimpan sebuah luka dalam dirinya. Jelas, nada suara itu, membuat saya takut. Apa mungkin, itu keluar dari sebuah kekesalan tempo hari? Saya masih belum bisa memastikan.

“Lana kamu kenapa?” Saya hanya bisa menanyakan kondisinya. Namun perkataan Lana berikutnya, itu benar-benar membuat saya semakin takut. Ia bilang; “Ya. Bagi saya, kejahatan harus dibalas dengan kejahatan.” Lana nampak terdengar meninggikan nada suaranya. “Lana?” Saya ingin berusaha menyadarkan Lana. Karena sepertinya; Lana masih menyimpan luka itu.

Lana terdengar memuntahkan kesalnya; “Dan tingkatan kejahatan yang paling tinggi. Tiada lain; melenyapkan seseorang dari muka bumi ini.” ucapnya serius. “Jadi, maksud kamu?” Saya gemetar mengatakan itu. Perlahan, air mata tanpa saya sadari turut mengalir membasahi kedua pipi ini.

Tapi Lana tanpa keraguan dalam dirinya, ia mengatakan ini; “Dia harus segera mati.” ucapnya.

Kini, saya mulai paham. Siapa yang Lana maksud. “Sebenci itukah dirimu terhadap Samri?” gumam saya dalam hati. Dengan nada mulai tersedu-sedan, saya masih menanggapi Lana, “Jadi, selama ini kamu menyimpan dendam terhadapnya?”

“Iya Lis. Dan harusnya kamu memahami; bahwa ingatan terhadap rasa sakit itu. Baru akan hilang setelah puluhan tahun. Bertimbang terbalik dengan kebahagiaan Lis. Kebahagiaan hanya tinggal sesaat saja dalam hati.  Mungkin jika aku ceritakan sekarang, waktunya tidak cukup. Saya berikan saja document ini. Biar kamu baca sendiri, bagaimana membatunya kebencian ini terhadap Samri

“Lanaaa....” Teriak saya, berusaha menyadarkannya. Sayangnya, telpon itu telah ia matikan. ‘Tuuuttt....’

Mendengar kata ‘Mati’ dari mulut Lana. Saya hanya bisa menghela nafas. Pikir saya, satu bulan telah berlalu. Obrolan tidak lagi tentang hal itu. Tapi bagaimana memulai kembali hidup baru dan mengejar kebahagiaan. Tapi rupanya, ia masih menyimpan sebuah luka. “Apa yang dia kerjakan tanpa sepengetahuan diriku? Document apa ini, sebuah pdf?” gumam saya.

Seketika, kedua bola mata ini terperanga, selepas membaca sebuah judul dari document itu; ‘Samir’. “Hah, Samir?” ucap saya dibuat terkejut. Lana seperti tengah menyamarkan nama Samri menjadi Samir. Namun setelah document itu saya buka, raut wajah ini seakan menjadi pucat pasi. Seluruh darah dalam tubuh rasanya mendadak membeku; “Gila 500 halaman, sejak kapan dia nulis sebanyak ini.” gerutu saya, tidak menyangka.

Rasa penasaran pun mulai menjalar ke sekujur tubuh. “Apa isi tulisan ini sebenarnya? Sepertinya ini sebuah novel. Tapi kenapa dia membuat tulisan sepanjang ini? Saya berusaha menerka alasan Lana membuat tulisan itu. Saya mulai merasa tertantang untuk tahu isi dari tulisan Lana. Maka saya pun menyiapkan diri untuk masuk ke dalam cerita karangannya.

‘Terakhir Kerja’ saya membaca sub judul pertama dari tulisan Lana. “Apa jangan-jangan?” perasaan khawatir seketika muncul dalam diri ini. Mengingat, sahabatnya tadi mengatakan, “Samir harus segera mati.” Tapi saya berusaha menepis kekhawatiran itu. “Masa hanya karena tulisan ini, Samir mati.” Saya tersenyum tipis seperti sebuah lelucon dan mulai menenggelamkan diri ini ke dalam cerita karangan dari Lana, sahabat saya;

 

 

Document Samir Hal 1

Terakhir Kerja

“Si Samir bos kita, dia itu autis. Seperti punya dunianya sendiri. Iya gak sih? Gak ada angin gak ada hujan. Eh, tiba-tiba di grup whatsapp ada ngomong gini; ‘Kalau ada yang merasa penghasilan tidak worth it, atau tidak puas dengan....” 

Samir, dia adalah seorang pengusaha muda. Dan di usianya yang masih terbilang muda. Masih dua puluh delapan tahun usianya itu. Samir sudah memiliki penghasilan cukup fantastis. Keberhasilannya, mendirikan usaha jasa home service kendaraan listrik untuk area Jabodetabek. Membuat temannya, Roy. Saat masih kuliah dulu, merasa takjub.

Bagaimana Roy tidak merasa takjub? Ia tahu betul Samir. Semasa kuliah, Samir berangkat kuliah pun jalan kaki, ia sering tidak punya uang. Diberikan tumpangan, Samir kadang menolaknya. Alasannya; “Takut merepotkan.” Padahal, tujuan Roy baik. Agar sampai lebih cepat. Roy, awalnya menaruh kesal, “Belagu amat.” Namun seiring berjalannya waktu. Roy paham betul prinsip hidupnya Samir. Sehingga, Roy akhirnya tidak merasa tersinggung. Jika Samir berusaha menolak ajakannya. “Samir, tipikal orang yang tidak mau menyusahkan orang lain.” Roy berpandangan demikian.

Namun, sekarang ini, “gua merasa takjub dengan dia, si Samir itu.” gumam Roy. Sekarang! Dia ke mana-mana sudah tidak jalan kaki lagi. Ada kendaraan roda dua bersama Samir. Dan lucunya, “Ini sekaligus yang bikin gua, terbelangak.” gerutu Roy.

Bagaimana tidak? Deretan angka nol membuat sang pengangguran berteriak menggonggong seperti anjing pelacak milik brimob, “Uang, uang, uang; ini yang aku inginkan.” teriak Roy tertawa.

“Dikasih tau malah mumet.” celetuk Samir.

Roy mengakui ia salah. Ia sebelumnya nantangin Samir, katanya; “Ganteng... cek saldonya dong,” ucapnya menggoda....” Samir dengan senyum tipisnya yang khas. Mulai memperlihatkan isi saldo miliknya. “Wah, gilaaa... ini duit semua Mir?” Roy terkaget-kaget. “Ini tiga digit Roy.” Jelas Samir. “Wah, ini gilaaa sih....”

“Gila! Padahal, loe dulu! Megang uang goceng aja jarang ya kan?” Roy ketawa.

“Ya, semua ini proses.” tandas Samir.

Di tengah, Samir dan sahabat lamanya bercanda ria di sebuah kontrakan. Di tempat lain, masih di bumi Pertiwi ini. Para anak buah Samir! Yang telah ia sebar ke tiga titik berbeda; Jakarta, Bogor, dan Bekasi. Mereka pun tidak mau melewatkan untuk melempar tawa. Apakah itu di atas sepeda motor atau bahkan di rumah caustemer. Seperti kedua anak buahnya Hasrullah dan Maulana.

Keduanya ditugaskan ke Jakarta. Sebagaimana schedule yang telah dikirim Samir di grup whatsapp tadi malam. Begitu pun dengan karyawan yang lain. Biasanya, sebelum berangkat ke rumah caustemer. Malamnya, satu per satu nomor caustemer dihubungi. ‘Malam pak, ini dengan home service sepeda listrik. Kira-kira kapan bisa dilakukan pengecekan?’ kira-kira isi whatsapp ke caustemer seperti itu.

Hari itu, Hasrullah dan Maulana berangkat ke sebuah perumahan elit di Jakarta Selatan. Keduanya, begitu senang. Alasannya; kendala sepeda listrik caustemer itu mati. “Jelas ini pasti baterai kendalanya.” celetuk Hasrullah. “Iya sih, kalau kendalanya mati gitu, pasti baterai.” tambah Maulana. “Tinggal, siap atau tidaknya ganti baterai.” lanjut Hasrullah sembari tertawa. “Ya, semoga aja. Lumayan bisa makan enak. Bisaaa kali? ‘all you can eat.” sambung Maulana. “Tentu bisaaa....” jawab Hasrullah sambil menarik pedal gas sepeda motor itu.

Sesampainya di perumahan yang dituju. “Asli ini ke sini?” gumam Maulana. Kedua bola matanya terpana; rumah agreng berjajar rapi. “Mau ada perlu apa?” tanya seorang satpam perumahan itu. “Ini mau servise sepeda listrik.” Kata Maulana. “Ada kartu identitas?” lanjutnya. Hasrullah menyerah kartu tanda penduduk (KTP) miliknya. “Ok, nomor rumahnya?” kata satpam itu. “Erourop 2 no. 14D.” sahut Maulana. “Lurus, belok kiri. Lurus mentok; lalu belok kanan.” ucapnya mengarahkan.

Laju sepeda motor pun menuju ke arah nomor rumah itu. “Kapan punya rumah ke gini.” Maulana sedikit berangan-angan. Dan sepertinya bukan hanya Maulana yang akan merasa takjub. Deretan rumah itu, memiliki design modern. Bentuknya megah dua lantai, jendelanya besar-besar, ada ukiran unik berbalut cat keemasan, dan sepertinya; di dalam rumah itu. Ada banyak Ace Conditioner (AC) nampak pada dinding tembok di luar, menempel kipas. Tapi di mana para penghuni perumahan ini? Kemegahan, memungkinkan seseorang menciptakan ruang privasi yang aman, pikir Maulana.

Tak berapa lama, keduanya pun sampai di rumah yang dituju. “Sepertinya, ini rumahnya.” ucap Hasrullah menghentikan laju motor. Maulana, mulai menghubungi pemilik rumah itu. Ia, ingin memastikan; “Pak ini sudah di rumah.” Isi whatsappnya demikian.

Sebentar menunggu balasan, pemilik rumah itu membuka pintu. “Tunggu, saya keluar.” balasnya.

Pintu rumahnya terbuka. Maulana dan Hasrullah menghampiri pria itu. Perawakannya, nampak begitu tegap. Tubuhnya terlihat berisi, ada kaca mata melekat pada wajahnya. Pria itu, sudah terlihat menua. Ada cukup banyak uban di kepalanya. Tapi diperkirakan usia dari pria itu, baru 48 tahunan.

Tapi siapa yang akan menanyakan usia pria itu? Hasrullah dan Maulana segan untuk pertanyaan demikian. “Ini dengan pak Stiven?” tanya Maulana menjabat tangan pria itu. Pria itu, dengan ramahnya menjawab, “Iya betul.” pria itu menyambut jabat tangan Maulana.

“Ya. Ini saya Maulana kami dari home service kendaraan listrik.” kata Maulana memperkenalkan diri. Pemilik sepeda listrik itu, nampak senang. katanya; “Ya, ini sepeda listriknya.” Terlihat, sepeda listrik itu berwarna merah. Terparkir di depan rumah. Maulana mengamati, ada tertulis; Uwinfly T27 merek sepeda listrik itu.

“Baik pak Stiven... Ini, kalau boleh tahu kendala lebih jelasnya seperti apa?” tanya Maulana, sebagaimana pertanyaan serupa kepada caustemer yang lain.

Pak Stiven berusaha menjelaskan, katanya; “Jadi gini ya; sepeda listrik ini, sudah lama tidak digunakan. Kayanya ada deh lima atau enam bulanan. Eh, sekarang pas mau digunakan tiba-tiba mati. Gak nyala sama sekali.” jelasnya.

“Oh, begitu ya. Kalau kondisinya seperti ini. Kemungkinan besar baterainya sih pak. Mau kami cek terlebih dahulu pak?” tanya Maulana.

“Oh, gitu. Ya, cek lah silahkan.” sahut pak Stiven.

Hasrullah pun setelah mendengar itu. Ia mulai bergegar membuka satu per satu baud yang menempel menggunakan obeng mawar. Mengeluarkan baterainya dari dop pijakan kaki di depan. Di dalamnya ada empat baterai, berbentuk persegi panjang. Hasrullah paham kapasitas baterai ini, satu baterai 12 voltase (VOLT). Jadi kalau empat baterai 48 voltase tegangan yang dihasilkan. Itu sudah di luar kepala Hasrullah.

Hasrullah, mengecek baterai itu menggunakan tester baterai awalnya. Tapi ternyata, kondisi baterainya benar-benar mati. Jika sudah seperti ini, tidak ada data keluar dari alat itu. Tidak ada presentasi berapa persen untuk kesehatan baterai, energi, arus listrik yang dihasilkan, dsb.

“Waduh, ini benar-benar mati ya pak.” kata Hasrullah.

“Mungkin kita coba pakai multi tester.” ucap Hasrullah.

Hasrullah mulai menseting multi tester itu, memindahkan jarumnya ke tegangan 200 volt, menempelkan kabel merah ke positif dan kabel hitam negatif. Tak lama, keluar angkat 5.2 volt, begitu pun dengan baterai kedua; 6.3 volt, 5.4 volt baterai ketiga, dan terakhir 5.2 volt.

“Ini pak Stiven, kendalanya memang ada pada baterainya.” ucap Maulana. “Voltasenya sudah turun, normalnya sih di 12 voltase.” Jelas Maulana.

“Oh, seperti itu ya. Kalau problemnya kaya gini, itu gimana solusinya?”

“Ya, kalau problemnya seperti ini. Solusi terbaik ya harus ganti baterai pak.” ungkap Hasrullah.

“Oh, gitu. Mas Maulana bawa baterainya?”

“Kebetulan engga pak. Tapi kalau mau ganti sekarang, nanti dikirim dari gudang. Paling nunggu beberapa lama.” jelas Maulana.

“Oh, gitu ya, temannya yang nganterin nanti?”

“Bu-ka-n p-ak...”

Lihat selengkapnya