Dira menatap layar ponselnya cukup lama.
Satu pesan.
Hanya satu.
Namun entah mengapa, pesan sesingkat apa pun terasa jauh lebih berat ketika datang pada waktu yang salah.
Jemarinya hampir menyentuh layar.
Berhenti.
Mundur lagi.
Ia meletakkan ponsel di samping sajadah.
“Tidak sekarang.”
Dira menarik napas panjang.
Mungkin besok.
Besok, ketika pikirannya sudah lebih tenang.
Ketika hatinya tidak sedang terlalu mudah mengingat.
Ia berdiri, melipat sajadah, lalu meletakkannya di tempat semula.
Ponselnya kembali bergetar.
Dira menoleh.
Kali ini bukan satu pesan.
Panggilan masuk.
Nama seorang teman terpampang di layar.
Dira menghela napas.
“Ya Allah... jangan sekarang, please.”
Panggilan itu berhenti.
Beberapa detik kemudian, masuk satu pesan.
Kamu belum tidur?
Dira memejamkan mata.
Temannya memang selalu punya kemampuan aneh untuk muncul pada waktu-waktu yang tidak tepat.
Ponsel kembali bergetar.
Dira?
Ia akhirnya mengangkatnya.
“Apaan?”
Suara di seberang terdengar mengantuk.
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Baru selesai shalat.”
“Jam segini baru selesai?”
Dira melirik jam dinding.
Sudah hampir pukul tiga.
“Iya.”
“Terus kenapa suara kamu kayak orang habis nangis?”
Dira terdiam.
“Ngantuk.”
“Halah.”
Dira hampir tertawa.
Hampir.
Namun suara temannya kembali terdengar.
“Dira.”
“Hm?”
“Jangan bilang kamu masih mikirin dia.”
Dira tidak menjawab.
Hening beberapa detik.
“Dir...”
“Aku nggak mau bahas itu.”
“Justru itu masalahnya.”
Dira duduk di tepi tempat tidur.
“Masalah apa?”
“Kamu selalu bilang nggak mau bahas. Tapi setiap kali ada sesuatu yang mengingatkan kamu sama dia, kamu diam.”
“Aku baik-baik saja.”
“Kamu selalu bilang begitu.”
Dira tersenyum tipis.
Kalimat itu terdengar familiar.
Terlalu familiar.
“Aku memang baik-baik saja.”
“Kalau baik-baik saja, kenapa kamu belum tidur?”
Dira terdiam lagi.
Ia tidak punya jawaban.
Sebab ada beberapa hal yang memang tidak bisa dijelaskan hanya dengan dua kata: aku baik-baik saja.
Di luar jendela, langit masih gelap.
Dan untuk sesaat, pikirannya kembali kepada layar ponsel yang tadi menyala.
Pesan itu.
Ia belum membukanya lagi.